Senin, Oktober 12, 2015

Menikahi Attitude, bukan Attribute

Assalamualaikum bat sobat ..., jumpa lagi dalam tulisan yang  mo gak dibaca ya udah tapi dibaca Alhamdulillah :-D. Tak terasa detik berganti menit, lalu masuk dalam hitungan jam, lantas hari, minggu, dan berlabuh pada kategori bulan  lalu jadi tahun. Tak terasa pula #sok formal :-D saiya berhenti lis nulis #hahaha... (sapa juga ya yang tanya hihihi...) Mau bilang udah lama kagak nulis aja pake diperhalus kalimatnya.., tak salah siy bila tempo hari sebelum lusa, lusanya lagi disuatu malam seorang kawan melayangkan tanyanya pada saiya via bbm yang katanya kok blog saya gak apdet-apdet? (yaaaa... padahal mah emang iyyyuuaaaa... :-P) apakah saya sedang menjalankan ibadah puasa tulisan?, hhhmmm... Padahal kan yah yang lebih gak update dibanding saya tuh bejibun, tapi kenapakah saya yang  disorot? #SokFamous qiqiqi... tuh si Mpu Tantular yang udah lama gak ngeluarin torehan karya tulisnya aja gak ditanya2! (saya siy taunya cuman Kitab Sutasoma karya beliau :-D).  

Akhirnya saya tergugah juga dan menyempatkan diri menulis ditengah kesibukan saya yang dibilang padat gak juga tapi dibilang cair ya gak pula..., namun demikian saya tetep seneng bangeds menuliskan ini sebagai bahan berbagi dan utamanya penyiram qalbu saya soale berasa ada yang 'mbela hihihi..., bahwa upaya terbaik saat ini belum tentu "abrakadabra jadi!" tapi dilain sisi juga "bogem" yang menohok bagi jiwa saya (ampun deh...). Pelajaran ini berkali - kali lagi mengingatkan kita semua bahwa sudah bener kok perkara penerimaan Takdir apapun sungguh zona kita hanya ber-ikhtiar dan memaksimalkan yang baik - baik, sedang hasil tetep keukeuh juemeukeuh pada Allah Yang Maha Berkehendak (teorinya siy cakep bangeds tapi waktu gerak majuuu jalaaannn... hhhmmm... mandek gak jalan2 qiqiqi...), terus maksudnya apa siy?

Kadang kita "merasa" upaya terbaik jungkir baliknya kita "seharusnya" Allah ganjar begini begitu (sok tau), kadang pula apa yang kita upayakan mati2an lah kok orang lain selenong boy malah dapet yang kita upayakan duluan? (padahal kita gak tau kan yah jungkat - jungkit mati2annya dia dulu kek gimana to?), sering bahkan bagi saya kaya'nya selalu deh (pengakuan dosa :-P) "merasa" Takdir Allah itu kok yaaaa.... sulit banget saya terima (kalo yang ini siy masalah keimanan saya aja yang kudu di general check-up). Nah.. Begitu pula jodoh, meski sudah semampunya memaksimalkan upaya untuk melengkungkan janur kuning yang lurus, nyatanya janurnya tetep aja lurus gak nge-lengkung-nge-lengkung :-D 

Dan taukah anda (ciee sok tau banget ya saya, masih cetek ilmunya sok-sok-an khotbah, padahal saya maunya segera di-khitbah loh #eeeaaa balik lagi....) bahwa Attitude atau sikap adalah salah satu faktor terbesar seseorang bisa saja ia berpisah dengan belahan jiwa, maksutte... ???, ini kok ya gak nyambung to? Tiba2 jeggggeerrr.... bahasannya nenteng-nenteng belahan jiwa... Jadi begini singkatnya... (seumur-umur sesingkat-singkatnya saya bercerita ria tetep dipandang gak singkat oleh yg mbaca...). Kadang yah sob yang udah keliatan banget mo ke meja ijab qabul eits pada akhirnya gak terkabul, tapi adapula yang nyante-nyante aje (keliatan diluarnye) jiiaah.... malah die yang mesam-mesem di pelaminan!!!.

Tapi tulisan ini bukan mau ngabsen berapa banyak pasangankah yang akhirnya melaju dalam "sakinah mawaddah warahmah" itu kok, atau yang akhirnya masih Allah tunda dulu pernikahannya. Saya hanya ingin ikut nimbrung berpartisipasi dan berkonsolidasi gak pake meng-kudeta diri bahwa mau yang saat ini H2C menunggu pinangan, menunggu hari H, atau menunggu calon imam atau makmum yang masih didalam genggaman orang, sudah seharusnyalah kita pada sikap dan attitude yang baik. Saya dapat menyimpulkan ini karena berdasarkan fakta persidangan asmara antara calon suami teman saya dengan ex.nya, ealah .... Lina itu kok usil banget ya pemirsah! yap sebagai salah satu penasehat agung dalam perkoncoan dengan seorang teman, wajarlah ya sobganmasbrombaksist kita berbagi warta #curhat :-D, Dan tau jugakah anda sebab terbesar si calon suami teman saya itu mantap tidak ingin melanjutkan hubungannya dengan kekasihnya dulu? karena faktor terbesarnya adalah soal "attitude". Sebagai laki - laki, selama ini ia merasa tidak dihargai lewat kekasaran yang dilakukan kekasihnya. Dari omongan kasar, umpatan, juga makian yang pernah dilakukan sang mantan padanya di sebuah keramaian pameran menorehkan luka (wah kalo saya diperlakukan demikianpun pasti sama). Hinaan dalam kata - kata "indah" beraroma kebun binatang sudah umum, juga teriakan tak patut kenyang ia terima.... nah kan.. disitu saya sangat perlu mengabarkan bahwa sikap atau perilaku buruk adalah salah satu donasi keburukan yang bisa kita terima. Saya bukan meng-klaim saya manusia baik apalagi terbaik #MasihJauhPanggangDariApi, pun saya sedang tidak memberi vonis siapapun, menganggap si anu benar dan yang lain salah, lawong saya bukan penjamin apa yang disampaikan mereka benar juga kan? Tapi yang ingin saya share sebagai pembelajaran adalah poin berikut : 

1. Bahwa jodoh adalah juga perkara sikap kita bersegara dalam memutuskan
Bahwa bersegera memutuskan itu baik, dari situlah kita akan segera tau bila kita benar dalam fase ini maka waktu yang diperlukan jadi gak lama untuk masalah itu doang, dan bila salah juga akan cepetan tau sehingga segera memperbaiki langkah dan diri. Ini sebenernya bukan bacaan or nasehat baru, se-simple ini, tapi nyatanya buaanyyyaak yang tidak sanggup melakukannya, dan lagi2 atas dasar dan nama C-I-N-T-A, eeaaa... kesannya saiyah itu tangguh ya dalam perkara begini? Padahal saya pernah menjadi bagian orang-orang yang tidak tegas bersegera loh :-D #PD lagi.... Memutuskan dengan yang tidak baik atau tidak cocok dalam hal ini pasangan juga jangan karena gak enak atau alasan kasihan. Bila baik atau cocok lanjutkan segera, bila tidak maka segera sudahi, bila faktanya terusan disakiti berarti kan sinyal dari Allah apakah kita cocok dengannya?. Kenapa disarankan segera? Ya karena bila kelamaan kan gak mustahil timbul rasa "keterlanjuran", "kasihan", juga "gak enakan" kan? sedangkan sebuah rumah tangga yang niatannya bukan sensasi tapi keberlangsungan hingga jannah tentulah gak bisa hanya atas dasar alasan2 begitu! Benar kan gan? (iya liiinn........ Maaciiih sob) :-D

2. Jangan "sabari" sikap tidak menghormati atau tidak respek pasangan
Ini masih ada sambungannya dengan poin no.1. Bila memang tak kuat dengan sikap kasar, atau perendahan oleh pasangan, kekasih, yang tercinta dan apalah namanya mohon jangan dibiarkan begitu aja tanpa upaya, baik wanita atau prianya. Setiap orang kan gak mungkin mulus sempurna karena hanya Allah Yang Maha Paripurna Sempurnanya. Bila saat ini tengah, dalam, proses berpasangan istilah kata "In Relationship" dengan seseorang yang "kasar" maka memberitahu tindakan kasar sang kekasih adalah kebaikan, bila dibiarkan maka keburukan bukan saja akan diterima pasangannya tapi bisa kena ke yang lain juga kan? Misalnya saudara kita, bisa kakak, adek, ponakan, sepupu, Bahkan bisa sampe tukang sayur langganan kita loh!. Perkara ketidaksopanan kan juga gak boleh kepada siapapun, maka memberitahunya lewat cara yang baik sudah membantu pasangan tersebut kearah yang lebih baik, entah nantinya ia bisa menyatu sebagai pasutri dalam keluarga samara atau tidak berjodoh sekalipun, toh kebaikan itu idealnya kudu musti ada dalam tiap - tiap jiwa. Bila jadi baik maka Insyaa Allah amalan bagi keduanya dan ending-nya yang bersangkutan punya pertimbangan untuk melanjutkan.

Nah bagaimana bila tetap sama brutalnya? Maka memutuskan berpisah saat ini karena tidak bisa menerima kasarnya boleh jadi lebih baik walau tetap akan sakit. Tetapi ingatlah akan satu hal lain kisanak bahwa..., pesakitan itu hanya sampai disitu saja bukan seumur hidup, dan tetap lebih baik dibanding ditunda nanti - nanti  yang kemungkinan besar akan lebih sakit lagi kedepannya, utamanya saat sudah menikah. Poin kedua sebagai pembelajaran adalah jangan pernah ada pembiaraan untuk hal yang tidak baik, bukankah ada dalil-nya bahwa kita termasuk dalam kerugian kecuali yang punya Iman, yang mengerjakan amalan shaleh, dan nasehat - menasehati supaya menaati kebenaran, dan nasehat - menasehati supaya menetapi kesabaran?


3. Sikap baik nan santun adalah sebab menerima yang baik - baik
Yap ini poin substansi bangeds, entah hubungannya dengan teman apalagi calon istri or suami. Ambil simple-nya begini sob, tak usahlah kekasih yang kita kasari tapi saya tak ragu bahwa teman pun tak suka pula kan kita maki, caci, plus dihujani kata-kata kotor tak lazim begitu bukan?. Memang saya pun tak menutup mata pula bahwa ada juga kok yang berteman dan satu sama lainnya memanggil atau becandaan dengan kata - kata "indah" begitu meski tak banyak, atau  ada  pribadi di bagian bumi lain yang berdalih "kan yang penting hatinya, omongan kasar belum tentu juga cerminan seluruh pribadi tersebut buruk kellleesss?", ya memang tiap orang sekali lagi punya sisi buruk dan baiknya, bahwa benar tak semua orang yang bertutur kata lembut, santun, atau anggun maka baik semuuaaa amalan dan perilakunya, tapppiiii perkara kebaikan dari dulu tak pernah abu2, selalu jelas mana hitam mana putih. Bila beranggapan yang baik tutur katanya belum tentu cantik hatinya namun yang cantik hatinya sudah pasti tidak akan kasar terhadap sesama!. Bila kebaikan itu masih ada dalam jangkauan yang gak perlu sampai ke bulan kenapakah urung diilakukan? Sedangkan semua orang itu mau diperlakukan baik, lewat sikap juga ucapan, jadi tak salah pula bila tutur kata kita menjadi sebab yang lain bisa ikut menjauh tak hanya calon pasangan tapi juga kawan-kawan kan?, mungkin ini remeh temeh tapi banyak ditemukan fakta bahwa bermula dari tutur kata bisa membunuh sesama karena sakit hati atau dendam atas ucapan yang kadung mampir dihati seseorang dan tidak bisa ia terima

Menikah bukanlah persoalan plek 1 macam doangan, misalnya soal fisik saja atau hati saja, tapi juga menikahi perilaku yang plus en minus calon pasangan kita. Karena menikah juga bukan penggabungan plus2 ntu aja guys, tapi bagaimana satu sama lain bisa saling mengingatkan pada kebaikan. Menikah justru karena kita tau kita punya cacat, pun dia tak sempurna tapi tetap bersedia dalam ikatan halal menuju jannah dengan saling memperbaiki. Kita menjadikan dia suami, pria yang lebih baik begitupula suaminya, menjadikan istrinya, perempuan yang makin hari lebih apik inner en outer-nya #halah bahasanya..., menikah bukan juga (seharusnya) "atribut" semata yang tersemat dalam keutuhan diri sang pujaan hati, kenapa begitu? yaelah siapa sih yang gak mau berpasangan dengan si tampan, si cantik, si manis, si kaya, si bohay, si "beruang", si pangkat, dan "si" "si" yang lain, tapi adakah itu semua jadi subtansi baiknya rumah tangga? syukur kalo dapet ya Alhamdulillah, gak munafik kok say, tapi kita-pun perlu mawas diri bahwa tidak semua tuntutan, doa, dan poin - poin keinginan kita yang kita send kepada Al Qadr lantas Allah kasih semuuaaa, helloowww.... Rasulullah yang udah jaminan surga dan bebas mau open pintu jannah manapun saja ujiannya ampun-ampunan! Eeettdaaahhh gimanakah kita yang bukan siapa-siapa?, mudah kok bagi Allah mengabulkan segalanya everything..., tapi.... suka - sukanya Dia juga kan bila Allah "tidak" atau "belum" kabulkan terjadi? atau bahkan akhirnya ya memang tidak terjadi?
Finally, seluruhnya akan berujung pada Kepercayaan Qada en Qadar-Nya, itu kenapa Rukun Iman menaruh poin itu!. Lumrah kok pengen pendamping plus - plus dari rambut sampe kaki, dari musim hujan sampe kemarau, dari muda hingga tua, kini dan seterusnya nanti. Hanya saja reminder juga nih buat kita agar paham bahwa pasangan kita sejatinya cermin diri ini, bila ia kita "anggap" belum baik maka mungkin saja salah satu kode dari-Nya bahwa diri kita boleh jadi belum berlaku baik juga, sehingga tak heranlah bila masih berpasangan dengan yang buruk karena salah satu kunci pentingnya ada sesuai yang Firman-Nya sampaikan, wanita yang baik untuk laki2 yang baik dan sebaliknya. So, apapun masalahnya saat ini dengan pasangan utamanya kok ya ketemu minus - minus mulu maka sekali lagi dapat saiiyyaah sebarkan bukan hal yang aneh soalnya ia adalah salah satu berita terkini agar kita berbenah yang Insyaa Allah kedepannya entah dengan dia atau tidak, saat ini or nanti hanya yang membawa kebaikan saja yang akan berdampingan, Aamiin Yaa Mujiib ... :-)  

Akhirnya segalanya kembali lagi pada pelajaran bahwa segala yang baik tak melulu berat karena hal ringan atau sepele pun bisa kok membuat kita sebagai hamba-Nya yang beriman atau ingkar bukan?. Moga kita semua tetap ada dalam shaf kebaikan ya kawan, Aamiin Yaa Rahman... :-)

Erlina Febrianovida 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Imunisasi Guin : MR @RSBK

Bismillah, Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh Alhamdulillah, Sabtu 04 Agustus 2018 lalu, Guin di usia 9 bulan (kurang bebera...