Kamis, Agustus 27, 2015

Menjembreng Ibadah lewat MedSos, Apa kata Akhirat?

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh teman - terman maya... Alhamdulillah Ar Rahiim masih memberi detik - detik waktu yang moga kita sepenuhnya sadari untuk stay pada garis-Nya, Aamiin Yaa Syahiid...

"Suatu kebajikan sempurna dengan tiga hal : 
1. Dipercepat 
2. Dipandang kecil
3. Dirahasiakan" 
(Abbas Ibn Muthallib)

Sumber Gambar : Koleksi Foto dari FB Elfira Snisa
Bolehkah menulis pada timeline per-sosmed-an soal aktivitas ibadah yang dilakukan? Ya bolehlah, suka - suka yang punya akun dong mo nulis apa! :-D. Bolehkah mengumumkan segala hal bentuk taat kita pada Ar Rahman lewat jejaring sosial? Ya boleh - boleh juga, apapun boleh anda bagikan via media sosial, pun sama seperti tanya apakah boleh mempublikasikan marah lewat FB?, mencaci lewat Twitter?, Mengumbar visual porno via Instagram?, atau mengunggah aksi erotis, anarkis, sadis lewat YouTube? Boleh, asal anda pahami bahwa semua itu sudah satu bundel dengan dampaknya, misalnya jadi kategori riya', dimarah-marahin, dihujat, dimaki-maki, distempel sombong, dan berderet - deret lemparan tidak mengenakkan lainnya yang kemungkinan besar diterima, belum termasuk catatan keburukan dari malaikat Atid ya sob :-D. Ya, bahwa apapun balasan amalan yang kita terima pasti sudah sesuai niat kita kok, don't worry Yang Maha Menghitung itu Pasti Pas Mengkalkulasikan semua yang kita upayakan

Sahabat –Al Faruq- Umar bin Khaththab radhiyallahu ’anhu berkata,”Saya mendengar Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,’Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan yang ia niatkan. Barangsiapa yang berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, maka ia telah berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya itu karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya’.” (HR. Bukhari & Muslim). 
Saya ambil petikan hadits diatas lewat blog sebelah http://rumaysho.com/934-hukum-melafadzkan-niat-usholli-nawaitu-2.html

Kalo mau bicara lurusnya maka apapun tentu ada rambu juga marka sebagai hamba-Nya. Terus apa maksut'te lan hubungan-ne soal pamer ibadah itu?. Dengan mengacu hadits diatas plus perkataan sahabat sekaligus paman Rasulullah tersebut maka diambil kesimpulan bilapun niatan anda bukan karena Allah niscaya ada hitungannya yang pastinya masuk amalan bukan karena Allah

Gak usahlah jauh - jauh soal pasang pengumuman mau sholat, ngaji, zikir, atau tadarus, tapi nulis kebaikan saja yang ujung-ujungnye minta pujian orang, entah teman, saudara, handai taulan atau tetangga sekalipun maka cukup balasannya pujian itu, yang artinya kalo niatnya pujian atau hingar bingar tepuk tangan ya wajar aja dong balasannya bukan pada sisi Allah. (hhhmmm ... Jangan - jangan ini ngomongin saya nih :-D)

Selalu saya katakan bahwa saya juga seorang pembelajar, masih fakir ilmu apalagi bahasan menyangkut ranah surgawi.. waduh... masih cetek binggo. Hanya saja secara logika harus saya katakan ini kok perbuatan sia - sia, bukankah sengaja sia - sia juga gak ada balasan pahalanya?

Kenapa begitu? Simple kok sob bila mau jujur (terhadap diri sendiri maksudnya), ibadah seperti sholat, ngaji, zikir, zakat, sedekah, dan setumpuk amalan bernilai ibadah itu kan dasarnya karena Allah Ta'ala dan hanya mengharap ridho-Nya, maka bila sudah kita kerjakan hubungan vertikal kita kepada Yang Maha Tinggi terus kena apa pula kudu laporan di jejaring sosial?. Bukan bermaksud "belagu" tapi sobat semua pasti yakin bahwa Al Maliq itu Maha Melihat apa yang kita kerjakan baik sembunyi, terang - terangan, sampe baru niat dalam hati aja Allah itu Maha Tahu, maka kenapa pula musti diketik di medsos segala seolah Allah itu kok tidak lagi Melihat?

Contoh lain yang paling mudah lagi adalah Iman kepada malaikat itu bermakna segala perbuatan kita baik kategori amalan baik atau buruk pasti tercatat gak hanya rapi tapi detail sama Rakib atau Atid, so kawan gak usahlah khawatir Malaikat Rakib lupa nyatet kalo kita abis ngaji, shalat Tahajjud, shalat Dhuha, shaum Daud, atau Senin - Kamis misalnya, then... gak perlu repot - repot jadi alarm buat malaikat - malaikat Allah sehingga kepoh mengingatkan mereka lewat FB-an, Twitter-an, Instagram-an plus poto lagi ruku' atau sujud kan?

Mungkin bahasan ini sepele, nyatanya? syaithan atau dedemit dari manapun selalu punya celah agar kita tergoda
Mungkin juga bahasan ini emang beneran gak penting? yap ini emang gak penting tapi menuliskan segala amalan kebaikan lewat medsos bahkan lewat speaker masjid-pun lebih gak ada unsur penting - pentingnya acan
Ah cuman teori ini? Yoi tulisan saya mah apa atuh, bisanya cuman teori doangan, tapi dalil diatas Hadits shahih loh. Jadi gak usahlah lah ya 'ndengerin tulisan ini (tulisan itu emang dibaca bukan didenger sih :-D), ikuti Al-Qur'an dan As Sunnah saja udah pasti jaminan masuk surganya (yang beneran maksudnya)
Ah sok nasehatin nih Lina? Hehehe... Saya pun masih belajar, tapi selalu ada baiknya bila kita menyampaikan Kalam Allah meski hanya satu ayat kan?

Akhir kata kiranya saja diberi maaf bila ada torehan yang melukai bahkan menyakiti, sungguh tak ada niatan buruk hanya secuil yang saya tau saya bagi, mudah - mudahan manpaat, that's it :-)
Udah ya sob segitu aja nulisnya, permisi saya mau sholat Isya dulu, abis itu ngaji, nah abis ngaji langsung bobo' biar bisa Tahajjud di sepertiga malam :-D, #YangNulisIniOrangnyaMasihSukaGitu #Kidding

Ibadah itu bukti Taat dan Iman pada Ar Rahman, kok laporan via Medsos? Seolah Al Bashiir, As Syahiid tak lagi Melihat atau Menyaksikan dan malaikat gak bisa lagi mencatat, Apa kata Akhirat?

Have a nice day and night :-)
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Erlina Febrianovida

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Imunisasi Guin : MR @RSBK

Bismillah, Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh Alhamdulillah, Sabtu 04 Agustus 2018 lalu, Guin di usia 9 bulan (kurang bebera...