Bersih - Bersih Inefisiensi

Bahasan ini harusnya sudah saya publish senin lalu, berhubung dewi2 kemalasan lebih kuat mantranya jadi baru sekarang deh selesainya hahahaha, banyak jalan menuju ngeles :). Okay lanjut yah .. 

Salah satu upaya konkret guna mendukung Good Governance memang memangkas hal2 inefisiensi  yg hanya memberatkan negara. Nah 4 desember yg lalu nih Presiden Joko Widodo approved lewat Kepres perihal pembubaran 10 lembaga non struktural yang dinilai masuk dalam jajaran pemborosan negara :), IngsyaAllah menyusul 40 lagi lainnya (tentu pake cara cermat yah :))

Saya ambil dr halaman setkab.go.id, berikut versi lengkap 10 lembaga yg dibubarkan :
  1. Dewan Penerbangan dan Antariksa Nasional
  2. Lembaga Koordinasi & Pengendalian Peningkatan Kesejahteraan Sosial Penyandang Cacat
  3. Dewan Buku Nasional
  4. Komisi Hukum Nasional
  5. Badan Kebijaksanaan dan Pengendalian Pembangunan Perumahan dan Pemukiman Nasional
  6. Komite Antar Departemen Bidang Kehutanan
  7. Badan Pengembangan Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu
  8. Komite Aksi Nasional Penghapusan Bentuk – Bentuk Pekerjaan Terburuk untuk Anak – Anak
  9. Dewan Pengembangan Kawasan Timur Indonesia
  10. Dewan Gula Indonesia
Secara seksama n kasat mata saya tetep blm pernah tau sih ke sepuluh2nya :), jadi maklum kenapa 10 lembaga tersebut perlu dibumihanguskan, ya karena dalam pandangan saya lembaga2 tersebut tidak pernah terdengar hiruk pikuknya dlm belantara pemerintahan, atau mungkin anggaplah saya yg kuper x yah hihihihi. Baru tau juga kalo Gula itu ada dewannya atau yg lebih gak populer lagi yakni Lembaga no. 8 tuh, phew... nulisnya gak cukup satu helaan nafas. Para Menteri aja kadang masih lupa, gak tau namanya siapa, atau tau muka gak tau nama vice versa, apalagi lembaga yg biarpun udah disingkat masih nyerimpet spelling-nya masbro xixixixi

Entah saya yg awam gak tau detail fungsinya atau emang lebay lembaga tersebut ada?! tapi saya setuju bingits bila dibubarkan soale saya melihat ada yg masih bisa masuk ke departemen yg sudah terbentuk di pemerintahan semisal Komite Antar Departemen Bidang Kehutanan kan bisa masuk ke Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan atau Komisi Hukum Nasional yg bisa nyelip ke Kemenkumham, lainnya... mmm gak tau juga departemen mana yg relevan hehehehe, namun saya berkeyakinan bahwa lembaga2 tersebut basically ada dlm ranah departemen2 yg sudah ada (cielah PD banget), and my opinion nih tinggal menyoal management-nya saja yg dibenahi or ditata agar menjadi wadah yg maksimal, penjawab masalah2 yg belum terselesaikan atau berkembang di masyarakat (enak ya ngomongnya). Maksudnya sih biar gak dikit2 bentuk lembaga anyar yg rawan overlap dgn yg sudah ada lo...,

Sepaham dengan Pengamat Kebijakan Publik (Bpk. Riant Nugroho), tentu inefisiensi bisa bertebaran kemana – mana bila lembaga2 disengajakan ada or dibuat oleh oknum (whoever yah), bukan duplikasi lagi namanya tapi lebay tingkat dewa bok!, bila sudah demikian plus tumpang tindih ya kan negara juga yg rugi, ya biaya, waktu, SDM juga, dan kita2 sebagai pengguna terakhir ini! Lumrah kan saya beranggapan hal itu turut menambah panjangnya list birokrasi yg harus di tempuh (tepok jidat), eh dah rahasia umum kan bila birokrasi kita memang masih pake rumus panjang x lebar a.k.a lama cuy :)?  

Apalagi nih saya selanjutnya menyimak dari Bpk. Hartono (Direktur Konservasi Kawasan Kemenhut) bahwa lembaga non struktural tersebut (dalam hal ini untuk yg lembaga berbau kehutanan diatas) tidak membuat kebijakan melainkan berfungsi sebagai koordinasi dan rekomendasi, sehingga gak ekstrem juga saya katakan berlebihan karena bila perkara rekomendasi maka sebenarnya pula tak ada urgensinya dibentuk dewan baru, dan menyoal itu bisa memanfaatkan staff ahli yg ada di masing2 departemen terkait via Tim Analisis  

Memang, penghapusan lembaga yg istilah alaynya “gak penting gitu loh” menimbulkan dampak seperti Pengalihan Pegawai dan soal anggaran, tapi sekali lagi senada dengan Pak Riant bahwa Efisiensi Anggaran merupakan salah satu poin sangat baik dalam Good Governance yg saat ini Indonesia masih jungkir balik bangun, maka dengan dipangkasnya banyak lembaga yang masih bisa disinergikan dgn yg sudah ada otomatis banyak pundi2 negara yg bisa dialokasikan untuk hal2 manfaat lainnya to? Belum lagi ini turut menekan peluang korupsi .

Soal pegawai tentu pengalihannya disesuaikan / disetarafkan, toh PNS tetep PNS statusnya meski dipindah sana sini kan? (mohon koreksi bila ada istilah yg salah nih). Kalo soal anggaran, detailnya saya juga ndak paham (maaf) karena kepres ini memang baru ada saat bahasan ABPN pasti sudah case closed to? Namun saya yakin solusi tetap ada karena ini kan juga menyangkut baiknya negara kedepan

Penutupnya, apapun yg memberatkan negara layak dibabat, hanya saja pertimbangan mekanismenya tetap tersedia yah, dalam case ini transisi menjadi penting karena mungkin saja diantara lembaga tersebut ada yg sudah terlanjur bekerjasama dgn pihak lainnya yg bila ujug2 diputus maka ada masalah baru. So, Audit Kelembagaan dirasa baik dalam hal ini untuk tau lebih rinci lembaga tersebut penting untuk melanjutkan progress yg sudah ada atau bisa langsung ditebas karena sebelum dibubarkan idealnya sih proses ini ada dan berjalan sehingga apik seluruhnya

Yuk lebih berkontribusi untuk bangsa ini, dalam bentuk apapun! Mudah2an bangsa ini fokus terus pada upaya yg hanya baik bagi pertiwi tercinta, Aamiin ...

Erlina Febrianovida

Komentar

Postingan Populer