Kamis, Februari 19, 2015

yang Takut pada-Nya yang Jaya Pahalanya

"Sungguh, mereka yang takut akan Tuhannya, meskipun mereka tiada melihat-Nya. Bagi Mereka ampunan dan pahala yang besar”
Al Mulk (67:12)
Assalamualaikum Temans,
Alhamdulillah Ar Rozzaq masih memberi rezeki sehatnya pada kita semua ya, mudah2an bisa kita maksimalkan dalam mendulang berkah dari-Nya, Aamiin ya Salam

Anyway, maksud hati menyenggol ayat diatas berawal dari kegaduhan pada portal berita beberapa hari lalu soal “Ayam Kampus” . Eits sebelum larut dalam meng-hisab-i dosa dan aib orang lain Alhamdulillah dikasih tamparan bahwa saya juga bukan pribadi suci! Tiap hari, eh tiap nafas malah, masih aja ada dalam diri ini yg masih belum baik, masiiiih aja salah melulu, dari ujung kepala sampe kaki :-(. Ada sebagian dari kita yg keburukannya terungkap dan ada yg Allah tidak ijinkan terungkap. Itu dia kenapa diri kita masih bisa di cap cukup baik oleh orang2 yg kita kenal lantaran Allah tidak / belum tunjukkan aib kita saja. Syukur setiap hari adalah juga Allah masih ijinkan kita tidak tergigit aib kita sendiri lewat orang lain, mohon dimaknai utuh ya sobat, yang itu artinya supaya kita fokus pada perbaikan diri sendiri lo :-)

Soal “Ayam Kampus”nya temen2 bisa cari kisah lengkapnya di site yg lain yah, karena tulisan ini ndak ada muatannya meng-otopsi amalan orang lain, justru sebaliknya dari peristiwa itu maka tulisan ini ingin menjadi reminder dan sejalan dengan Firman Allah diatas bahwa banyak dr kita basically sering lengket dengan sifat “Hipokrit”, termasuk yang nulis ini loh ya. Apa yg dimaksud? Hehehe sebenarnya pula tak ada maksud kita sengaja Hipokrit tapi sometimes kita gak ingat Al Kholiq jadilah begitu

Takut pada Allah adalah salah satu bentuk Fanatik kita pada-Nya disamping ibadah fisik seperti sholat, shaum, zakat, sedekah, umroh dan haji bulak balik, serta aktivitas wujud keimanan lainnya.
Yup tapi dilain tempat, waktu, ataupun peristiwa (ini ngomong apa sih xixixi) banyak jiwa yg bersamaan masih juga mengerjakan aktivitas penurunan Iman yg lain... hhmmm...., disadari ataupun tidak. Nah kalo soal korek mengkorek keburukan yg hanya berfungsi menurunkan Iman gak usah disebutin lah ya jenis2nya, lawong yg nulis ini aja masih bejibun belepotan dosa, gak ngaca namanya :-)

Itu dia temans kenapa Takut masuk dalam barisan Rahmat Allah, karena salah satu fungsi Takut adalah selain kita menjadi pribadi yg konsisten aware terhadap kemungkinan buruk, juga sebagai “bogem” untuk diri supaya tindakan yg memajukan Murka Allah tidak kita eksekusi!. Paling tidak kalo mau bertindak diluar Islami ada nurani yang masih bawel mengatakan “eh kalo mau maksiat cari gih tempat yang Allah gak Lihat” ... lah belahan sudut bumi manakah yg Allah gak Tau secara Allah itu Masih, Selalu, Always listening, understanding, and seeing guys

Jadi inget waktu saya masih sekolah menengah dulu, saya mewakili sekolah saya untuk lomba Pidato tingkat Kotamadya dan tema yg diambil adalah “Tantangan Zaman”. Saya sibuk tuh cari bahan2 yg bisa ndukung statement saya nanti di podium. Selain bahan yg saya collected, terlintas saya ingat pula obrolan dengan teman saya soal Sholat yg ternyata teman saya itu gak tau kalo sholat 5 waktu hukumnya Wajib sodara – sodara. Jadi teman saya mengaku ndak tau bila sholat 5 waktu itu wajib karena dalam keluarganya sholat bukanlah prioritas kehidupan (red: tidak mendirikan sholat), jadilah teman saya beranggapan bahwa hukumnya ya bukan wajib hhhmmmm. Dan itu membuat saya berkesimpulan bahwa tantangan untuk tetap stay pada koridor Islam justru lbh banyak dr diri sendiri, seperti tidak ber-ilmu, Malas, Tidak mau cari tau, Menunda, dll yg hanya menurunkan “meteran” iman. Dan dari situ pula saya pahami bahwa peran keluarga adalah hal primer yg mendukung banyak supaya kita kontinyu deket pada Al Malik. Gimana mau menghadapi dunia luar kalo inner-nya aja rapuh. Gimana mau kekeuh pada nilai Islami bila jiwa masih goyang sana sini labil hati. Eh gak nyangka konten itulah yang mengantarkan saya jadi first place di ajang lomba itu mewakili Jakarta Barat (statement terakhir ini jangan dimasukin soale cuman intermezo hehehehe #kenangan-so-sweet)

Takut pada Allah adalah bagaimana kita tepat dalam pilihan baik yg bermuara pada “senyum”-Nya. Ya bagi saya itu pilihan. Soal “Ayam Kampus” itu misalnya, saya berkeyakinan yg bersangkutan tau soal hukumnya, hanya saja dia tetap memilih yg Islam tidak pernah benarkan, dan itu sudah final pilihannya. Salah jalan masih mungkin bisa diluruskan tapi tak bisa lagi kita memaksa orang yg memang memilih beda jalan. Bila upaya mengingatkan sudah dimaksimalkan dan ia tetap pada pilihannya maka kita hanya bisa hormati tanpa kita ikutan, dan tak perlu juga main kata2an, mengingat diri masih banyak buruknya. Kadang kita lupa, atau tak sadar bahwa dosa yang terlihat “tak tampak” pada diri mungkin juga punya bobot yg sama besar-nya yg dilakukan terang2an oleh orang lain. Riuh-nya kehidupan juga mengingatkan bahwa Takut pada-Nya ternyata masih jadi komoditas langka dalam lisan, sikap, dan perilaku... yg padahal... dalam ruku’ dan sujud selalu gak absen mention “Hidupku, matiku, hanya untuk Allah”

Nyatanya, Takut-nya kita pada Ar Rahman masih maju mundur maju mundur belum cantik (PD jiwa raga), Soul ini memang lebih sering turunnya dari pada naiknya soal Iman. Tentu sesempurna Rasulullah jauh dari mampu, tapi sebagai insan yang oleh Ar Rahiim agar menjadi pengisi kebaikan, maka kita wajib saling nasehat – menasehati dalam kebenaran dan saling nasehat – menasehati dalam menetapi kesabaran (eh ini sih beda ayat, tapi gak apa yuuaaa... kan masih nyambung xixixixi #maksa)

Takut pada hal buruk yg meng-Invite marahnya Allah bisa jadi bukan lagi hal yg ditakutkan karena sudah terbiasa dan lumrah pada yg buruk. Takut pada kemiskinan bisa jadi hal yg gak penting ditakutkan karena terbiasa Malas.Tidak Takut pada Kebodohan juga bisa dianggap “woles ajah” karena gak lagi berminat dgn Derajat yg Allah beri bagi yg ber-ilmu!

Yuk mulai dari solusi tingkat ringan yg bisa kita maksimalkan dgn bertanya pada diri sendiri bila kita dihadapkan pada tindakan yg ragu soal baik buruknya seperti “berani gak ya aku kerjain ini?” Tanyalah dasarnya Berani apa? karena uangnya banyak-kah? dan dasarnya Takut apakah juga? karena Allah melarang..., silahkan memilihnya. Atau gak harus juga dgn kalimat seperti itu tapi pake statement senada seperti “kira2 Allah ACC gak ya kalo aku kerjain ini?”
Saya yakin banget kok bila hati terbiasa dgn Iman yg sesungguhnya pasti akan inpo-in yg bener, bahkan saat kita sudah di jalan salah-pun sebenarnya hati masih nyuruh agar berbalik ke jalan yg Allah suka, I bet, hanya saja bila kita terbiasa sering mengabaikan yg baik maka next episode otomatis tak perlu bawa hati krn semangat baik dalam hati surut cenderung padam Nur-nya

Terlihat simple yah solusi-nya, Tapi sumpah gak mudah loh itu. Kenapa? Karena selain sudah terbiasa gak bawa hati, kan setan juga selalu punya ayat supaya kita takut pada hal baik yg akhirnya gak dikerjakan dan gak takut pada Ar Rahman kan? Jangan lupa bahwa setan itu punya peribahasa leluhur “banyak jalan menuju neraka” huft...

Yang masih vokal dalam gelimangan dosa seperti diri saya ini masih terus ditunggu tobatnya karena Allah masih kangen melihat hamba-Nya sujud sesenggukan dalam ketakutan sesungguhnya pada Dia. Mudah2an kita menjadikan jiwa ini terus pada upaya baik yang Allah rindukan ya temans, Aamiin
Mohon maaf bila ada kalimat atau bagian yang menyinggung, sungguh segala kebaikan hanya milik Allah sepenuhnya

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Sumber Gambar : Google Image

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Imunisasi Guin : MR @RSBK

Bismillah, Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh Alhamdulillah, Sabtu 04 Agustus 2018 lalu, Guin di usia 9 bulan (kurang bebera...