Minggu, Mei 10, 2015

Kontrol Euforia Bersua Teman Lama

sumber gambar : dreamstime.com
Assalamualaikum All Pren,
Alhamdulillah Yang Maha Berkehendak masih sudi menghadiahi satu lagi hari ini guna perbaikan diri utamanya hati. Moga kita semua disetia-i Rahmat dan Ampunan Ar Rahmaan yah, Aamiin Yaa Rahiim... Sambil menunggu Izrail datang sudah seharusnya kita disibukkan dengan aktivitas yang hanya membawa kita dalam pelukan damai-Nya...

Jumpa dengan kawan yang sudah lama banget gak ketemu dan akhirnya pada suatu kesempatan berjumpa baik itu teman waktu jaman masih "piyik" (istilahnya) dia itu tetangga, teman sekolah, bahkan teman khusus untuk nge-bully kawan2 yang cupunya tiada tara, lalu masing-masing karena meneruskan cita2nya yang dicita-citakan meski gak harus jadi seorang penyanyi seperti Cita Citata akhirnya terpisah oleh ruang dan waktu (Cieeeeee ....) tentu sangat menyenangkan yah.

Detik berikutnya.... 
"eh dia itu temen aku yg dulu kalo ngambek nyabutin pepohonan"
"eh dia itu teman ane yang waktu di play group ane taksir"
"MasyaAllah, dia itu kan..., dulu itu dia enggak banget en cupunya seluruh alam deh, hebatnya.. dah jadi pembicara publik dia"
"OMG, cakep banget sekarang... padahal waktu kecilnya gw tau banget lalat aja mikir2 nemplok di kulitnya, eh sekarang Yaa Allah Yaa Kariim Dian Sastra Bahasa aja lewat dah qiqiqi..."
Dan eh eh eh yang lainnya...

Saat jumpa lagi dengan kawan tersebut memori yang sudah lama diam lalu hadir dan segala tentangnya dan kita yang dilalui bersama seolah jadi "weapon" mengulang kembali kebersamaan, dari mulai yang konyol, yang 'ndablek, yang lutcu, yang nyebelin, yang malu2in, sampe yang miris, dan cekakan. Semuanya tumplek blek di-mix jadi satu, seger kembali ba' segelas Es CapCin. Tanpa berpikir lagi teman kita "saat ini" itu pribadi yang seperti apa, kita sudah tenggelam dalam lautan kesenengan karena kita PD Maksimal dia pasti se-gila kita juga saat bersua.

Sampai akhirnya kita hampiri dia dengan segenap jiwa raga dan seluruh tumpah darah Indonesia, sambil menggebu-gebu, pun "menganggap" dia seramah dan se-humble saat kita masih bersamanya dulu .... Eng ing eng... dan dia ... yaaa biasa ajah pemirsah

"Oiya? Mmmm kaya'nya yah"
"Ooo gitu hehehe"
"Aku gak begitu ingat sepertinya....", 
dan rentetan kalimat lain disertai gesture yang sama sekali jauh panggang dari api keceriaan...

Lalu akhirnya kita menyadari bahwa kita hanya jadi bagian dari masa lalu kawan kita itu karena gurat pertemanan yang dulu pernah ada saat ini sama sekali tak tersisa dan nyaris tak terdengar ...

Ya, sebagai pribadi yang pernah menyantap Ilmu Komunikasi (halah ...) saya sangat memahami bahwa manusia itu Karya Al Maliq yang salah satunya disematkan sifat Kedinamisan, beda dengan misalnya Candi Borobudur yang anda temui 10 tahun lalu dengan yang saat ini pasti sama yakni sebagai fisik yang diam, membatu, legam, dan sederet sifat kebendaan yang mati. Ini bukan soal tampilan candinya ya kawan karena bisa saja tampilannya lebih kotor atau semrawut bahkan bopak di sana sini akibat tangan para pengunjung, tapi yang saya maksud adalah sifatnya yang kebendaan sebagai benda mati yang tidak berakal, tidak bernafsu, dan tidak punya rasa kehidupan.

Nah manusia? Jelas tidak demikian! gak usahlah nunggu 1 atau bahkan 10 tahun lagi, lawong beberapa menit kemudian aja bisa bulak balik beda pemikirannya. That's a human. Maka idealnya kita-pun dinamis dalam melihat seorang pribadi yang masa kini bukan yang lalu tapi kita juga harus cakap dalam menjadikan masa lalunya sebagai referensi kita bersikap.

Waktu bisa membuat seseorang berubah, baik soal pemikiran, mindset, attitude, karakter, dan fisik #gembil #overweight #chubby #kurus #lebihputih #dll. bila dulu teman kita ramahnya gak ketulungan jangan samakan saat ini dia demikian, bila kawan kita itu dulu galaknya juara maka jangan samakan ia segalak dulu (walau bisa saja lebih gualak qiqiqi...), atau bila kita yakin sobat kita itu dulu cablak-nya tiada banding-nya lantas memastikan dia saat ini se-cablak yang kita kenal dulu. Jangan lupakan siapa dia saat ini pren.

Waktu yang ditapaki oleh seseorang pasti digarap yang ending-nya mampu menghasilkan kelas pribadi seseorang, bisa naik atau jadi turun kelas dari kelas kehidupan sebelumnya, dan bisa sama juga alias yah biasa-biasa aja atau disebut gak neko-nekolah. Mungkin dulu dia anaknya cablak dan gak pinter-pinter amat... eh ... saat ini dia seorang pejabat eselon yang gak mungkin kan cablak atau se-ember yang kita kenal dulu karena ada citra yang harus dijaga. Barangkali saat ini teman kita sudah dalam lingkup sosialita yang temen-temennya limited edition setaraf Syahrini padahal dulu dia hidup kekurangan bahkan seragam sekolahnya aja istilah kata kering di badan. Boleh jadi juga kawan kita saat ini profesional level atas dan karenanya dia menarik diri dari hal-hal atau orang-orang yang tidak manfaat (versi-nya) untuk dunia-nya padahal dulu serampangan orangnya.

Eh kaya'nya aku berburuk sangka yah? Maaf sobat bukan poin itu yang jadi titik berat saya menuangkan tulisan ini, gak ada tendensi ke arah sana pula kisanak :-), karena boleh jadi juga kawan lama kita itu masih seheboh bahkan hebringnya gak masuk akal lebih dari kita ramahnya saat ini. Tapi sebagai penulis yang perduli lingkungan (Ya ampyyuunn ini appaa cobbaa...) saya hendak menyampaikan bahwa bersikaplah sewajarnya terhadap apapun or siapapun yang kita ketahui punya sifat dinamis #manusia. Sewajarnya artinya bersikap imbang. Ya memang tidak semua orang bakalan heboh juga bila bertemu teman lama, saya tujukan tulisan ini utamanya bagi mereka yang kalau bertemu kawan yang sudah lammmaa banget gak ketemu eh lupa lautan dan daratan :-)

Bayangkan yah kita sudah heboh banget terhadap perjumpaan dengan teman lama kita itu eh dianya seperti yang sudah saya uraikan diatas, hambar en biasa ajah masbro mbaksist! kan malu kaya' semut digigit gajah yang dirasa!. Padahal maksudnya kita bukan mau nemplok di pundak suksesnya dia, hanya karena bahagia bisa ketemu memori, feeling friendship yakni teman waktu masih belum terkontaminasi apapun... dan eh saat ini ada di depan mata, sukses pula!

Sadari bahwa Kelas Kehidupan #status baru seseorang mampu membuat pribadi lupa "status" lamanya dulu. Pahami tidak semua orang yang bergulat dengan waktu masih bisa menerima segala memori masa lalu yang hadir kembali. Mengertilah perubahan apapun baik plus minus-nya seseorang memang umum terjadi dan tidak boleh mengharuskan sesuai dengan maunya kita. Ingat pula tidak setiap orang menganggap bagian manis atau positif dari masa lalunya "wajib" dibawa untuk saat ini, sehingga bisa jadi kita termasuk yang tidak di-carry #ditinggalkan, jadi saat ada kembali ya bukan apa-apa juga baginya, kan sudah lalu, kan waktu jaman kecil dulu bla bla bla ..., bukan sesuatu yang penting bila hadir kembali .... even itu positif.

Lantas bila sudah terlanjur Shy-Shy-in (malu-malu-in karena dia ternyata tidak respect) gimana say? ya gak perlu hubungi dokter gan tapi segera hentikan hal-hal / sikap yang gak hanya bikin dia jadi annoying terhadap kita tapi juga bikin kita dikecualikan keberadaannya. Bertutur dan bersikap seperlunya tapi tetap jadi diri yang santun. Langkah selanjutnya pastikan dalam diri kita bahwa mau kondisi apapun kita saat ini dan nanti tidak berubah untuk hal yang baik, yang positif, justru ditambah poin plus-plus-nya. Dan langkah jitu lainnya jangan lupa sematkan selalu sikap Baik Sangka, baik pada teman kita itu, dan utamanya binggo pada Al Khaliq. Tidak ada satupun yang telah terjadi diluar ijin-Nya. Allah perkenankan kita bertemu dengannya pasti deh punya maksud yang Allah ingin kita unduh faedahnya meski ada keki-kekinya hehehe... Anggap saja mungkin pekerjaannya sibuk tingkat nirwana sehingga abai dengan kita, mungkin masalahnya berat dan memangkas perhatiannya untuk ber-akrab ria lagi dengan kita, atau kondisi dia saat ini yang gak pas timing-nya saat kita muncul, misalnya lagi dikejar-kejar dateline, istrinya mau lahiran, tunangannya berpaling pada wanita lain, etc... jadi baik sangka saja bahwa ada faktor lain teman kita begitu dan bukan sejatinya sifatnya demikian :-).

Tapi gimana dong bila pekerjaan atau ke-profesional-an kita menuntut kita Jaim atau meminta kita gak pecicilan alias petakilan Lin? hehehe ..., Jaim dengan muatan positif bagi saya itu harus kok karena Citra Diri yang baik adalah kesan adem bagi sesama dan idealnya tak hanya sampai pada penampilan semata tetapi berlanjut pada tingkah laku yang mumpuni baiknya juga loh. Jadi Jaim boleh dong ...? ya boleh saja tapi pastikan itu Bukan Sombong atau Angkuh terhadap teman yang pernah mengisi manisnya duka dan tawa kita... even itu dulu!. Benar itu sudah lalu, tapi Ar Rahiim kan suka dengan silaturahmi yang bukan hanya dalam ranah retorika semata tapi menjadi tenteram dan berkasih sayang terhadap sesama termasuk teman, kawan lama kita. Beda loh feel jaim, profesional, menjaga citra dengan yang memang angkuh, sombong, enggan, atau mengabaikan sesama!

Mudah-mudahan ada yang bisa dipanen ya sobat dari tulisan ringan tapi cukup panjang ini :-). Sungguh segala kebaikan yang ada dalam blog ini karena Allah masih ijinkan saya sampaikan, sedangkan dari saya hanya celah-celah kekurangan dan cacat karena masih compang-camping amalannya.

Have a Great All the Days Guys, May Al Malikul Mulk Loves us, Aamiin Yaa Haliim... 


Sumber Gambar : dreamstime.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Imunisasi Guin : MR @RSBK

Bismillah, Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh Alhamdulillah, Sabtu 04 Agustus 2018 lalu, Guin di usia 9 bulan (kurang bebera...