Rabu, Januari 06, 2016

Akhirnya, Janur Kuning itu... Melengkung

Alhamdulillah..., Jum'at 25 Desember 2015 lalu saya menikah..., hehehe ... udah telat bingits sich mo lis tulis..., padahal siapa juga yang perduli yah :-D. antara sorak sorai hore, yuhuuu...., terharu hingga terhara, dan ingin bermewek ria bahu-membahu menjadi satu rasa bernama Bahagia, Happy, dan padanan kata senada lainnya dalam berbagai bahasa yang berbeda - beda bisa sangat mewakili perasaan kami sekeluarga :-).

Kini saya resmi menjadi seorang istri :-) #Eng Ing Eng..., padahal dalam postingan setahun lalu (Resepsi dalam Resolusi) saya masih seorang dir-sendiri, ngel-singel alias angka satu alias jomblo istilah bully-nya hiks hiks hiks.... Segala rasa persiapan pernikahan dari mulai asyik masyuk sampe ada hiruk pikuk kegamangan disertai kegalauan selesai sudah. Penantian si "White Horse Prince" (ciye ciye...) kini juga sudah tamat. Seseorang yang saban hari dalam hitungan 3 bulanan yang saya panggil ia dengan nama "Mas Indra" resmi menjadi "lelakiku" (halah...), dan kini pula kami resmi menjadi pasutri dengan pengharapan yang sama atas doa yang terucap agar Allah memberkahi kami dan mengumpulkan kami dalam kebaikan,

"Baraka Allahu lakuma wa baraka alaikuma wa jamaah baina kuma fii khair"
Semoga Allah menganugerahkan barakah kepadamu, semoga Allah juga menganugerahkan barakah atasmu, dan semoga Dia menghimpun kalian berdua dalam kebaikan
(Hadits Riwayat Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibnu Majjah)

Aamiin Yaa Rahman...

Menuliskan ini bukan soal publikasi semata karena tulisan dinilai baik salah satunya bila terjadi pembaruan sikap baik setelah membacanya. Soal persiapan? Wuuuiiihhh... kagak perlu lah yah di inventaris tu satu karena takutnya hanya membuat ngos-ngosan yang 'mbaca. Hhhhaaahhh kena apah begitu???...

Saya dan Mas Indra kenal via Sos Med (saya menganggapnya salah satu bentuk sosmed walau Ayo Nikah adalah salah satu ajang pencarian bakat untuk menemukan pasangan #BiroJodoh), tepatnya kami berkenalan tanggal 27 September 2015. Singkat kata karena ingin singkat cerita meski sering panjang kali lebar faktanya, Mas Indra mengajak Kopdar tanggal 03 Oktober di salah satu dedengkot Mall di Jakarta Barat (Alhamdulillah selain satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa, kami juga satu kotamadya, Jakarta Barat tepatnya). Dari Kopdar yang hanya berdurasi tidak lebih dari 1 x 24 jam itu kami makin intens berkomunikasi, dan beberapa hari setelahnya Mas Indra mengumumkan (hadeuh ini bahasanya....) bahwa dirinya mau main ke rumah. Tak bermaksud bermain monopoli atau ular tangga tapi Mas Indra dengan kesungguhannya (uhuuiii...) ingin tahu rumah beserta isinya.... maksudnya bertemu mama dan anggota keluarga saya yang lain. Dan... Dag Dig Duer #detergen ... Sabtu 10 Oktober 2015, seminggu sejak kami bersua untuk pertama kalinya ia bertandang ke rumah (sambil mengerjap - ngerjapkan mata...).

Tak dinyana juga tanpa saying "I Love u" dulu (ehem ehem....) eh lah kok dia minta ijin ke mama karena minggu depannya ia berencana akan mengenalkan saya ke keluarganya, O Em Jiiii..., macam mana pulak secepat iniiii....., aliran apa yang ia anut sehingga dengan pede-nya ingin mengenalkan diri ini yang hina dina meluncur ke rumahnya? bertemu dengan ortu dan seluruh penghuni rumahnya? #Anggota Keluarga. Hari itu Mas Indra rampung menemui seluruh anggota keluarga saya termasuk mbak Erni yang kediamannya sekitar 10 menit menggunakan  motor dari rumah mama saya.

Disingkat lagi aja yah... seminggu kemudian yakni Sabtu 17 Oktober Mas Indra mengajak saya ke rumah ortunya dan mempertemukan saya tidak hanya dengan kedua orang tuanya tapi juga saudara2nya yang lain. Daaannnn... 18 Oktober saat kami dan keluarga Mas Indra main ke saudara Mamanya Mas Indra #Saudara Ibu Mertua kami dicarikan "tanggal baik" yang untuk sementara waktu secara sepihak diputuskan bahwa 25 Desember  adalah hari yang bisa dipakai (baju x yyyuuaaa...) untuk perhelatan Akad Nikah kami (tentu setelah ada kesepakatan kasar pertimbangannya yah kami iya apa tidak menikah). Meski masih dalam suasana kebingungan membahana tapi akhirnya saya tak lupa mengucap apa yang menjadi salah satu lagu populernya bang Opick feat Amanda "Alhamdulillah Wa Syukurillah, bersyukur padaMu ya Allah...." Tunggu sodara - sodara... Tissue mana tissue mana #sambil berkaca - kaca.

Sabtu depannya, 24 Oktober 2015 keluarga besar Mas Indra datang untuk berkenalan sekaligus menyatakan pengukuhan atas tanggal yang sebelumnya digadang-gadang sebagai hari baik untuk menghelat acara pernikahan kami.
Tek tretek tek tek tek... Dung Dung Dung ..., Alhamdulillah lagi hari itu adalah salah satu moment kami yang istilah ke-inggris-annya "Moment to Remember-lah" poreper en eper gituh :-D.

Dan Jum'at 25 Desember 2015, di sebuah tempat yang kami sewa, tepatnya bernama Pendopo Betawi Cengkareng kami menikah #Maniiissss, dihadiri keluarga besar dan sejumlah kawan - kawan terdekat kami, pukul 7 pagi (kurang lebih, pokoknya gak lewat dari jam 8 pagi) Pak Penghulu, Pak Muwardi, sang penjaga KUA Cengkareng sendiri #Kepala KUA yang resmi menikahkan kami (Trims ya pak meski Jum'at itu adalah hari libur dan hanya kami saja yang melangsungkan pernikahan bapak dengan semangat 45 serta perjuangan ala 10 Nopember bapak berkenan hadir #Aku Terharaaaa... hiks hiks hiks...).

Acara selebihnya..., sama seperti kemeriahan walimatul ursy' pasangan pengantin pada umumnya, diselingi yang tak hanya makanan, minuman, cemilan, juga gelak tawa cekikikan para sodara-sodari serta kawan2.
Alhamdulillah, walau ada satu, dua, tiga, dan empat ketersendatan yang sempat mampir sesaat tetapi segala pernak - pernik walimatul ursy' kami bisa dicap aman sentosa lancar lan beres dalam sederhananya suasana #halah!.

Trimssss berat pake gak terhingga buat Ar Rahman yang pernah saya lempari tanya serta sering saya hadiahi rasa "tak percaya" Dia berkenan memasangkan saya dengan hamba terbaik yang sesuai dengan saya... disitu saiyah speechhhleessss....
Pelajaran, kesimpulan, konklusi, atau apalah yang bisa saya umumkan disini terkait "kejombloan" yang sebelumnya pernah menderaku #alay banget, adalah bahwa :

1. Keteguhan, kemantapan, ketahan bantingan kita dalam berupaya bersua dengan belahan jiwa memang bukan hanya sekedar "percaya" jodoh itu Ar Rahiim atur, karena logikanya adalah kalo bumi dan alam semesta yang guueddeee gini aja kecil banget Dia Cipta, masak-kah sulit baginya "membenturkan" kita pada jodoh yang sesuai dengan kita to? #bahasanya rada2 ya ane :-P. Yang jadi persoalan bukanlah Allah yang tidak mau apalagi tidak mampu, tapi Allah masih pengeeennn liat usaha jedat - jedotnya kita terhadap apa yang ingin kita raih. Masihkah dalam sulit terhimpit seolah nemuin satuuuuu orang yang cocok aja kok ya susah sumprit kita masih dalam "Iman" yang benar pada-Nya?, karena Iman kan suka turun naek, diawal upaya tinggi binggo eh udah rada tengah2 perjalanan justru kaya' krupuk masuk angin #melempem.

2. Apakah boleh mengeluh? boleh, bahkan mengeluh pada-Nya emang kudu! sebagai bukti kita adalah hamba sedangkan Dia Yang Maha Kuat adalah Tuhan tempat bergantung bersesenggukan ria #gak segitu lebaynya kaya' saya sih yak .... Hanya saja mengeluh pada Al Malik memiliki bobot yang berbeda, maksute opo Lin?. Mengeluh pada-Nya udah pasti menyadari bahwa kitalah selama ini yang salah, entah sikap, perbuatan, tutur kata, atau gerak - gerik kita. Dan konsekuensinya meminta maaf pada-Nya @Ber-Istighfar tepatnya, karena dipastikan Allah punya alasan benar lagi tepat kenapa bukan jam dan hari ini kita bersanding di pelaminan kan?. Bukan bermaksud menasehati "sok tegar" mentang - mentang saya udah bermisua tapi faktanya kan cuman Dia yang gampang bilang "Jadilah" lantas "Jadi" dan sebaliknya bukan?. Wajar menangis, mengadu, mengemis pada-Nya karena semua balik pada-Nya, tapi lutcunya nih kita - kita ini (termasuk saiyah loh pemirsah) sudah yakin bulet - bulet Dialah si Empunya pasangan kita tapi langkah kita masih sering ada selintas (kalo saya sempet berlintas - lintas) ragu pada langkah dan upaya sehingga tak jarang ada rasa "pupus" di jiwa ini, kalo sudah gitu sering nih mendarat bisik - bisik syaithan yang akhirnya sering juga kita "iya"in! (moga kita termasuk yang konsisten dalam Iman pada-Nya, Aamiin...).

3. Kesendirianku sebelumnya #ciieee dipertegas nih yeee.. "sebelumnya" (kayena kan sekayang gak sendiyi lagi olala...), juga mengajarkan bahwa apa yang tidak terjadi tidak harus kita ketahui! karena yakin deh Yang Maha Mengetahui tuh Lebih Tahu dan Kenal kita tuh kek gimana!. Kena apakah aku bilang begono? Saya serriiiiingggg banget bilang "kenapa Yaa Khaliq kok akhirnya aku putus sama dia, dia, dia, dan dia?", maklum dulu saya tuh pengalaman "selesai" alias gagal nikahnya cukup kenyang (sombong apa curcol beda tipis nih), dan terbesit pikiran "kan sudah seharusnya pas kalo sama dia", seolah bila Allah tak beri transparansi atas ketidak jadian apapun dalam hidup kita maka Dia "curang", padahal kitanya aja yang Sok Tahu!. Seolah seharusnya apapun yang gak terjadi kita tuh di inpo dengan detail dulu (hahaha... siapakah kita???). Misalnya kita tidak berjodoh dengan si A karena Allah paham si A sebenernya peselingkuh serbaguna (maksudnya suka gonta - ganti pasangan), akhirnya Allah jauhkan si A dari kita, tapi lutcunya saat si A dijauhkan dari kita lantas hanya karena kita tidak tau saat ini dia peselingkuh terus kita bilang "kenapa sih Allah jauhkan aku dengan si A?", lalu apakah harus Allah biarkan dulu kita tau dengan cara kita dikhianati baru kita bisa terima kita dijauhkan dari si A? gak begitu kan sob?, atau contoh yang lain yang setelah kejadian kita suka berandai - andai "seandainya tadi tuh begini... pasti kejadiannya begitu..." (pokoknya kita memvonis kita tuh tau), padahal pula boleh jadi bila Allah tidak ijinkan dia dengan kita pasti karena Allah punya pertimbangan yang sudah pasti Benar, apapun alasannya, bagaimanapun sesalnya kita, apalagi sudah terjadi!, maka teruslah berupaya ikhlas. Tidak mudah memang, tapi dengan terus dicoba Insyaa Allah hati akhirnya legowo, lagian gak mungkin juga kan Allah menyengaja sesuatu terjadi or enggak terjadi untuk kejelekan hamba-Nya?

Hhhmmm..., udah ya sob segitu aja (iyyaaa kelleeesss udah banyyaakkk....), Alhamdulillah Allah masih perkenankan saya berbagi dan Dia masih beri saya orang2 yang sayang dengan saya.

Buat siapapun sobat dimanapun berada, entah klise or enggak, entah sok-sok an atau begimana... saya hanya ingin memberi suatu gambaran fakta bahwa Hidup dalam Iman bukanlah selalu manis segalanya karena kalo cukup dengan bilang Iman lantas gak diuji lagi maka Rasulullah seharusnya gak dilempar - lempari batu dan kotoran, gak perlu diludahi, dan gak perlu keringetan pake darah perang - perangan kan? segitu ujiannya manusia yang sudah Allah jamin Jannah-Nya apalagi kita yang gak pernah dikasih surat edaran jaminan mau pilih Jannah di pintu yang mana kan?

Love you all, May Ar Rahman still guides us to the right path, Aamiin...
Erlina Febrianovida

Sumber Gambar : alienco.net (paling atas) dan dokumen pribadi penulis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Imunisasi Guin : MR @RSBK

Bismillah, Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh Alhamdulillah, Sabtu 04 Agustus 2018 lalu, Guin di usia 9 bulan (kurang bebera...