Alhamdulillah masih ada isinya...

Kemarin baru aja selesai ngehatamin buku "Berbekal Setengah Isi Setengah Kosong", dan ternyata saya termasuk makhluk Allah minim syukur (ngaku bangettsss...). Buku karya Syafiq bin Riza bin Hasan bin Abdul Qadir bin Salim Basalamah, MA, Dr. bagi saya menjadi pengingat untuk diri saya sendiri bahwa selama ini ada banyak "Isi" dalam kehidupan kita yang sudah pasti masuk dalam daftar inventaris ni'mat Ar Razzaaq yang terabaikan (lebih tepatnya sih gak diinget...)

Sebagai Yang Maha Berkehendak Allah memberi kita kebebasan, bahkan sampai urusan keyakinan #Iman pun Dia menyerahkan putusannya kepada kita (ya tentu dengan balasan masing2 sesuai maunya Dia yah). Mau sepenuhnya hingar - bingar hepi2 aja tanpa mau tau dunia akhir ya silahkan, mau ambil di jalan yang "on the right track" juga plis du.... Dan salah satunya ada dalam buku ini. Mindset, nilai yang kita anut juga persepsi kita sangat dipengaruhi oleh sekitar, entah ikatan paling dekat seperti keluarga juga kerabat, kolega, bahkan pendidikan yang kita kecap (ini mengingatkan saya pada kalimat yang sering saya dengar juga sering saya ucap "dasar gak makan bangku sekolahan siihhh..." hehehe... ya gak mungkinlah ya makan bangku atau meja sekolahan... selain karena keras untuk pencernaan, kita juga bukan dari golongan rayap!!!). Oke - oke, maksud saya adalah dengan pengetahuan juga perkembangan plus segala hiruk pikuk yang wara - wiri di kehidupan kita, menjadi sebab kita menjadi pribadi yang seperti apa

Ya, itu sebabnya gak perlu takjub lah ya saat berpapasan dengan pribadi yang baru juga kenal en celangak - celinguk eh demen banget curhat soal belitan kesusahan hidup, padahal yang dicurhati bisa jadi sedang teriris hatinya karena masalah yang lebih besar dibanding si yang curhat tadi, hanya saja bedanya dia tidak publikasi dan pasang pengumuman di berbagai medsos ibukota dan internasional. Melewati laranya hidup sejatinya bukan hanya berkecimpung pada solusi bagaimana agar bisa lulus dalam ujian yang Allah beri, tapi juga "kentongan" untuk hati bahwa mungkin saja ni'mat yang dulu sempat Allah layangkan kita ingkari dan kini Allah ambil kembali, dan "kentongan" selanjutnya adalah apakah dengan lilitan cobaan itu kita masuk dalam jajaran makhluk yang selalu mengutamakan melihat minus-nya atau mereka yang "cakap", "mampu" melihat plus dalam hal - hal yang minus tadi

Seperti dalam buku tersebut, saat kita melihat gelas yang hanya setengahnya saja terisi air maka pandangan kita lebih condong kepada sedih membahana karena hanya setengah saja yang terisi atau masih "mampu" legowo karena bersyukur masih ada isinya?. Ya sebagai manusia yang sering absen kekeliruan juga dosa menjadi sosok yang lurus rus seperti Rasulullah memang tak mungkin mudah (ya kan selalu ada syaithan yang hadir menemani, syaithan yang satu pergi datang lagi syaithan beserta ajian - ajiannya supaya kita jadi yang gak bener to?), namun demikian mudah - mudahan dengan upaya terus memperbarui keyakinan kita pada-Nya, InsyaAllah menjadikan kita semua bahkan saat "melenceng" sekalipun mampu masuk lagi dalam lurusnya "shaf" kebaikan

Tak usahlah jauh - jauh karena saya sendiri saat ini masih begonoh..., saat belum menikah maka permintaan pada-Nya gak pernah lupa supaya dipasangkan dengan yang sesuai (disertai isak tangis lagi sedu sedan kalimat rintihan lainnya), setelah menikah masih juga ngeluhnya gak putus - putus malah sambung - menyambung terus, dan bulan berikutnya setelah pernikahan kami, saat Allah beri titipan dalam bentuk kehamilan, saya masih juga gak pernah lupa untuk sering berkeluh kesah pada suami karena hamil pada bulan - bulan pertama sulit bagi saya (eeaaa ini jadih sesi ngeluh nih....), padahal tuh yah gak jauh dari kehidupan saya ada seorang kawan yang usianya setaraf, bahwa ada yang lebih senior dan belum menikah, padahal lagi ada kawan suami saya yang beberapa kali keguguran dan sedih banget rasanya harus kehilangan debay meski usia pernikahan mereka sudah 5 tahun, terus juga ada nasabah dimana tempat suami bekerja sudah 10 tahun menikah dan belum juga Allah perkenankan memiliki anak

Membaca buku ini jadi ada gurat senyum, malu campur apa yah... hohoho...karena sungguh dukanya hati yang kita rasa sangat jaauuuhhhhh sakitnya dibanding pendahulu seperti Rasulullah, sahabat, dan mereka - mereka yang kokoh ibadahnya (kalau saya kokoh pada keluhannya...), atau bahkan dibandingkan dengan sekitar kita yang berucap "enaknya kamu masih bla, bla, bla..." atas hidup yang masih suka kita kasih komen "Aduh.../ hhmmm... / sebel banget deh gw hari ini..."

Akhirnya soal anda atau saya ada dikondisi dimana atau yang bagaimana ternyata bukan pada soal masih mendingan mana dia, saya, aku, kamu, atau anda, tapi pada kapabilitas (ciee bahasanya...) atau istilah katanya 'Kemampuan" kita melihat setiap bentuk "Pemberian" Allah, karena entah itu kita nilai "Plus", "Minus", "Baik", "Buruk", "Untung", atau "Rugi" kesemuanya tetap ada Nilai Baiknya, Lah kan Dia sudah janji :

"Bersama kesulitan ada kemudahan" (2 x loh disebut)

Dan karenanya amalan kita ada dalam bagaimana upaya kita "mengelola", menghadapi "beban" yang saat ini kita pikul, mau pilih bersungut - sungut atau mentabahi akan tetap ada "reward" dari-Nya. Mudah - mudah2an kita termasuk dalam "gerbong" mereka - mereka yang terus memperbarui kesyukuran yah, Aamiin ...
-----
Deskripsi Buku :
Judul : Berbekal Setengah Isi Setengah Kosong
Penulis : Dr. Syafiq bin Riza bin Hasan bin Abdul Qadir bin Salim Basalamah, MA
Penerbit : Rumah Ilmu
Bahasa : Indonesia
Kondisi : Bekas, Baik

Sekilas Info :
Bila memandang sebuah gelas yang berisikan air setengahnya, maka sebagian orang akan berkata, "Setengahnya kosong", dan sebagian lagi berucap, "Setengahnya Isi". Termasuk orang yang manakah anda?

Bila yang pertama, maka ini sebuah indikasi bahwa anda adalah orang yang hidup dengan kacamata pesimis, selalu memandang kepada kekurangan, dan biasanya orang yang seperti itu, hidupnya senantiasa berbalut kesusahan dan bermantel kesengsaraan, karena dirinya lupa memandang kepada isi yang terdapat di gelas tersebut, walaupun hanya separuh.

Adapun insan yang berkata "setengahnya isi", maka ini salah satu petunjuk bahwa ia adalah orang yang optimis karena ia memandang lewat kacamata isi, ia tidak peduli dengan setengahnya yang kosong karena bagaimanapun gelas itu ada isinya, dan ia berucap "Alhamdulillah, masih ada isinya."
---
Buku ini bisa sobat dapatkan lewat Bukalapak atau kontak Er Feda di WA 0856 716 2636 / Line @erfeda untuk update stoknya bila di Bukalapak tertulis "stok habis" :-)

Komentar

Postingan Populer