Sabtu, Juni 13, 2015

Kematian, sebuah Kepastian yang sering Minim Persiapan

Assalamualaikum kisanak semua, 
Seneng banget ya kala Al Wahhaab masih menghujani dengan kesehatan jiwa en raga yang tak mungkin sia - sia semata bahwa masih diberinya kita hidup di dunia berarti Al Bashiir masih ingin melihat kita Sujud pada-Nya. Anyway hitungan hari Ramadhan bertandang, muga2 aja saat dia datang Allah masih menggelontorkan stok waktu buat kita2 ini, Aamiin Yaa Ahad... :-)

Alhamdulillah minggu lalu, 07 Juni 2015 saya diberi kesempatan Al Barri bersua dengan seorang kawan dalam taman Jannah yang dipandu oleh Al - Ustadz Aan Chandra Thalib hafidzahullah. Bertemu dengan seorang akhwat yang awal kenalnyapun lewat DuMay tak nyangka juga. Tapi itulah dia salah satu tanda Al Khaliq bahwa siapapun dia, kita yang mengupayakan kebaikan sudah pasti diganjar buah yang baik pula walau harus saya stressing disini balasan bisa saja tak segera namun Ar Rahiim gak ada agenda lumpuh ingatan dalam mengingat sahaya-Nya yang banting tulang dalam ragam kebaikan menuju pelukan-Nya.

Judul yang dikupas oleh Ustad Aan adalah "Menanti sebuah Kepastian". Dan tau gak waktu judul itu landing dalam layar mobile saya maka responsif saya menanggapinya "aduh.. aku bangeddsss God" karena langsung saya kaitkan dengan delik Asmara #eeeaaaa, Single itu mah gitu ya jangankan judul ceramah yang nyenggol soal Imam en Makmum lawong liat sendal butut berpasangan aja rasanya jealous binggooo wkwkwkw (ini sih kaya'nya saya seorang ya kawan).

Dan disitu saya merasa lebih paham bahwa apapun makanan dan minumannya masing - masing kita hakikatnya memiliki titik yang sama yang justru sama-sama pula tak memasukkan dalam pencapaian kehidupan karena memang tak jarang dari kita sering lupa bahkan sebagian lainnya merasa soal "Perjumpaan dengan Al Malik" tak perlu-lah diberi atensi, dan akhirnya tak ada dalam barisan cita-citanya karena "merasa" tak penting untuk dicita-citakan #halah. Padahal yah .... 

"Barangsiapa yang mencintai pertemuan dengan Allah, Allah pun mencintai pertemuan dengannya, dan barangsiapa yang membenci pertemuan dengan Allah, Allah pun membenci pertemuan dengannya" 

Kematian itu misteri tapi pasti. Ia datang menghampiri tanpa invitasi. Mencoba bernegosiasi dengan Izrail pun tak bisa karena ia tunduk terhadap Al Muhyii. Sayang, segala hal tentang cabut - mencabut nyawa, jiwa terpisah dari raga, usia yang tiba - tiba tak ada nyata - nyatanya masih belum menjadi Penasehat Kehidupan seutuhnya. Kematian bukan perkara nyawa direnggut "jleb" lantas "Eng Ing Eng... tarrraaaa.... Haiii....Aku sudah Wafat.....!" tapi ini perkara persiapannya karena sungguh ada kehidupan lagi setelah kematian. Nah disaat kita "hidup" dalam alam itulah apa sih yang sudah kita bawa dari dunia ini? boleh jadi kita sangat Fakir disana kan&$*&(%)*%????? (Moga2 enggak ya kawan, Aamiin...)

Kesadaran mengingat pemotong kelezatan bernama Kematian berarti pandai beraktivitas dalam kehidupan yang hanya fokus pada Al 'Azhiim. Makanya gak lebay ya sob kalau Rasulullah mengumumkan poin Kecerdasan adalah mereka yang mengekang dirinya dari hawa nafsu dan mengamalkan apa yang bisa dijadikan sebagai "pasokan" setelah kematian.

Saya sih belum pernah kenalan dengan Abu Hurairah R.A ya gan, tapi ke-shalehan-nya ituloh sudah mampir di indera pendengaran saya dan banyak penduduk dunia dimana salah satunya beliau menangis saat menunggu Izrail "namu" karena ia mengingat betapa perjalanan menuju Al Malikul Mulk itu jauh disertai bangets sedang ia merasa amalannya sedikit. Jiiiiaaahhh ckckckck.... kalo sahabat Rasulullah aja bilang "merasa" amalannya "sedikit" gimana saya dan kita2 ini yang meskipun unyu2 tapi amalannya kan masih lebam - lebam??? #eeaaaa..., Rasulullah en sobat2nya ajah yang upload amalan langsung ke Al Khaliq bilang "sedikit" gimana yang suka upload "ke-shalih-an" lewat sosmed ya? Cukuplah si Rakib dan 'Majikannya" ajah yang tau amalan ngaji, saum, or sholat kita aja dan tak perlu mendarat di timeline....,

"Alhamdulillah sudah doa dalam sepertiga malam....bla bla bla..."

Hehehe... Ibadah itu intern dan inheren antara seorang Jiwa dengan Pencipta-Nya, jadi alangkah cakep en baiknya cukup Yang Maha Apapun ajalah yah yang tahu.... No Offense yuuaaa :-). 

Orait balik lagi..., Tahu akan "berpulang" merupakan lagu lama yang semua warga planet ciptaan Al Jabbar Tahu! baik yang taat atau sesat, yang baik atau buruk, yang merasa cukup atau selalu mengeluh kurang. Tapi menyadari Perjumpaan dengan Allah itulah yang banyak gagal paham! Iiihh kalimat ini tuh gak sopan banget! Masa' ngomongin yang nulis!!!!. Lah terus apa dong Lin solusinya? Yah ditanya gitu saya merasa sedih.... Ya iyalah masa' sahaya-Nya ini yang berpeluh dosa sok nyeramahin. Hihihi... Sama2 saling mengingatkan yah kawan. Saya gak ada tendensi menggurui karena saya siswi yg belum pinter2 soal kehidupan, tapi boleh ya saya sharing yang saya tahu tapi sering saya abaikan pemahamannya #hhhmmm sudah kuduga... Kenalagi kan yang nulis....?.

Baiknya setiap muslim en muslimah memang kudu-nya punya waktu untuk menyendiri / men-tadabbur-i / merenungi / bermuhasabah apa sih yang sudah kita punya untuk kelanggengan kehidupan di akhirat? berawal dari sinilah idealnya mulai lisan terjaga, sikap khusu'nya jadi lebih tersedia, serta hanya amalan Al Wahiid oriented aja yang diutamakan ada. Ya sebenarnya boleh juga sih kita simpang - menyimpang jalan bahkan berleha - leha atas ni'mat waktu dan sehat yang An Nafii' beri seperti yang pernah Jibril sampaikan pada Rasulullah, 

"Hiduplah sesuka hatimu, atau cintai siapa saja yang ingin dicinta...."

Tapi kalimat itu harus di"bendel" oleh kepastian yang pasti pas bahwa pasti yang bernyawa akan berpulang dan yang dicinta akan kita tinggalkan mau sesuka-sukanya or secinta-cintanya kita!. Dan mulai dari titik ini seharusnya sadar "dunia mah apa atuh..." lawong seperti sabda Rasulullah dalam sebuah Hadits Dunia en Akhirat itu ibarat mencelupkan jari ke dalam samudera maka sangat sedikit air yang ikut saat jari terangkat, nah yang keangkat sedikit itulah namanya Dunia, kecil benong yah :-P.

Dan salah satu soal tadabbur - mentadabburi atau bermuhasabah dalam Pemahaman Allah oriented adalah meluangkan Waktu anda spesial buat As Syakuur, coba dulu 15 menit buat ngobrol serius tapi santai jangan lupa pake sopan santun pada Al Lathiif. Yah Lin kelamaan 15 menit!?, Ya udah kalo gitu 30 menit deh hehehe.... bisa sebelum aktivitas pagi atau menjelang bo2. Terus apa aja yang diobrolin sama Allah?, ya boleh harga cabe di pasaran sampe soal bensin yang ilang dari peredaran #jjjiiiaaah. Apapun boleh asal penting menuju rasa kesyukuran. Cukup satu aja dulu say gak usah banyak2 soale kalo ngomongin ni'mat Allah semua gak bakalan cukup berhari-hari or berwindu-windu. Contoh :

"Yaa Rahiim trims berat ya hari ini sudah memberi lagi sehat. Tapi sumpah kerjaan dirumah beberes kok gak kelar2 sih, sampe kapan aku beresin rumah mulu?"
Disitulah kemampuan syukur kita diuji karena setelah itu sobat harus cari pembandingnya. Contohnya? 

"....hhhmm capek sih beberes rumah, tapi mau gak biar gak capek ngurus rumah? Maaauuuu? Gih sana bobo aja sama yg gak punya rumah, yang dikolong2 jembatan or deket selokan, gak usahlah mikirin nyapu, ngepel, lap2 perabot....mau dibarter begitukah? Capek beberes rumah kan pertanda kita masih punya rumah juga kan? Mau gak capek ngeberesin rumah ya enaknya jadi orang yang gak bisa or gak punya rumah, ngeluh macet berkendara? ya enaknya gak usahlah punya motor or boil tapi jalan kaki ajah. Gak puas dengan makanan yang terhidang di atas meja? ya kalo gitu jadi seperti mereka2 aja yang dalam sehari belum tentu bisa makan apa! Hei... disitu seharusnya kita berpikir betapa Sayangnya Al Hafizh masih gak "ngebakar" rumah kita, masih Rahmah-nya Al Muqiit mau memberi kita kendaraan or sandang bahkan pangan yang kita masih dimampukan to? Meski nyata-nyatanya kita asyik selenong boy mengeluhkan.... Silahkan diaplikasikan dengan aktivitas yang lain ya :-)

Kok gak nyambung Lin sama Kematian? Yah capek bin cepak deh :-D, itu hanya salah satu pemeliharaan agar kita mengingat utuh pada Allah, kita gak pernah tau kan saat2 "pulang"? Nah kalo sudah terbiasa melakukan itu IngsyaAllah terbawa bahkan saat lampu merah di perempatan jalan raya-pun ingat. "Yah lampu merah lagi" eh jangan2 lampu merah ini sengaja Allah kasih ke aku agar saat tiba di rumah pas menyeruput takjil #eeeaaa (Sahur belom tapi dah ngomongin bukanya). Jadi moga saat detik-detik Izrail "tok tok tok" kita pas sedang dalam memikirkan-Nya, aduuuhhhh Aamiinnn ya kawan :-), (Tapi soal didatangi Izrail-nya ya jangan sekarang yaa Rahmaan, abis saldo-nya masih secuprit....)

Tentu ini diluar ibadah utama lain ya kawan yang hakikatnya saat sudah merenung pada-Nya secara murni akan ada kontinuitas mengingat-Nya otomatis, baik lewat ucapan atau perilaku en sikap. Jadi tanggap sholat karena sudah tertanam dalam hati prinsip "eh bisa aja 5 menit lagi malaikat rahmah dateng pake kereta kencana..". Cepet inget "eh ini kan maksiat, gimana kalo pas begini Izrail nyamper?" Buru2 deh meninggalkannya :-).

Yang nulis ini kok suci bener? Hehehe justru yang nulis ini gak di-publish aja aib-nya sama Allah, coba Allah ikutan status macam netizen soal aib yang nulis ini? Waduh... bisa lebih pusing dari pala Ebi sob, jangankan baca, nyebut nama diriku saja sudah enggan dirimu hihihi...

Saya dan anda sobat, tak satupun dikecualikan-Nya, sumpah deh. Hanya seringnya masalah kehidupan "disini" ternyata sanggup membuat diri amnesia bahwa ada kehidupan lain yang seharusnya tak sekedar ingat tapi seharusnya diberi label VVIP (Very Very Important Place) dalam Ruang Hati yakni persiapan  satu tempat saat nanti hanya akan ada "Aku dan Tuhanku"... yang kala itu Dia akan tanya...

"Apa Kabar kamu di dunia-Ku?" 
Apa jawabanmu....???

(Yang nulis ini sok tau yah....padahal dia sendiri lembar jawabannya masih se-coret....)

Mohon maaf lahir batin kawan :-). Yang nulis ini cuman "debu" dunia, jadi maklum maafkan saja...., karena hanya seorang Fakir dalam amalan tapi tak malu berharap Jannah pada Ar Rahmaan...

Wassalamualaikum :-),
Erlina Febrianovida

Meme Source : From a Friend, Rir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Imunisasi Guin : MR @RSBK

Bismillah, Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh Alhamdulillah, Sabtu 04 Agustus 2018 lalu, Guin di usia 9 bulan (kurang bebera...