Ini Tuh Rumah Tangga, Bukan Rumah Makan Sederhana!


Assalamualaikum sobat,
Alhamdulillah Al Muqiit masih aja rajin memberi donasi waktu dan kesehatan bagi saya dan InsyaaAllah anda-anda juga yah,  Aamiin Yaa Mujiib...
Bagi yang saat ini mungkin tengah atau bahkan merasa akhir dari luka, derita, nestapa, baik fisik atau materi moga Allah segerakan solusi baiknya yang IngsyaAllah tetap dalam balutan rahmat dan berkah-Nya, Aamiin Ya Salaam. Kalo saya sih udah biasa lebam dan mengharu biru utamanya memandangi isi dompet yang penghuninya pahlawan Pattimura melulu :-D (padahal gak ada yang tanya juga siy).

Okaylah cukup sepatah dua patahnya kawan. Akhir-akhir ini saya cukup masif juga dilempari persoalan Rumah Tangga. Eh comercial break : kalo ada yang mau ngelempari saya dengan batu akik monggo loh sob, silahkan hubungi saya pada nomor dibawah ini hihihi... :-)
Dan disitulah saya Thingking Out Loud...., ini tuh peringatan dari Ar Rahmaan buat saya agar kudu lebih berhati-hati lagi menyenggol ranah asmara atau saya gak boleh membangun Rumah yang ada Tangga-nya sih :-).... Ya gak segitunya kellleesss..., abis gimana ya kisanak... Di usiaku yang terbilang ranum dan belia ini (maaf kalo ujug-ujug anda nyeri, pegel, mual bacanya..., cewek sombong minim prestasi emang gini kerjaannya) saya diberi kesempatan terjun meski tak langsung dalam delik per-rumah tangga-an. Itu kenapa saya tidak mencantumkan pengantar Kalam Suci Ar Rahmaan diatas, abis kalo inget ayat itu yang kebayang adalah tenda biru dan kepikiran kapan yah saya nyawer undangan pernikahan? #GakNyambungAbisss.

6 orang sudah, 5 orang saya tau secara dekat, dan 1-nya lagi lewat teman yang sharing sekilas inpoh perihal temannya yang saya gak kenal. Sungguh yang saya terima baik secara langsung atau dari cerita teman menambah kumpulan Diktat Kehidupan bagi saya dalam hal ini menyoal per-Rumah Tangga-an. Mudah2an ini menambah dekatnya saya juga anda bahwa Ke-Esa-an Al Ahad itu Paripurna Nyata. Tak ada tujuan dalam menorehkan ini selain sharing Ilmu semata dan bak peluru yang menembus jantung terdalam #eeaaa nyomot istilah mbak Dian dulu ah walau beda konteks-nya, justru saya makin tau bahwa diri ini masih terhalang jauh very bangets tehijab-i dosa-dosa pada Al Khaliq.

Yap sebagai pribadi normal, siapa sih yang gak pengen punya Rumah Tangga like Rasulullah? Yang semua sepakat mengusung tema Rumah Tangga Samara?. Faktanya? Tak mudah karena bisa berdarah-darah. Lebay-kah?. Ya gak juga karena apapun menuju ridho-Nya, bahagia dunia lan akhirat mengharuskan berpayah-payah, ya iyalah masbro mbaksist bahkan Mie Instan aja kudu direbus dulu sebelum terhidang, kalo gak salah disaran penyajian 3 menitan kurleb #halah keluar konteks..., Tapi apapun menuju jalan kebaikan meski tak mudah Allah gak pernah tuh menelantarkan tanpa ujung bahagia yang utuh bagi sahaya-Nya yang sungguh-sungguh pula. Masssaallaahnya... Tak semua lulus dalam test-Nya. Nah ini nih yang mau sedikit saya oprek, meski sekedar dipermukaan moga bisa jadi salah satu solusi dasar yang bisa diberdayakan ya sob.

Diantara 6 pribadi itu (yang saya tau) 2 diataranya sudah resmi divorced dengan bilangan usia pernikahan lebih dulu bubar daripada waktu yang dibutuhkan bila kita menanam jagung hingga panen. Yang lainnya sekedar cekcok walau dengan lelehan lava airmata, dan ada pula yang sudah meminta berpisah tapi Alhamdulillah tidak terlaksana, usia pernikahannya pun masih kurang dari 5 tahun.

Poin2 berikut adalah yang berhasil saya temukan dalam 6 kasus tersebut (jiiaah roh detektif-nya merasuk). Ini hanyalah pendapat pribadi yang beberapa diantaranya saya discuss dengan teman juga sebagai tambahan referensi. Urutannya tidak baku karena murni peng-group-an semata saja dari saya, bisa jadi poin no. 3 adalah prioritas bagi seseorang tapi lainnya tidak. Bukan maksud menggurui karena saya pun sama seperti anda, Pembelajar Sejati Kehidupan, gak ada acara bongkar muatan aib karena murni pencegahan pula agar kasus yang sama tidak mampir pada saya atau anda. Kenapa begitu? Karena bahkan urusan sepele pun bila tidak wise menyikapi bukan jadi bumbu tapi bisa jadi sambal yang puedes dalam rumah tangga. Monggo kritik saja bila ada yang kurang bahkan gak pakem. Boleh saya otopsi satu2 ya pemirsah (silahkan lin). Saya sarankan sih anda ditemani beberapa snack or cemilan gitu karena sesingkat-singkatnya narasi dari saya tetep aja berkubik-kubik kata-katanya (minyak kalii), awalnya saya ingin membagi dalam beberapa part supaya gak bosen tapi akhirnya tak jadilah (sok banget nih... padahal emang banyak sudah mengantongi hujatan bosen...padahal pula ya gan en ganwati saya tuh dah divonis boring lantaran tulisan saya yang gak pernah minim, "tulisannya Lina mah panjang en jadi muter2", hohoho... Yoi sist kalo pendek namanya Candek, Catatan Pendek en bukan Celoteh :-P).

Mohon dilihat utuh paparan ini, hati boleh main, perasaan boleh mengharu biru bahkan sampe memukau hijau tapi melihat tiap permasalahan memang mengharuskan kita berperilaku bijak dan bajik tak hanya melulu sudut pandang diri atau merasa benar sendiri (eh ini kok saya bangets yang masih suka menang sendiri :-D)

1. Penghargaan dan Penghormatan antara pasangan
Karena sudah dalam status "you belong to me" lantas perkara menghargai pasangan bisa jadi malah turun. Loh kok gitu? Yap harus dipahami bahwa saling mencinta bukan berarti usai semua perkara lantas sepanjang jalan kenangan tak bersua masalah kehidupan, justru disinilah yang katanya "saling mencintai" diuji ke-sahih-annya. Sayang, kasus yang saya ketahui justru masalah membuat rusak sikap saling menghargai pasangan. Salah satu contoh yang paling umum adalah dilema memilih keluarga sendiri atau mengutamakan pasangannya :
"kalo udah nikah milih suami atau ortu ya lin? Gw bingung keluarga minta gini eh laki gw gak setuju say"
Hhhmmm ini yang nanya gak ber-periperkawinan nih... Lawong saya itu lajang kena apa anda sudutkan saya lewat tanya demikian? (Padahal namanya juga nanya ya gak apa2 juga kan?, saya-nya aja yang sensaaaiiii qiqiqi...).

Untuk wanita yang sudah menikah maka Suami adalah urutan pertama setelah Allah dan Rasulullah titik. Jadi plis-lah kalo ada problem sekuel rumah tangga tapi keluarga "nimbrung" mbok ya Husband Oriented (eh ini suami yang saya maksud itu The Real Imam atau tidak meminta kita mengingkari Allah dan Rasul-Nya loh ya!). Menyenangkan keluarga itu ibadah, tapi pendapat suami kan juga harus didengar. Jangan lupa posisi kita yang sudah "dibeli" oleh suami. Kasar banget sih lin bahasanya :-D (maaf deh saya kan lebay orangnya). Maksud saya "dibeli" adalah sejak sah-nya Ijab Qabul antara wali perempuan dengan laki2 yang meminang wanitanya ia bukan lagi tanggung jawab orang tuanya tapi suaminya yang menjadikan istri menomorsatukan suami setelah Ar Rahmaan dan Al Amin!, rasanya banyak dalil yang bisa sobat temukan soal ini.

Lalu bagaimana dengan suaminya? Boleh sesukanyakah meminta istri begini en begitu?. Ya gak gitu juga, bukan berarti anda Imam terus ma'mumnya pesakitan anda biarkan dengan alasan mengikuti "gerakan" imamnya dong! Mbok ya arif juga, anda boleh kok maen larang-larangan dengan alasan kebaikan bukan karena status Superior "gw kan Imam!", miris melihat suami yang se-merdeka-nya atas dasar ia pemimpin dalam rumah tangga tapi kok jadi cacat karena kasat mata istri dan anaknya gegerungan luka?. Boleh kok sumbang saran tapi anda kan juga bertanggung jawab loh atas Tawa dan Tangisnya!, tak serta-merta menenteng status Imam maka Allah sematkan perilaku "senyamannya" anda kan?

Penghormatan lainnya adalah kesetiaan. Ehem Ehem... gak usahlah ya di jelaskan. Perselingkuhan itu sudah gak pandang strata, menikah lagi atas dasar Islam membolehkan tapi fakir ilmu!, jadi entah lupa atau gak tau bahwa "Adil" yang utuh hanya Al Adl saja yang mampu!, lalu berpetak umpet dalam kalimat "daripada zina". Ya terang aja kalah sob lawong Zina haram sedang Poligami Halal maka jelaslah pilihannya poligami! Hanya "terlihat benar". Bila menambah bilangan istri itu sudah pasti benar kenapa Allah beri balasan tak sedap pada banyak laki-laki yang "katanya" poligami dalam jalur benar eh tapi menelantarkan keluarga pada akhirnya?. Jangan merayu Ar Rahmaan atas dasar "yang penting gak zina"!, lupakah anda bahwa Dia yang sangat Mengetahui isi hati dengan "niatan" anda itu?.

Selanjutnya bukti penghargaan pada pasangan adalah bersifat Terbuka, komunikasikan dua arah apa yang jadi unek-unek dan masalah. Si istri menghormati dan suami memahami. Banyak yang bertengkar pasutri murni soal komunikasi loh (ini bukan promo karena saya alumnus Ikom sob :-D), curhatnya ke temen bukan pasangannya, lah kalo anda gak ngomong2an apalagi menyangkut kepentingan keluarga maka kenapa anda berdua menikah kalau tak saling discuss, tanya, atau sapa?.

2. Kepribadian / perilaku / karakter
Nah menyenggol ini bisa jadi salah satu sebab mengapa sudah kenal lama atau dalam istilah lain pacaran bertahun-tahun tapi kok gak jamin lebih tenterem rumah tangganya? karena meski bertahun-bertahun mengenal kan hanya tau dan bertemu beberapa jam saja to? Tidak tau asli plek dimata kita habbit sebenarnya dia tuh apa en begimane di rumahnye?, hanya mengenal belum tentu paham. Bagaimanapun tinggal satu rumah tetap tidak sebanding dengan hanya mengenalnya walau sudah dalam jangka waktu lama.

Misalnya gimana sih Lin kok kaya'nya njelimet to?. Contohnya ya kita sudah tau kalo salah satu kekurangan pasangan kita tuh Males, bahkan males untuk sekedar naroh baju kotor di bak berkumpulnya pakaian yang kotor-kotor itu. Kalo kita masih baru mengenalnya, pacaran bahkan sudah tahunan pun belum tentu kita mencak-mencak karena kita gak langsung tau atau ngerasain gimana berhadapan langsung dengan orang yang untuk naroh baju kotornya sendiri aja kudu pake speaker masjid!, karena kan masih belum menikah otomatis gak satu rumah dan praktisnya kita jadi gak sepet mata atau jadi pengeras suara to?. Lain halnya saat kita sudah satu atap, beeuuhh mungkin naroh piring serong kiri atau kanan dikit aja sampe bisa bikin pecahnya piring wkwkwk...

Yap itu baru hal yang ringan, belum sampe debat-debatan perkara idealisme, cita2, ingin2nya, kesukaan masing2 yang gak mustahil binggo tabrakan en ujung2nya bisa bikin Rumah dan Tangga ancur2an sob. Seorang kawan saya misalnya nyaris berpisah dengan sebab komplikasi ekonomi. Sang suami sedari awal ingin pisah rumah dari orang tua istrinya karena beranggapan keluarga istrinya banyak turut campur, ditambah lagi lokasi kerja yang jauh dari rumah semakin membuat suami punya tambahan materi kuat agar pindah dan mengontrak rumah yang dekat dengan tempatnya bekerja. Namun begitu dari sisi istrinya (teman saya) tetep keukeuh mo di rumah ortunya dulu dengan alasan kuat sekalian bantu2 ibunya yang janda utamanya keuangan. Menurut si istri lagi dengan ia, suami, serta anak semata wayang masih nebeng ortu maka finansial masih terbantu karena suaminya tidak membolehkannya bekerja. Kadang pula anaknya dibelikan jajan oleh sang nenek yang akhir bulan diberi jatah oleh suami teman saya itu (tapi tiap harinya lari lagi ke anaknya :-D). Terlihat sepele yah? Enggak loh gan, kawan saya itu berulang mengadu tak kuat dan sudah sempat berujar meminta cerai, Alhamdulillah dalam Islam meski istri jumpalitan minta cerai tetap saja tidak valid selama suami tidak mengabulkannya, itu pula yang dilakukan suami teman saya itu (moga seterusnya gak ada obrolan cerai2an, Aamiin). Kini setelah gangguan berat itu si istri mau juga pisah rumah dengan mengontrak rumah yang tak jauh lagi dari tempat suaminya bekerja.

Awalnya teman saya itu sudah saya paparkan bahwa selama dalam jalan baik dan koridor Islam maka kita wajib menta'ati suami, lama teman saya khawatir karena orang tua dan saudara2nya yang rumahnya juga sekitar situ menuduhnya anak durhaka karena tidak lagi membantu Ibunya, padahal maksud teman saya adalah ingin mematuhi suami apalagi suaminya mengaduh capek karena pulang larut lantaran jarak yang ditempuh bukan perkara jauh semata tapi karena zona macet lumayan sadis. Setelah berulang kali diyakinkan baru deh ia mau. 

Disinilah pemahaman pasutri itu sungguh diuji (yaelah sok paham bener ya saiyah.., sok sudah punya imam maksudnya qiqiqi...). Terlihat sepele tapiiii... boleh percaya tapi harus percaya bahwa memang ada fakta meski bukan dari seorang yang dekat tapi pernah di publikasikan dalam alam maya pasutri yang akhirnya bercerai karena istri menolak ajakan ikut suami. Dulu sebelum menikah si istri janji bakalan ikut suaminya yang artinya pisah dari ortunya, tapi sesudah menikah ia memilih menuruti orang tuanya untuk tidak ikut suami dan karena ada alasan tertentu suami juga gak bisa tinggal di lokasi kediaman istrinya (saya lupa sumbernya, kalo gak salah karena lokasi kerja suami deh, lupa beneran :-D). 
Poin ini lebih kepada masing-masing pasangan "bersedia utuh" gak setengah2 memahami real "pasangannya" khususnya kekurangannya, begitu juga sebaliknya yakni pasangan yang sudah dipahami itu kudu juga memperbaikii diri, jadi gak satu saja yang menuntut-dituntut baik, tapi keduanya memang musti kudu saling nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran... #halah jadi masuk dalil deh, gak pa2 ya sob :-). Karakter seseorang memang tak serta merta mudah dirubah, tapi buat rumah tangga wajib diberdayakan untuk kebaikan to?.

3. Finansial 
Ada yang bilang mati-matian ke saya "mbak yang penting tuh Cinta"!... Yaelah saya juga paham Cinta itu utama tapi ada komanya, pemeliharaannya itu juga kudu ada sob dan pake biaya didalamnya gan:-). Anda mencintai istri anda, berapa lama dia masih bisa senyum kalo sudah 1 bulan gak makan? #lebay. Berapa lama bisa anteng, adem, lan ayem bila cinta yang lagi asyik masyuknya tidak anda perjuangkan saat keluarga, istri, atau anak sakit?.

Saya bukan hanya cuap2 materi to', tapi sulit rasanya dicap cinta tapi pasangannya tak bahagia lan sejahtera juga. Kita tidak bicara kebutuhan gaya hidup loh tapi kebutuhan hidup yang berkelanjutan sebagai salah satu bukti real pasangan yang katanya saling mencintai, didalamnya ya ada makan seperti nasi, sayur mayur, lauk pauk, buah-buahan, dan susu #4 sehat 5 sempurna. 

Sudah paham kan kenapa banyak masalah ekonomi salah satu penyulut ambruknya rumah tangga?, wajar istri nge-garukin aspal sambil hujan tangis karena selain tulang rusuk suaminya ia juga tulang punggung keluarga, atau suami sudah pol2an banting2 banyak tulang tapi istri tak cakap menggunakan. Mereka yang pisah karena perkara ekonomi saya yakin masih cinta kok (kesannya tuh saya surpey bener...), tapi cinta akhirnya bisa terkikis oleh penyia-nyiaan salah satunya dan pihak yang satunya tak mampu, tak kuat lagi menanggung. Justru karena cintalah maka ikhtiar jadi maksimal guna pembiayaan2 yang timbul dalam cinta seperti bayar air, listrik, keamanan, sekolah, cicilan rumah, kendaraan, dll yang itu semua ada karena mereka yang ikrar cinta bersatu dalam sakralnya pernikahan, dalam rumah tangga. Bukan karena cinta ya udahlah gitu aja terima begini ajah, karena memang Cinta itu gak berakhir sampe rasa dalam dada saja, tapi ia menenteng tanggung jawab agar yang katanya saling suka, cinta, dan sayang saling membahagiakan, bukan hanya suami saja melainkan istri juga.

Enak ya Lin ngomongnya...,  ya enaklah kan saya cuman nulis doangan :-D. Saya yakin bahwa saya belum pernah mendengar untuk bahagia jalannya pasti enak karena produk surga memang gak mudah ngejalaninnya bahkan hanya sebatas balasan sepele yang baik saja kadang kita masih suka malas merespon! (Ini saya juga masih suka gitu :-D). Mohon maaf ya kawan bila ada timpalan, candaan, atau rangkaian aksara yang menyinggung, moga kita semua adalah Pelaku yang utuh dalam Kebaikan dan Pemikul yang bertanggung jawab penuh atas apapun peranan kita, Aamiin Yaa Haliim.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Erlina Febrianovida

Sumber gambar : storiesformuslimkids.wordpress.com

Komentar

Postingan Populer