Menantang Pantangan!

Hehehe..., lagi musim kondangan nih bulan - bulan sekarang, jadi inget memori masa lalu #cielah... tapi mo ketawa - ketiwi juga menuliskan ini, karena teringat pula betapa saya antiiiii banget sama pantangan yang berbau klenik yang ujung2nya itu baik langsung or enggak sama saja percaya bahwa ada yang lebih kuasa dibanding Dia, Al Khaliq.... Lutcu campur sebelnya adalah saya harus berhadapan dengan mereka yang ngotot masih melestarikannya plus mencibiri saya yang gak mau melaksanakannya! pasalnya bukan perkara takut tapi saya gak mau cari "keramaian" alias berantem apalagi sama keluarga khususnya emak saya sendiri #dongkol kan jadinya...

Gini ceritanya sob..., menjelang dan pas hari H menikah ada "rambu" yang kudu saya patuhi, dari pihak keluarga tentunya. Saya menikah pada hari Jum'at tanggal 25 Desember 2015, dan dapat tanggal segitu bukan tanpa alasan tapi berdasarkan pertimbangan dari saudara pihak suami yang katanya "tanggal baik" (hhhmmm... mulai deh angkat alis...). Sebelumnya sempet ada kekhawatiran dari pihak keluarga saya mengenai tanggal itu karena belum melihat tanggal itu jatuhnya apa dalam penanggalan jawa (itu loh yang dinamai pahing, pon, wage, dst...), karena kalau jatuhnya Jum'at Pahing (kalau gak salah) maka disarankan harus saya tolak demi "keselamatan" karena alm. Bapak saya meninggal di Jum'at pahing itu. Sudah saya jelaskan bahwa saya tidak memakai begitu - begituan karena dulu pun pernah saya menyengaja bepergian jauh di hari penanggalan Jawa dimana alm. Bpk saya meninggal dan Alhamdulillah sehat - sehat saja tuh... dan tidak terjadi sesuatu apapun!. Menurut emak saya tanggal jawa dimana ortu meninggal gak boleh dipakai buat bepergian jauh sama buat hajatan gitu..., lah kalo saya pas sempet liburan ke benua Eropa pas hari dan tanggal segitu gimana dong wkwkwkwk #cukup duit juga kagak pergi ke Eropah hihihi...

"Oke kalo kamu gak pake, artinya bila nanti jatuhnya Jum'at Pahing maka tanggalnya tetap segitu kan?" begitu penegasan dari kakak saya yang termasuk salah satu dari mereka yang menggunakan adat demikian, dan tentu saja saya jawab "Iya" pake banget :-D.

Akhirnya didapatlah tanggal akad nikah tanggal 25 Desember 2015. Namun demikian Walimatul Ursy atau istilah populernya resepsinya kapan belum ditentukan. Tersebutlah diawal kesepakatan tanggal 26 Desember 2015 alias hari Sabtu alias pula satu hari setelah akad nikah berlangsung Walimah akan dihelat. Tetapi eiiittss... lagi - lagi terbentur adat penanggalan Jawa bahwa pada hari Sabtu itu tepat hari dimana Alm. Nenek saya (Ibu.nya emak saya) wafat dan sudah pasti emak saya jejingkrakan gak setuuujuuu banggeeeddss, hhhmm... akhirnya jadilah akad nikah dan walimatul ursy digabung pada Jum'at 25 Desember 2015.

Apakah cukup sampai disitu sekelumit adatnya? hohoho... ternyata tidak sodara - sodara, karena Jam dimana akad nikah berlangsung pun tidak boleh sembarangan! Eeee.. bujuggg... pusying saiyah..., dan jam terbaik diberlangsungkannya pernikahan kami kala itu adalah pagi sampai maksimal pukul 8 pagi atau kalau mau siang maka kudu lewat dari jam 1 siang. Huffttt.... dari pihak keluarga saya kalo soal jam - jaman sih gak pake pemirsah tapi dari pihak keluarga suami harus taat soal itu. Akhirnya saya dan keluarga memilih pagi dengan alasan lebih cepat lebih baik karena bila siang akan lebih rumit, lebih gedebak - gedebuk, lebih rusuh lagi sebab tamu walimatul ursy pasti mulai berdatangan karena kami mematok jam untuk walimah adalah mulai 11 siang hingga jam 5 sore.

Well, soal tanggal dan jam pernikahan saya tidak melakukan pemberontakan cukup signifikan karena bagi saya pertimbangannya adalah "daripada ribut" dan masih bisa ditolerir (karena saya memang menyukai hari Jum'at juga) jadilah saya manut, ikut, a.k.a menurut. Toh tujuan dan niat saya menyetujui hal2 tersebut bukanlah mempercayai tanggal dan jam - jam yang "dianggap" baik itu sebagai salah satu jalan agar tidak mendapat bala, tapi lebih kepada kedamaian dan kerukunan yang tercipta dibanding harus menabuh genderang debat!.

Ternyataaa pulaaaa... masih ada rangkaian adat dan kepercayaan yang harus saya lalui lagi, yakni salah satunya saat menjelang hari H (malam hari sebelum hari H, artinya kamis malam jum'at) dan pas hari H-nya saya tidak diperkenankan mandi karena akan hujan bila calon pengantin mandi! Hah... appppaaaa???? Tidak boleh mandi???? aduuhhhh... dipikir saya ini kambing atau kerbau yang selalu PD tebar pesona berlenggak - lenggok di sawah, di ladang, dan di jalan tanpa mandi juga without deodorant gitu???, Kali ini....

"NOOOO WWWAAYYYY....", "Sekali enggak tetap enggak! sekali mandi harus tetap mandiiii!!!!"

Tidak mungkin bagi saya mempercayai alasan mandi sebagai salah satu sebab hujan or enggak hujannya pada hari H kami menikah! sungguh tidak ada korelasi or logis - logisnya sama sekali kenapa dengan hanya alasan mandi maka bumi dimana saya melangsungkan pernikahan di guyur hujan! bila itu saya percayai maka dimanakah letak sila pertama pancasila yang dulu sering saya ucap kala sekolah? Yaa Rahman...

Ya, harus saya akui pada awalnya tetep takut juga, takut kualat juga sampai terbesit "Eh, jangan2 emang nantinya iya begitu...". Finally, saya dan suami saya tetep ajah mandih. Apalagi saya yang hari kamis tetep ikutan kerja dan repot bolak - balik ngatur en bantu ini itu meski banyak yang bilang ;

"Eh penganten gak boleh pergi2", "Eh penganten sono jauh2 dari dapur", dan "eh, eh" lainnya yang tak satupun saya gubris.

La kalo saya gak bantu poin yang ini atau atur yang itu masa' dibebanin ke semua orang sih hal - hal yang masih bisa dan harus saya lakukan?, bahkan saat malam tepatnya pukul setengah sebelas malam saya keluyuran ke rumah mpok saya lantaran ada yang harus saya segera kirim (saya lupa tepatnya) dan setelah itu masih lontang - lantung nyari dandang buat gubukan soto karena ternyata eh ternyata item itu luput dari perhatian saya. Lah kan bisa nyuruh yang lain?, bener siy bisa minta tolong yang lain, tetapi saya pun sadar diri yang lain juga bukan sedang berdiam diri seribu bahasa karena yang lainnya termasuk tetangga juga sudah maksimal membantu saya, dan begitu saya nganggur sedang ada pekerjaan yang masih mampu saya handle tak mungkinlah membebani mereka lagi dengan alasan ;

"kan gw penganten gak boleh begini dan begitu, harus duduk istirahat aja",

Maapkan saya ya pak bapak, bu ibu, de bude', te tante, mbak - embak, dll karena berkali - kali saya harus melanggar pantangan itu. Gak logis juga karena Rasulullah justru berpesan bahwa sebaik - baiknya manusia adalah yang manfaat kan?, implementasinya dalam segi apapun yang penting tujuannya baik!. Dan balik lagi, itu mengapa saat malam, saat saya mau bobo' saya tetep mandi dulu pren... karena wara - wiri, jalan sana - sini, naek motor kesono - kemari sangat melelahkan dan memproduksi banyak keringat. Gak mungkin bagi saya beranjak ke kasur dengan sisa peluh yang lengket di badan, Enggak Banget!!!.

Alhamdulillah, gak ada tuh kisah dan faktanya hari Jum'at hujan di tempat kami melangsungkan pernikahan, malah terang benderang seolah matahari mo cuap2 "Hiii I'm Cominngggg...", padahal jelas saya dan suami mandi byar byur byar byur dihari dimana sebelum dan saat kami menikah!.... dan segalanya lancar semua. Meski ada grabak - grubuk tapi sangat wajar dan masih bisa ditolerir, dan makanan yang masih tersisa lumayan banyak bisa dikasih ke tetangga2 karena saya menghitung untuk konsumsi memang lebih dari 2x lipat khawatir yang satu keluarga misalnya ada 5 orang jumlahnya datang semua hehehe...

Selain soal pernikahan ini saya kerap juga bersua dengan aturan - aturan yang bagi saya tak logis, juga mampu mengikis iman, Uppsss... maaf bila terlalu dini menyebutnya atau terlalu sembarang, bukan begitu maksud saya. Hanya saja ada adat atau kebiasaan masyarakat yang sudah jadi "harus" sedang dilain sisi justru kedekatan kita dengan Allah jadi jauh. Bukan sok alim, saya berdarah Jawa asli lo #sekalian promosi (yaaa... walaupun bahasa kromo inggil-nya belepotan jauh panggang dari api wkwkwk...), dan saya mau tolerir kok bila suatu adat / kebiasaan itu Baik dan Tidak Lantas mendua - mentiga - atau meng-empatkan Yang Maha Esa itu, bila dalam perjalanan mengimplementasikan adat - istiadat atau kebiasaan itu pada akhirnya harus meluruhkan kepercayaan pada Allah baik langsung ataupun gak langsung, maka apa maknanya syahadat yang saban hari dalam sholat kita ucap?

Beriman ya Beriman saja pada Yang Satu, tiap massa ada ujiannya, sesempurna Rasulullah pasti belum mampu, paling gak nyerempet - nyerempet dikit lalu banyak kan bisa dicoba to? hehehe...


Sumber Gambar : https://islampeace1.wordpress.com/tag/grace-of-almighty-allah/

Komentar

Postingan Populer