Tragedi-nya Trigana, "Bom"Bastis-nya Bangkok, dan Sunatullah

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh semua :-)

 

Moga dengan seliwerannya ragam kehidupan entah itu baik, buruk, kegalauan, kecemasan, kesakitan, dan berderet-deret rasa tak enak lainnya kita masih mengutamakan apapun yang membuat kita jauh dari sifat putus asa yah, Aamiin Yaa Rahiim...

Pekan ini 2 peristiwa yang lebih dari cukup mengaduk - aduk hati saya, dan makin menyudutkan diri ini bahwa saya termasuk pribadi "bodoh" dalam urusan akhirat, 2 peristiwa yang juga menggembarkan ranah lokal (lagi) dan satunya menggubah dunia jadi duka buat siapapun mereka yang masih "mengaku" manusia "beradab". Tragedi jatuhnya pesawat ATR 42 Trigana Air IL 267 rute Jayapura - Oksibil, di Gunung Tangok, Kabupaten Pegunungan Bintang Papua dan ledakan bom yang terjadi di Ibukota negara Thailand, Bangkok di luar sebuah kuil Hindu Erawan, disebuah persimpangan utama pusat kota Bangkok. Dan belum sempurna 24 jam dari ledakan pertama sudah rilis letupan bom kedua yang terjadi di dekat dermaga Sungai Chao Praya.

Sekilas saya berpikir "itu yang sakit atau keluarga korban gimana yah rasanya?". Gak adalah satu umat pun yang ingin sedih, duka, atau nestapa, bahkan yang saat ini sedang sungsang berjuang dalam peperangan dengan gigihnya adalah mereka yang didasari keinginan happy entah dunia, akhirat atau keduanya.

Lah terus apa hubungannya dengan bodoh dalam akhirat yang saya but sebut sebelumnya?. Banyak dari kita (kadang) termasuk saya harus diingatkan fananya kehidupan dengan tempelan-tempelannya melalui musibah, rasa sakit, kekecewaan, laranya hidup, atau ke-serba-kurangan. Menariknya justru kita bukan fokus pada amalan - amalan yang membuat kita tambah baik tapi sebaliknya kita tidak "merasa" hidup dalam dunia ini dan tak pula menyadarinya. Buktinya? Mengeluh! Wah manusia sih populer kaya produsen motor Yamaha itu yang punya motto "selalu terdepan" soal keluhan kehidupan (ini ngomongin saya lagi ajah :-D). Lain cerita masih dengan muatan sama, saya selalu saja merasa "aneh" dengan fenomena keluhan mereka - mereka yang dalam ruang publik nyaman sekali mengudarakan ragam kalimat yang seolah - olah hanya dia seorang yang patah atau merasa gak "lucky" dalam hidup ini. Rasa Mengeluh saja sudah ampuh mengusir syukur dalam hati yang padahal juga sering kuotanya sedikit!. 

Apakah mensyukuri makan harus merasakan perut keroncongan kelaparan? Apakah berucap syukur dalam lisan plus ringan membantu sesama harus menunggu kita disakitkan dulu begitu? Apakah move on dari orang yang jelas menyakiti harus melihat dia merasakan balasannya? Apakah berhenti ngedumel ngeberesin rumah harus merasakan dulu gimana rasanya kehilangan rumah entah lewat kebakaran atau gempa? Apakah membungkam mulut dengan cuap-cuap gak asyiknya atas kerjaan hari ini di kantor saat Allah ijinkan kita jadi pengangguran? 

Terasa bahasan saya kok ngelantur kemana-mana yah? Hhhmmm... Tapi itulah fakta kehidupan yang hampir tiap hari kita kerjakan loh. Ngelantur kemana-mana tapi lupa makna kita itu dari mana, saat ini "harusnya" bagaimana dan akan kemana?, begitu ada kejadian di luar kendali kita atau sesuatu yang menyesakkan dada baru deh inget bahwa ada Yang Maha Apapun luput dari kehidupan, keseharian kita. Tak sampai situ, kejadian yang kadung terjadi acapkali tak dimanfaatkan untuk menegur diri, lagi-lagi mengeluh, menuduh Allah seolah "gak fair", melihat yang  terjadi hanyalah hamparan kesusahan, dan waktu yang dipunya berikutnya jadi sebab jiwa dan hati makin gelap.

Berbicara sedih, sakit, galau, tangis, duka, atau sejawatnya bukanlah hal mudah dilewati seseorang, pun juga saya. Sebaliknya mendayagunakan untuk yang baik atau istilahnya istiqamah dalam senang pun belum tentu tiap jiwa lulus karena sangat ada mereka yang justru jatuh, jauh dari Ar Rahman saat bahagia dikecap.

Moga semua korban dalam kejadian tersebut meski sulit segera pulih, entah yang luka fisik, batin, atau materi. Sedangkan yang sudah berpulang Yang Maha  Adil punya kalkulasi tersendiri dalam melihat segala kebaikan yang pernah mereka lakukan dan mudah - mudahan jadi sebab yang berpulang menuai ganjaran baik, Aamiin Yaa Qadr.

Bagi kita?, moga segala yang mondar - mandir dalam kehidupan ini tak membuat kita keluar dari jalur Al Khaliq. Bila saat ini senang maka sebetulnya Allah sedang menyuguhi tak sekedar lapang bagi kita, tapi masihkah dalam cukup segalanya kita ingat Allah dan paham bahwa bahagia atau tawa yang saat ini kita  genggam merupakan warning agar kita tangguh dan bersiap saat ujian berupa duka, kesulitan, kesempitan, kekurangan dari Allah itu datang?, yang akhirnya tetap menjadikan diri tak terlena, takabbur, apalagi sombong.

Sedang bagi yang saat ini sedang bersedih, merasakan sakitnya seolah tak sanggup lagi, maka sejatinya pula sedang ada di salah satu halaman ujian kesabaran, ketabahan, juga keikhlasan, yang akhirnya tak membuat lama - lama sedih, tak terbuai dalam kekecewaan yang berkepanjangan, tak larut dalam penyakit hati lain, ujung - ujungnya sadar lagi paham bahwa kita semua tak mungkinlah ingin dilihat Al Maliq hanya mandek di satu halaman kesusahan saja. Lantas? InsyaaAllah diri kita kebal dengan godaan untuk berputus asa karena jiwa ini yakin betul segalanya harus diewati dengan sikap terbaik dan karena inilah sunah kehidupan.

Terimakasih kawan berkenan membaca :-)
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Met ni'mati liburan bagi yang liburan sabtu ini dan met kerja bagi yang masih berkegiatan bergulat dengan pekerjaan yah :-)

Komentar

Postingan Populer