Ujian Usia

"Dan sungguh akan Kami uji (iman) kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar."
QS. Al-Baqarah (2) : 155


Assalamualaikum all, Alhamdulillah Yang Satu-Satunya Pencipta, Kuasa, dan Maha Segalanya Mengijinkan lagi kita bersua via tulisan ini meski dalam belantara maya yang mudah-mudahan mengangkut nilai - nilai kebaikan, Aamiin Yaa Hamiid.
Tiap hari sudah seharusnya ada harapan dalam lilitan doa bahwa Dzat Yang Gak Ada Dua-nya itu masih "mau" memeluk jiwa-jiwa ini dalam rahmat, ampunan, dan keberkahan Aamiin Yaa Rahiim.

Tulisan ini sudah lama nge-tem dalam draft blog saya kurleb sebelum Ramadhan tiba hehehe #UdahSalahPDenSombongPula :-P, dan sekitar beberapa hari lalu 2 orang teman saya secara gak kompakan seolah mengingatkan dengan cara yang Ar Rahman pilihkan bagi saya ;

"Lin emang kalo cewe' dah kedesek umur dia akan nikah dengan cowo' yang ia kurang suka ya?"

Mungkin maksud dia bahasa halus dari asal-asalan kali yah :-D. Agak kesel sebel ngedumel en bikin pikiran bebel juga nih pertanyaan, abis mo gak jawab tapi terpampang nyata saya memang target yang empuk nan lembut ditanya begitu mengingat usia yang menurut tabel itu saya usia "cukup", dan memutuskan menjawab harus proporsi juga jawabnya agar kegundahan yang lebih dari cukup tak bisa dilihat kasat mata #KumanDong :-D. Dan seolah lakon sinetron, setelahnya seorang kawan lainnya suatu sore mengirim gambar tersebut diatas via bbm dengan bunyi-bunyian bernada serupa tapi tak sama :

"Dari milis, yang dikirim bumil. Mereka gak tau ya jungkir baliknya kita yang jomblo gini bla bla bla..."

Sejurus kemudian saya agak lama pantengin gambar itu yang lambat laun jadi tak sedap di mata dan gak pas di hati (kalo saya sudah menikah pasti gambar itu persis slogan Pertamina "Pasti Pas" aja di hati en seolah putu salah satu bintang Bollywood kali yah qiqiqi.. )
Adakah yang salah? Benerkah faktanya demikian? Valid jugakah tabel yang kadung saya telan bulat bunder itu karena saya masih single?

Ingin saya teriak kalau saja semua tetangga saya tak bertelinga. Pengen banget seper sekian second nih smartphone saya banting karena merasa mobile saya tak lagi smart saat ia berhasil mengunduh lalu menjembreng gambar itu pada layar walau saya tau ini namanya buruk muka cermin dibelah-belah pake kapak :-D. Lantas tak lama pula saya ingat kalau mobile saya ringsek maka saya gak bisa langsung beli karena uang yang saat ini ada hanya dikantong baju yang menempel di badan aja, Alhamdulillah mobile masih utuh terselamatkan hohoho....

Lagi-lagi hal ini bukanlah issue baru bahkan dalam tulisan sebelumnya sudah pernah pula saya singgung dan tayangkan (Resepsi dalam Resolusi, OMG udah taon 2015) #mulailebay, hanya saja mereka yang belum menikah dan usia sudah mendekati usia 30-an khususnya lagi perempuan maka jadi substansial menerpa para lajang dan hingga detik ini tak hanya sepatah dua patah tapi sudah jadi lumrah berpatah-patah kalimat berikut seolah salah satu protokoler yang harus ada dalam perjumpaan entah dengan kaum kerabat, handai taulan, kawan, bahkan sampai unit perjumpaan sederhana sekalipum macam bukber or Persami, pokoknya jauh dekat harus ditanya :

"Loh yang lebaran kemaren digandeng gak jadikah?"
"Udah merit Lin?"
"Kapan nih?"
"Udahlah bu cepetan aja jangan pake lama"

Dan disitu saya akan senyum manis ba' rasa syrup Marjan sebagai balasan walau hati ya gak ada manis-manisnya cenderung meringis. Pun menyadari tak hanya saya seorang lajang yang bagi sebagian warga Indonesia khususnya dibilang memasuki gerbang usia "telat" tapi ada beberapa konco nyatanya meski sudah berupaya "enjoy ajah" ya tak serta merta membuat kami-kami ini bisa anteng adem lan ayem wkwkwk...

Pernah saya coba compare apa sih poin kurang antara yang belum dengan yang sudah menikah bahkan sampai menggunakan landasan cetek segala, tapi disitulah saya sebagai makhluk Tuhan yang masih cupu dalam amalan baik semakin paham bahwa Iradat Ar Rahman kan gak bisa dipaksa juga, meski bukan suatu dalih diem sepuluh ribu bahasa dalam mengupayakan belahan jiwa. Nyatanya ada jiwa lain yang lebih tak seberuntung si lajang entah dari segi kecantikan or kegantengan, segi ekonomi, segi pendidikan, segi kemandirian, segi usia, segi tiga, segi empat, segi lima, atau segi enam tapi sudah Ar Razzaaq amanahi keluarga mungil bahagia lan sejahtera gemah ripah loh jinawi sakinah mawaddah warrahmah loh. Apalagi stigma soal "tidak laku" itu loh... Padahal nyata jelas banyak mereka yang  melajang itu qualified bukan "stok sisaan". Jadi apakah sebetulnya poin yang membuat single salah yang akhirnya meski usia sudah mumpuni tapi masih belum jua menikah?

Banyak ayat Allah pengingat bahwa bukan menyoal karena sudah ada iman lantas tak ada ujian. Ujian pasti tiap pribadi punya hanya belum tentu tiap yang bermasalah kepoh publikasi berkoar-koar. Hanya di surga saja kawan kita freedom of ujian!.Yap! Dan bagi lajang yang sudah cukup menikah tapi belum pula bersanding denga partner kehidupan memang Usia adalah ujian yang gak ringan dipikul atau dijinjing. Tapi apa lantas kita sesukanya mengambil "ya udahlah yang ada or yang mana ajah"?. Seorang kawannya kawan menikah murni karena desakan usia dan kini sudah bercerai, wallllaaaauuu diluar sana pasti banyak juga yang langgeng dan tidak hancur demikian.

Apapun masalah soal lalunya seorang yang gagal dalam asmara dan kini ia masih lajang saya berpikir bukan lagi lalunya yang jadi fokus tapi bagaimana ia saat ini. Berupayakah ia dalam menjemput jodohnya? Atau masih asyik masyuk leyeh-leyeh mengingat mantan masa lalunya?, sudah baikkah ia saat ini atau hanya bertopang dagu berputus asa, berandai-andai tanpa usaha? Dan yang terpenting bukan salah kenapa ia masih lajang tapi ia akan sangat salah akar kuadrat bila masalah ini justru tidak meng-guide kepada perbaikan, baik sikap, perilaku, juga pikiran.

Terkadang seorang lajang jadi mencari-cari kenapa dan apa sih yang salah? Belum lagi tambah belajar legowo sangat saat banyak kejadian jadi dihubungkan dengan kelajangannya. 
"O pantes aja masih jomblo abis gitu sih orangnya"
"O gitu sifatnya, hhhmmm makanya masih sendiri yah!"
"Jelas aja dia belum merit tuh liat aja tabiatnya" 
Bla bla bla...
Lalu bila ternyata sudah berupaya dari macam sisi pun memperbaiki diri apa layak jadi "salah" karena belum menikah?"

Tabel diatas tentu punya kalkulasinya sendiri dan saya pun setuju dari kacamata sesama manusia idealnya demikian, idealnya punya perencanaan, dan idealnya semua terjadi sesuai pakemnya, seharusnya...
Tapi soal hasil Final no body knows dan cuman Al Qadiir saja yang Tepat lagi Paham. Ranah kita berupaya lalu berdoa, terus dalam fokus perbaikan diri yang nyata. Akan jadi salah skala besar jika kita tidak maksimal melakukannya. Lah terus gimana dong kalau belum juga menuai hasilnya? Karena hidup banyak rasa maka boleh jadi ini masih Allah jadikan ujian bagi kita.

Mungkin kita gak selalu paham akan takdirnya, kadang hati tak langsung menerima mengapa sih ingin-inginnya kita kok belum jua Ia segerakan tercipta. Sering juga tak sanggup bicara karena terhimpit dalam masalah yang rumit dan hanya ada lelehan airmata. Akhirnya tak banyak bicara tapi hati tetap ada saja tanya mengapa begini atau begitu Yaa Rahman?
Satu hal yang pasti adalah tak mungkin segalanya terjadi "wush" begitu saja tanpa sepengetahuan Al Samii', mustahil pula teriakan lembut hati sampai tingkat gegerungan lalu disertai garuk-garuk aspal tak dilirik Al Bashiir kan? Karena Kepastian Allah adalah segalanya terjadi Baik bagi hamba-Nya, poin ini sudah pasti benar dan gak usah puyeng-puyeng diganggu gugat.

Bilapun anda masih lajang, sendiri, single, atau bully-an jomblo bahkan mampir sepintas sekilas bahkan berkilas-kilas maka keep istiqomah dalam Garis Lurus Al Haadii yah, saya pahami kok gak mudah tapi saya pun berani bertaruh bila kita larut ikut dalam segala hal penurun kualitas kebaikan dan iman maka hidup akan lebih sulit berkali-kali :-). Bukan perkara pembenaran loh karena kita kan tetap dalam upaya, jadi meski dengan status single toh tetap jadi kebaikan dan benar bila terus memperbaiki diri, toh gak akan jadi salah selama kita ikhtiar dalam keseharian juga doa, dan akhirnya masa menunggu yang lewat tetap diisi dengan yang manfaat.

Menyitir statement seorang akhwat baik saya yang juga narsum pemberi tabel diatas "Makhluk tak mungkin berbalas" maka memang hanya Al Hasiib saja yang jitu dalam memberi balasan kan yah?

Have a great day and big hug :-)
May Ar Rahiim still gives us big hug too in a warm Barokah and also Rahmah, Aamiin Yaa Mujiib
Wassalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh
Erlina Febrianovida

Sumber Gambar : pintarin.com

Komentar

Postingan Populer