Surplus Air

Kamis, 17 Januari 2013 adalah Hari Perjuangan Melawan Banjir.
Sebetulnya sih sudah sejak Selasa 15 Januari lalu, tetapi sempat terhibur karena Rabu pagi air sudah surut sehingga malamnya selepas pulang kantor aku bisa berjibaku membersihkan benda cair itu dari rumah. Thank God, meski selesai pukul 23.20 (plesmin) aku seneng banget karena artinya Kamis pagi rumahku sudah normal kembali (pikirku waktu itu).

Rasanya tulang belulangku lepas satu2, tapi aku bersyukur karena aku selesai jam 11-an malam adalah juga hasil ma2 bantuin dr jam 3 sore abis pulang dari rumah Mbak Erni. Coba kalo bener2 mulai dari nol & aku baru mulai abis pulang kerja … Gak kebayang deh!!!

Rasa senangku gak bertahan lama saat indra pendengaran ini mendengar bunyi2an yg selanjutnya aku lihat sebagai Hujan. Ya Jam 12-an malam (tepat dini hari) hujan mulai turun kembali bergentayaangan di bumi pertiwi. Memang gak deres tapi intensitasnya sering bo! Aku yg cuapek bengets lantaran sebelumnya kerja rodi bersihin banjir, hanya berpikir “Gak lah paling gak masuk”, walauuuuu dari lubuk hati yg paling dalam, from the deepest of my heart … “Jangan – jangan … banjir menyapa kembali”, karena gk boleh nutup mata meski rumahku sudah kering namun rumah tetanggaku yg datarannya lbh rendah belum surut.

Aku juga sempat menampik berita yang sebelumnya aku tonton disela-sela kegiatan mengusir banjir bahwa Bendungan Katulampa sudah Siaga 3.

Setelah banyaknya gempuran hujan hingga kira2 pukul 3 pagi, Banjir … sekali lagi menduduki rumahku!!!
Ya Allah Pliiiisss …. Belum juga selesai tulang2ku bersatu kembali lantaran cuapek nian membersihkan rumah semalem, kini aku harus mengikhlaskan kepergian kebersihan rumahku karena banjir dateng lagi…
Layaknya lagu, suasana hatiku seperti judul “Semua jadi Satu”
Mulai pasrah, sebel, kecewa, penat, gregetan, gondok, n penyakit “radang hati” tiba2. Antara pasrah dan sabar jadi gak beda! Tinggal dimixer deh semua rasa hati yang bila dijadiin kue, rasanya cukup mewakili derita seorang Korban Banjir!

Tak sedikitpun banjir berbaik hati agar tidak meninggi, namun dgn angkuhnya tuh aer malah menjadi – jadi. Sungguh Tak Berperi-airan!!! Tuh Banjir dari awal datang sudah berniat jelek!

Eh eh eh  Aku Lupa … Bukankah Aku sudah berikrar bahwa Aku, Erlina Febrianovida harus mutlak kudu musti Besar dari Masalahku?!@#$%
Yes, there is a problem, but it’s never enough to stop Me.

Aku lupa bahwa segalanya adalah atas ijin Allah
Aku lupa bahwa segalanya adalah Netral
Tinggal permainan hati bagaimana kita menyikapi segala yg kita terima
Aku juga lupa bahwa Hal buruk, tidak enak sekalipun tetap memiliki poin positif yg sama banyaknya dengan Hal Baik!

Ya Allah, Forgive me yah___________
Harusnya aku ngeh, ini adalah bentuk Firman-Mu lainnya, bahwa bersama kesulitan ada kemudahan dan aku juga lupa bahwa yg aku terima adalah beban yg masih bisa aku pikul karena setiap yg aku dapat adalah sesuai dgn kemampuanku seperti juga statement-Mu

Aku lupa bahwa kau adalah Tuhan Yang Tidak Bisa …. INGKAR JANJI (Thank God masih nyantol juga memorinya soal ini coz statement khusus baris ini adalah kata Om Mario Teguh)

Alhasil, ya sutralah aku mulai bisa hidup berdampingan dgn air sepanjang hari ini (semoga sampe hari ini aja). Aku mulai bertegur sapa dgn banjir. Betapa setianya ia karena kemanapun kaki melangkah, maka air dengan tenangnya menempel dikaki hingga pahaku!!!!! Walau ini bukanlah penampilan perdana banjir di rumahku, tapi tetap saja ia masuk dalam daftar hitam hal2 yg tidak diinginkan semua orang, so do I!

Setidaknyamannya ia bernama banjir, tapi tetep punya hal baik (wek, menghibur banget ya statement-nya hehehe), meski demikian aku menilai banjir adalah banjir! Aer yg dgn semena – menanya merenggut kebersihan dan mengusir paksa barang2 di rumah dr persemayamannya dan meminta semua pihak menggeser barang2 yg tidak ringan volumenya!
Belum lagi derita moril & materil. Contoh aja ya, gara2 banjir aku pengennya ngemil mulu, jadi banjir adalah salah satu penyebab pundi2 dompetku hilang sebelum waktunya! (maksa abis)
Terus lagi aer yg gak mungkin bening, menyebabkan luka kaki yg cukup perih (baca:kutu aer), ditambah aku yg pengennya pipis mulu gara2 kedinginan. Karena semakin seringnya aku pipis tentu menambah volume air dan tingkat kontaminasi zat2 yang tidak menyehatkan diluar “benda2” lainnya yg turut serta memeriahkan air banjir!

Well, Astagfirullah... statement2 diatas berisi informasi keluhan melulu ya! padahal aku juga tau bahwa Mengeluh adalah Sikap mempromosikan lemahnya diri! Ayo … Bangkit Bangkit!

Banjir...Banjir… Duka bagi mereka yg kau renggut keutuhan benda2 di rumahnya, tapi bisa jadi tawa senang bagi mereka yg lain. Kaulah juga maka byk ojek dadakan yg laku, atau mereka yg menawarkan jasa pengangkutan motor lantaran barikade penuh yg kau buat di jalan2!

Banjir juga pengingat bahwa kita murni makhluk sosial, butuh sodara, tetangga buat ngangkat sofa, kursi, tipi, kasur, dll … dan Jasa Angkut mereka itu Gratis sobat, Free of Charge lo!

Akhir kata, Banjir adalah “pesan” yg diijinkan Allah buat Aku, Mereka, dan Kita, agar arif berdampingan bersama ciptaan-Nya yg lain, menyusuri koridor-Nya agar tetep ber-ending Apik.

Dengan segala atributnya, Banjir, Allah jadikan alat kebaikan, karena mungkin (dan pastinya buat aku) kebaikan yg aku garap jauh dari Cukup.

Dari Banjir aku memahami hal lain, bahwa orang yg lembut hatinya bisa juga jadi sangat berbahaya. Air itu Lembut, Lembut Banget tapi kalo sedikit ya... dan sangat membantu seperti untuk mandi, minum, nyuci, dan kegunaan lain dalam segala aktivitas kehidupan.
Tapi tidak lagi membantu kalo Airnya banyak + kenceng! Jadi Banjir, Air Bah, bahkan Tsunami yg seperti lagunya Ratih Purwasih “Jangankan mengirim surat, menitip salam-pun harusnya tuh air tak boleh!

Oleh karenanya Lembut Hati tentu dianjurkan & mutlak hadir untuk hal baik, tapi untuk hal2 diluar prinsip kebenaran, Lembutnya Hati harus sudah bertransformasi menjadi Tsunami, khususnya bagi diri sendiri agar tetap Berperilaku Baik & Santun.

Selalu ada hal baik dalam hal buruk yg sama banyaknya saat mendapat hal Baik, ya seperti Banjir ini, yg gara2 dia juga aku ngebersihin bagian2 rumah yg biasanya saat aku nge-pel aku lewatin hehehe....

Allah hanya ingin menginformasikan kembali bahwa banyak juga hal2 baik termasuk waktu & tenaga yg terlewat tanpa punya kontribusi apapun untuk membaikkan diri mmmm…

Jakarta, Kamis 17 Januari 2013,
Bertepatan dgn Banjir & Listrik padam, disertai dgn kondisi dompet yg isinya tinggal seribuan…

Erlina Febrianovida

Pict Source : dreamstime.com 

Komentar

  1. Jadi inget banjir kemaren... macet dimana-mana...
    sukses terus mba erlina untuk blognya..

    BalasHapus
  2. @ Dion
    Terimakasih ya brow atas kunjungannya. Sukses juga untuk agan :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer