Pribadi Besar itu Santun

Masih dalam proses masalah yang cukup memberatkan pundak, Alhamdulillah saya masih diperkenankan-Nya ketik sana ketik sini (maaf jadi sekilas curhat nih hehehehe)

Anggun, Santun, Berkelas, Berpendidikan, Mature, dan kategori kata sifat baik lainnya ternyata masih kerap tak ada dalam jiwa atau pribadi besar (sebentar ya saya ngaca dulu karena saya juga masih tidak se-dewasa yang diharapkan wkwkwkwk)
Tulisan ini memang sengaja saya tuangkan terkait masih cukup gaduhnya di MedSos soal Ahok vs FPI. Eits... tapi tulisan saya tidak ber-destinasi berat sebelah loh ya, karena saya tidak ada dalam kubu manapun. Intinya saya berpihak pada prinsip kebenaran

Hanya saja ada satu hal yang super duper penting dalam peristiwa tersebut dan sangat perlu dilestarikan agar pribadi2 berkelas seutuhnya tidak punah, Aamiin
Pelajaran penting itu adalah bahwa siapapun, dimanapun kita, Sikap Santun itu mutlak ada! Baik Lisan maupun Tulisan titik
Maaf ya tapi harus jujur saya sampaikan bahwa saya kurang sreg dan menilai minus pribadi yang dari lisannya saja tidak santun cenderung kasar versi barbar walaupun niatnya baik tingkat dewi! terlebih terucap dari pribadi besar, entah strata 1,2, atau 3, Pejabat Teras, Gubernur, Wakil Gubernur, Pemuka Agama, atau aktivis agama dan mereka2 lainnya yang level pendidikannya sudah kelas kakap

Pliss ah, sekali lagi santun itu dipakai dimanapun, kelas apapun, dan siapapun kita. Dengan Sikap Santun orang lain akan lebih ‘nrimo pesan kita. Sayang kan maksudnya baik tapi karena sikap lewat bicaranya tidak santun orang menjadi tidak respect? (boro2 mau ter-persuasi)

Santun bukan kelas biasa tapi luar biasa, penggunanya pun seyogya-nya Unlimited tak hanya pejabat melainkan dipakai juga rakyat biasa, hanya berpulang ke masing2 individu apakah mau santun atau kasar?. Santun adalah juga cerminan diri, seberapa Elegan-kah keanggunan kita bahkan disaat kondisi terburuk sekalipun, dan Santun tidak instant karena bukan sifat yang ujug-ujug ada, tapi Santun adalah Kebiasaan pribadi besar (Sekali lagi K-e-b-i-a-s-a-a-n). Tentu tidak mudah santun bagi mereka yang mungkin sering atau dari  kecil sudah terbiasa kasar baik diksi atau lisannya.

Jadi sudah gak heran kan kalau ada salah satu petinggi negeri ini santun “meter”nya dibawah kelas Petani yang tiap hari membajak sawah? (Tepok Jidat)

Terimakasih dah mampir, sampai jumpa di artikel selanjutnya yah :)

Komentar

Postingan Populer