Langsung ke konten utama

Dialah Yang Baqa’, selebihnya adalah Fana’…

Pagi ditarik siang, lantas lebur dalam hangatnya sore hari, dan akhirnya menyatu dalam gulita dengan pesona kedap - kedipnya bintang. Begitulah salah satu sisi keni’matan yang selama ini terus Al Khaliq suguhi, salah satu sisi yang akan digantikan dengan sisi yang lain, kondisi satu akan terganti dengan kondisi yang lain. Kadang sukar banget sebelum akhirnya Allah beri yang mudah, lain waktu sakit ampun – ampunan... tapi eh.... tak lama datang si sehat bersama wal alfiat, saat sedang jatuh terluka entah fisik bahkan sampai bathin “merasakan” kok ya Allah nyobanya gini banget..., dan lagi - lagi selalu tak terduga Allah dengan cara-Nya mendekap, mengulurkan pertolongan..., pasti dari kita pernah kan merasakan saat ini sik – asik aja padahal dulu saat bersua musibah tuh air mata seolah tak lekang habis dimakan massa, tapi kini … eh hellooo… semua itu sudah lewat yah?

Ya, bagi kita sebagai muslim InsyaAllah sudah pada ngelotok ya soal apa itu pasang surut kehidupan, meski secara teori cakep tapi sering saat segala yang gak enak terjadi lupa bahwa Firman-Nya
“sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan”
suka kita “lupakan”. Kita pada dasarnya paham bahwa cuman Allah the one and only yang Kekal, tapi sebaliknya saat sedang lekat dengan kepahitan malah “merasa” pahitnya hidup-lah yang kekal, padahal sudah pasti jelasnya selain Ar Rahman yang lain itu Fana’ kawan...

Ah … saya enak saja sepertinya menuliskan ini, seolah segalanya mudah diucap, ditulis, lantas dijalani. Hehehe… saya memang tidak bermanis – manis ria kok karena sadar dan paham (yah walaupun saya sering mendahulukan mewek juga kalo lagi “ditegur”-Nya hihihi…) bahwa hidup itu gak mudah, yang lain bilang sulit, sukar bahkan yang ekstrem berujar “yang haram aja susah apalagi di jalan halal?”. Iya iya... saya setuju bahwa berucap atau nasehat baik or manis memang tak mudah diperankan juga sulit dilakoni. Tapi apa karena demikian lantas mencoba terus di cahaya Baik-Nya boleh dipadamkan gitu?, syaithan aja yang di jalan sesat mesti susah payah dulu menggoda Nabi Adam dan kini keturunannya, apalagi yang berupaya di jalan baik lagi amanah? Sudah pasti “busrut – busrut” langkah kita kan?

Terus maksudnya menuliskan ini itu tuh apa? Tak lebih dari sekedar reminder, alarm bagi saya sendiri yang masih aja suka di jalan yang disukai demons :-) belum lagi bumbu pakai “nyangkain” Dia begini dan begitu, padahal juga Dia sudah Berfirman pokoknya Dia sesuai prasangkanya kita. Menuliskan ini begitu saja saat saya melihat lewat diri saya sendiri juga kawan yang lain yang saat ini mungkin sedang sering menumpahkan air mata lantaran Allah sedang mencoba kita dengan ujian “yang menurut kita” nih kita tuh udah gak tahan en gak mampulah…. Padahal yah saya temukan berderet – deret orang diluar sana yang masih menginginkan kehidupan kita yang saat ini lagi seru – serunya kita gerutui. Selain itu masih tak terhitung juga mereka – mereka yang punya problem serupa bahkan lebih besar namun ikhlasnya mampu melebihi besarnya ujian yang Allah beri, udah gitu masih bisa senyum lagi…

Ya benar bahwa tiap - tiap pribadi diuji, gak mungkin kita selenong boy hidup selalu ketawa dan ketiwi, sudah tentu ada saja cobaan dari-Nya menyertai. Hanya saja kabar baiknya adalah sungguh Allah Maha Tahu sampai dimana batas kesanggupan kita memikul sebuah beban kesakitan hidup sehingga tak mungkin baginya memberi hal - hal seputar kerasnya dunia ini diluar bisanya kita

Selalu saya ucapkan utamanya untuk saya sendiri bahwa segalanya bisa kita cari celah untuk memaki hidup sendiri. Iya bener, siapapun kita selalu bisa dan pasti mahir menghitung "kesengsaraan" yang dirasa meski dari hal remeh - temeh, dari mulai mencela pagi hari yang Allah masih kirimi kita usia, mengkomentari tiap makanan juga minuman yang masih Allah beri, sampai berkeluh kesah soal seharian itu yang dimata kita ”minus” saat menjelang tidur lagi. Seolah ke-tidak-enakan yang hari itu sempat mampir adalah hal permanen dan tak punya sisi baiknya, seakan ni’mat Allah hanya secuil yang kita rasa gak enak itu saja, dan sepertinya hanya kita seorang saja yang “gak pernah” mujur – mujur dan “begini – begini” aja dalam hidup. Dan keadaan bisa juga berbalik "ramah" pada kita saat pandangan kita selalu mengambil yang plus dulu atau istilah yang sering didengung - dengungkan adalah berpikir, berucap dan bertindak positif. Lantas apakah saat segalanya sudah kita upayakan "positif" terus ujug - ujug hepi - hepi aja? nyatanya enggak sob, tapiiiii paling tidak dengan mengupayakan segala baik sangka maka kita bisa selangkah tetap lebih baik dibanding yang memilih "merasa korban" sebatang kara doangan. Nah, sudah bisa ditangkap pikiran kan bila yang sudah jungkir balik, kepala dibawah kaki diatas dan sampai kaya' gangsing usaha baiknya aja belum tentu disegerakan hepi, apalagi yang dalam agenda hariannya selalu punya jadwal buruk sangka saja?

Sering dari kita (yang nulis ini juga masih gitu orangnya) soal kesenangan baru nancep terasa saat Allah coba "tarik" kembali ni'mat yang Ia beri walau kadang cuman sedikit. Seperti saat membuka mata pagi hari dan kita rasakan mata berair dibarengi rasa sakit barulah kita tahu asyiknya kemarin saat mata sedang sehat, saat bibir sariawan pun masih sempat menyalahkan makanan dan tak ingat saat sehat lupa berucap pujian pada-Nya, pekerjaan rumah yang buanyak justru menjadi ajang mengeluh (bahkan di sosmed) dan sama sekali tak ingat bahwa bisa saja kok kita gak usah punya kerjaan rumah yang banyak lantaran kita gak punya rumah kan? Kalo enggan bahkan “gerundel” saat cucian banyak maka sebenarnya saat itu kita punya pilihan antara mau nyuci banyak atau gak usah nyuci karena Allah hanya beri satu baju saja di badan!

Kepenatan hidup, rasa sempit, hingga pundak ini kok yaaa berraaat banget “mengangkut” beban hidup adalah Fitrah, Sunatullah, akan selalu ada. Disitulah salah satu ujian atas sikap kita Allah ingin lihat. Bukan Allah tak tahu karena mustahil baginya buta lagi tuli, tapi Dia “masih ingin” loh melihat wujud Iman kita lewat ketidak enakan yang kita dera, karena beriman full tank saat sedang diatas itu tentu lebih mudah dibanding saat sedang down bukan? disitu jugalah ujian yang setelahnya akankah kita masih berderajat sama atau naik tingkatnya?. 

Yap, bukanlah fokus kita memang kenapa ini dan itu kita terima, bukan juga pikiran kita tumplek blek kenapa sih ujian ini harus ada lagi berat kita rasa, dan kenapa juga akhirnya takdir gak asyik begini bisa - bisanya mengenai kita!. Benar kok kita gak apa juga sesekali sedih tetapi gak boleh juga terus –terusan. Menangis atau mengadu? Wah boleh banget tapi tetap curhatnya ke Dia, dan tetep juga jangan berduka melulu, karena disaat seperti itulah kita lewat sikap kita masihkah "lurus" menghadapi ruwetnya masalah yang saat ini kita genggam. 

Bagaimanapun segalanya harus tetap berjalan, dan kita selalu punya pilihan mau “jalan” yang bagaimana guna mengharap Rahmat-Nya yang selalu ada stoknya. Fokus pada pemecahan terbaik sesuai mau-Nya itu idealnya (ya sekali lagi tahapan ideal sesuai jalan lurus pasti juga gak akan mulus adem ayem karena syaithan tuh selalu aja gondok bawaannya saat hamba-Nya terus berupaya kepada Allah oriented), karena tak mungkin fokus pada masalah – masalah itu yang jelas Fana’. Sulit awalnya, tapi catat juga bahwa semua bisa terasa lebih berlipat - lipat susahnya saat kita cenderung memilih kacamata "kurang" melulu...,

Akhirnya saat sudah tak lagi fokus pada yang sebentar saja selalu fana', dan mungkin sesekali masih "salah" InsyaAllah diri kembali lagi dan bertahap Ikhlas "Beriman" pada Dia yang Baqa'..., yang Kekalnya tak ada awal dan tak ada akhirnya. Mudah2an dengan yakin yang utuh itu InsyaAllah pula kita bisa woles, atau sedih sekedarnya saja saat ada dalam belitan ujian dari-Nya yah, Aamiin... :-)

Sumber Gambar :
azwarazis.blogspot.com (Atas)
entrepreneurialpractice.com (Bawah)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Persiapan Persalinan - Estimasi Biaya Bersalin @RSIA Budi Kemuliaan

Alhamdulillah ala kulli hal, sambil menunggu debay launching, kali ini saya mau share sedikit soal estimasi biaya persalinan yang saya dapat dari RSIA Budi Kemuliaan, RS yang selama ini saya jadikan tempat pemeriksaan anak kedua saya dan Insya Allah tempat bersalin debay nanti. Ini penampakan price list-nya...
Dulu saya bingung kok gak ada keterangan kelas - kelasnya yah...? ternyata langsung dengan namanya dan dalam lembar info harga itu pake acara disingkat - singkat lagi nama kamarnya #EtaTerangkanlah. Berhubung saya gak enak kan nanya - nanya banyak, jadi saya langsung aja tanya kelas I itu yang mana karena jatah dari kantor misua lewat asuransi Mandiri In Health saya dapat kelas I. Awalnya saya tanya kelas dua yang mana daftar harganya, karena saya gak ngeh kalau kartu Mandiri In Health saya ternyata adalah Kelas I (Haduuuhhh.... kartu yang saban hari mengisi dompet aja gak apal kelas kamar-nya... qiqiqiqi....) Informan mbak suster bilang kalo kelas II yang ini (sambil menunjuk …

Periksa Kehamilan di RSIA Budi Kemuliaan (Bulan Kedua)

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh..., Alhamdulillah baik saya maupun anda masih Allah perkenankan usia yang mudah2an tetap dalam berkah dari-Nya, Aamiin Yaa Fattaah. Sholawat dan salam terus kita panjatkan kepada manusia terbaik yang sudah pasti masuk Jannah-Nya, Rasululullah Shallallahu’alaihi Wasallam beserta keluarga, kerabatnya, para sahabat, dan siapapun yang mengkuti sunnah beliau hingga akhir massa nanti, Aamiin Yaa 'Azhiim.

Minggu ini Insya Allah, Sabtu 20 Mei 2017 saya akan bertolak (#weeeekkk...) ke RSIA Budi Kemuliaan (BK) karena jadwal cek rutin bulanan kehamilan saya yang memasuki bulan ke 3, buuutttt... saat ini saya gak lagi mau ngomongin bulan ke-3-nya (ya iyalah cuy ini aja baru tanggal 17 Mei.... begimana ente?!) akan tetapi mau orat - oret menulis soal cek kehamilan saya bulan ke-2 lalu hehehe #telat mposting-nya :-D.
Bulan kedua saya cek pada tanggal 22 April 2017. Tiba di BK sudah mendekati pukul 2 alias injury time karena dr. Flora jadwal yang siang…

Periksa Kehamilan di RSIA Budi Kemuliaan (Bulan Pertama)

Assalamualaikum sobat, Alhamdulillah Allah masih saja menumpahkan kasih sayang-Nya yang hingga kini baik saya maupun anda dalam ukuran terbaik menurut-Nya :-)

Kali ini mau sharing tentang biaya periksa kehamilan di RSIA Budi Kemuliaan, barangkali aja informasi ini turut membantu para moms yang saat ini mencari - cari referensi RSIA atau menjadikan RSIA Budi Kemuliaan sebagai pilihan untuk periksa kehamilan hingga persalinan nanti.

Tanggal 25 Maret 2017 lalu Alhamdulillah saya dipastikan positif hamil oleh dr. Spog bernama Dokter Flora yang bertugas di RSIA Budi Kemuliaan, walau seminggu lebih sebelumnya saya pun sudah mengetahui bahwa "mungkin" saya hamil karena testpack menunjukkan garis 2 merah, tapi berhubung saya berpedoman kalo belum ada bukti otentik lewat USG masih belum PD bilang "Yes I Am, Alhamdulillah I'm pregnant", meski saya yakin banget, karena pengalaman di kehamilan yang pertama dan selama ini siklus saya tidak pernah mundur/lambat kecuali hami…