Minggu, September 21, 2014

Mensukseskan Kegagalan?

Setelah membaca postingan dari Bpk. Supardi Lee (saya tau dia pertama kali via Sindo Radio yg kala itu masih bernama Trijaya FM lewat program Mutiara Pagi sekitar jam 5) lewat web buyanur.com, saya sadar kebiasaan gagal ternyata masih lekat dlm diri ini nih hehehe .... (PD sepenuh jiwa:))
Melalui tulisannya ia mempublikasikan bahwa perilaku gagal ada dalam tindakan Mencari Alasan, Pembenaran, Menyalahkan, Menunda, dan Mudah Menyerah

Banyak dari kita beralasan untuk tidak mengerjakan apa yang seharusnya bisa lebih mendekatkan pada tujuan, karena dari keluarga kurang mampu-lah, modal-lah, banyak kekurangan-lah, dan dalil lainnya sebagai format berdalih bahwa substansinya menyematkan kegagalan seutuhnya dalam kehidupan kita. Parahnya dalil2 versi alasan tersebut dikemas sebagai pola wajar pembenaran, seperti sebagian yang bilang “ya terang aja dia bisa ngomong gitu, orang kerjaannya cuman ngomong n nulis doang”, “Wajarlah dia mahasiswa berprestasi lawong mpok-nya aja rektor disitu” (lah apa korelasi logisnya), dan jajaran kalimat pembenaran lainnya yang bila diakui kasat mata justru tidak benar dan bukan vonis kita sehingga tidak maju!

Sikap lain yg merupakan indikator gagal juga ada pada perilaku menyalahkan. Siapapun, apapun, dimanapun, bagi pribadi yang mudah menyalahkan bisa dianggap sebagai bentuk yang sah dan meyakinkan menggagalkan upaya ia untuk sukses. Padahal bila dipahami benar maka diri kita adalah satu2nya penanggung jawab atas kualitas hidup kita ini. Bukan karena bos yg suka marah2, bukan karena keluarga yg tak mendukung, bukan lingkungan yg tak kondusif, dan bukan juga elemen kehidupan lain yg tak ramah

Gagal juga mudah ter-unduh bila kita menunda dan mudah menyerah. Ini sangat logis karena menunda berarti tak ada yg dikerjakan, dan dengannya tak ada langkah maju untuk sedikit lebih dekat dengan goals yang kita gadang. Demikian juga sikap mudah menyerah, nah kalo yang ini tak perlulah detail panjang x lebar karena kita terbiasa mendengar mereka yang patah arang merasa “disisihkan” Allah sebagai pribadi yang tidak pantas mendulang sukses, padahal kan memang sesuai Janji-Nya bahwa Dia akan menguji hamba-Nya to? Dan masih sesuai Janji-Nya pula bahwa ujian dalam jenis apapun tidak mungkin diijinkan-Nya melebihi kemampuan kita. Dia Maha Mengkalkulasikan sehingga pasti apa yang Ia berikan sebagai format ujian kepada Hamba-Nya sudah terukur. Allah bermaksud meng-ijabah doa kita (termasuk doa untuk sukses), hanya saja kita sebagai Hamba-Nya sering salah mengerti atas jawaban-Nya dalam bentuk ujian yang dimaksudkan justru menaikkan kelas dan membahagiakan kita ending-nya

Disini saya ingin tambahkan bahwa ada satu lagi nih perilaku yg bisa menghebatkan kita untuk Gagal, yakni Mengeluh. Capek lo melihat dan mendengar individu yang terbiasa mengeluh, karena yang ia utarakan seputar keluhan dan betapa tak indahnya Ni’mat Allah yang hingga didetik ia mengeluh masih ia kecap!  (tepok jidat saya :))

Saya sendiri tak memungkiri apa yg Pak Supardi Lee sampaikan adalah kualitas bibit mulia yang mumpuni menjadikan jiwa sbg Pribadi Berkelas, tapi tidak mudah bo hehehe. Namun demikian fakta membuktikan bahwa tak ada Pribadi Berkelas tanpa punya Perilaku Mulia Level Atas, sehingga bila pilihan sukses ada dalam agenda hidup maka sudah dipastikan kita bersikap konsisten memantaskan diri untuk menerima sukses yang kita inginkan via Sikap, Perilaku, Tindakan baik yang disegerakan

Tidak Mudah? Yup, karena kalo Mudah every body has it. Klise kedengarannya, Malas, dan “Kalo ngomong mah semua orang bisa"@#!$?%&*:) Benar juga, tapi coba deh sedikit merenung ... Kalau memang bertujuan baik serta menjadi Rahmat bagi alam dan semesta, lantas kenapa menyegerakan tindakan baik harus dinego sih???   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Imunisasi Guin : MR @RSBK

Bismillah, Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh Alhamdulillah, Sabtu 04 Agustus 2018 lalu, Guin di usia 9 bulan (kurang bebera...