Selasa, September 27, 2016

Happy Bumil - Trimester Ketiga, Ayah en Ibu Kangen Nak...,

Alhamdulillah, bulan September tahun ini Allah ijinkan saya merasakan deg - deg - annya menuju "Mom To Be", Yiiihhaaa... akhirnya masuk bulan ke-9 jua kehamilan ini, dari mula nol bulan saya gembol - gembol nih bayi, hingga kini....

Masih adakah keluhan di bulan penantian ini? hohoho... kalo soal keluhan siy saya salah satu yang jago cuap - cuapnya, namun Alhamdulillah dari keluhan, jatuh bangun mengusir rasa malas selama hamil justru membuat saya terus - terusan sadar bahwa Allah sayang pada saya dan keluarga, karena betapa buuaannyyakkk orang - orang diluar sana yang ingin seperti saya, menikah dan langsung Ar Razzaaq beri amanah berupa anak namun belum tentu Allah ijinkan. 

Rasa deg2an, tak sabar, cemas, bingung, takut, sampe air mata ikutan keluar (moody saya sering turun naek sejak kehamilan #ngeles...) turut andil mengisi hari2 menuju persalinan padahal di usia kandungan tua banget gini tak boleh mampir stres, tapi justru hari si dd rilis yang hingga kini belum jua bertandang malah bikin gundah pake gulana. Yap, siang ini ke ibu bidan yang suabar banget mencatat kehamilan saya sudah masuk minggu ke-40. Saya pun tanya karena hpl dari dokter sebelumnya saya periksa sudah lewat, yakni tanggal 25 September. Ya ibu bidan (namanya bu' Puji) menyarankan tunggu sampai tanggal 30 September (karena HPL dari beliau tanggal tersebut), bila tidak juga begimanakah?, maka ditunggu lagi satu minggu kedepan dengan catatan gerak janin aktif yang menandakan air ketuban masih cukup, bila sebaliknya maka barulah induksi buatan... oh migattt masih lama rasanya.... Saya pikir di awal september perut saya sudah mulai nyeri dan tak enak adalah pertanda sebentar lagi saya akan melahirkan, itu sebabnya saya segera ambil cuti di awal September dimana usia kehamilan saya saat itu sudah 36 mingguan. Menurut saya itu udah mepet untuk ukuran bumil, tapi hingga kini tanggalan di bulan September mau habis, eh si dd' kok ya adem ayem di puyut!, sudah diajak ngobrol dari Sabang sampai Merauke, jalan kaki juga, sengaja naik turun tangga di rumah lebih sering, nyuci manual a.k.a pakai tangan biar banyakan berdiri jongkok (tapi ngeringin sih tetep pake mesin hehehe...) namun si dd' masih belum jua keluar apalagi says "Assalamualaikum Ibuuuu...."

Ibu bidan sebenernya sudah memberi wejangan bahwa saya kudu PD dan gak boleh stres, dibawa hepi. Kalau urusan sakit semua bumil yang mau lahiran udah pasti ngerasain bukan seorang dewek, terlebih si dd selalu dalam kondisi prima, normal tiap periksaan, pun dengan waktu yang hingga kini si dd belum keluar memang masih normal juga, Alhamdulillah menenangkan apa yang ibu bidan katakan, hanya saja selama cuti pikiran saya memang masih memikirkan kerjaan kantor yang sebenernya juga nih sudah di handle oleh seorang rekan kerja baik saya (coba ya saya sudah full berwirausaha, pasti saya lebih freedom, tapi ya gitu deh... saya seriiiinggg banget kendor aksi jualannya #halah...)

Sensasi sakit perut seperti nyeri, kram perut, sakit di selangkangan, sakit linu atau pegel di pinggang bawah sudah menu andalan pokok setiap hari, pun sering bulak - balik toilet karena pipis (bahkan sering belum jongkok udah keluar/pipis di CD) juga ikut memeriahkan suasana akhir kehamilan tua saya. Berbalik dari kiri ke kanan dan sebaliknya saat tiduran saja saya harus extra pellllaaan sambil diiringi mata genit alias mengerjap - ngerjapkan mata menahan sakit. Tidur dengan ganjelan bantal untuk perut juga kaki tak lupa pula saya taat kerjakan meski rasanya ya tetep tak nyaman. Tiap ada rasa aneh di perut yang sekarang sering absen datang selalu menimbulkan tanya "eh jangan2 ini nih waktunya lahiran,..." sering menerka - nerka tapi nyatanya masih salah karena sensasi sakit itu tak berkelanjutan tapi meninggalkan tanda tanya lebih dalam bagi saya... kapan dong de' kamu lahiiiirrrrr.....????. Maklum ini adalah persalinan perdana saya, jadi antara parno atau norak juga gak tahu semua beda tipis, sampe menuliskan ini saya masih sering tanya kanan kiri, entah ke online atau offline "Mules lahiran tuh kaya' gimana sih???", Mbakyu saya bilang, "ya kaya' gitu neng tapi lebih sakit lagi cekit2nya", dia bilang demikian saat minggu lalu tepatnya hari rabu saya bercerita bahwa pagi itu saya merasakan nyeriiiii sekali di perut + perut kaku + kaya' ketarik kebawah perutnya yang belum pernah saya rasakan, namun setelah itu hilang. Ibu bidan juga sudah mengatakan bahwa semua yang saya alami itu normal karena si baby sedang mencari jalan lahir untuk keluar, dan namanya juga masih nyari2 jadi wajarlah gak langsung nemu,bisa berhari - hari atau kontraksinya berminggu - minggu. Saya pun sudah kenal istilah kontraksi palsu, tapi kapan sih kontraksi aslinya itu datang???...#tetep maksa penasaran...

Bila rasa lelah menunggu itu datang, saya berbaring lalu mengajak si dd ngobrol "Nak, doa yuk.... Ya Allah mudahkanlah Zano menemukan jalan lahir, beri Zano kesehatan, kesempurnaan, lancarkanlah persalinan ibu, dan beri kami, Zano dan Ibu kekuatan sehingga mampu mentabahi proses ini, Aamiin.." biasanya sambil nangis saya berdoa + mengelus perut si dd, oiya... Zano adalah nama panggilan yang kami, saya dan suami sudah biasakan untuk memanggil si dd', Insya Allah laki2 karena semua USG menunjukkan demikian, tetapi Allah kan lebih Tahu, maka bilapun prediksi si USG salah dan akhirnya terlahir perempuan maka "Shanum" adalah panggilannya :-)

Entah kenapa kadang air mata suka keluar sendirinya, mengingat semua episode kehidupan yang sudah saya jalani hingga detik ini, termasuk kejadian dulu yang sering membantah mama saya (bahkan saya pernah minggat dari rumah karena cekcok salah sedikit saja dengan mama saat saya ber-putih abu2 dulu), kini... saya rasakan betapa sakitnya orang tua bila sedikit saja anaknya bercuap - cuap kasar, kini saya sadari bahwa orang tua terlebih mama, ibu, bunda, mami merasakan sakit hati bila ada perkataan anaknya yang memang mungkin benar tapi penyampaiannya tidak santun, kini saya pun sangat paham kenapa mama sering memikirkan kehidupan anak2nya dibanding dia sendiri bahkan saat kami sudah berkeluarga, saya jadi tambah mewek saat saya mengingat masa lalu, saat saya lebih memilih mempercayai mantan kekasih saya dibanding mama padahal mama-lah yang benar dan beliau sangat sangat memikirkan bagaimana bila saya salah memilih suami, Alhamdulillah memang semua itu sudah berakhir, namun kesadaran betapa perjuangan ibu tak berkesudahan kan baru saya rasakan saat ini, jadi betapa mama saya bertaruh mati2an untuk anaknya juga baru saya sadari saat2 sekarang ini pula. Belum lagi bila mengingat perbuatan tak menyenangkan saya dulu terhadap Alm. Bapak saat beliau masih hidup, duuuhh...betapa saya sangat menyesal karena saya termasuk anak yang pengeluh dan tak sabar saat bapak sakit bahkan hingga beliau berpulang..., padahal orang tua adalah sosok penyabar saat kita masih kecil belum tau apa2 dan bisanya cuman ngerecokin, ngeberantakin..., mudah2an bapak saat ini sudah dalam tempat yang nyaman ya pak, Aamiin :-( 

Itu kenapa saat makan pagi, kemarin, saat saya berucap disela2 obrolan saya dan mama pagi2 (saya selalu menyempatkan mengobrol pagi dan sore hari untuk mendengar celotehan mama, karena orang tua itu salah satu keinginan saat tua adalah perhatian dari anak2nya, dan mendengarkan beliau sambil kita timpali sebagai respon adalah salah satu hal yang sangat menghibur) saya berkata sambil tak kuasa menahan tangis ...
"Maaa.... minta doanya ya supaya lahirannya, lancar..., dan maaf ya maa kalo Lina banyak salah selama ini..."
Mama langsung menjawab
"Yoalah nduk podo2, opo wes keroso saiki? nyapo nangis, le' nangis mae yo melu nangis.."
(Ya nak sama2, apa sudah kerasa sakit sekarang? kenapa nangis, kalo kamu nangis ma2 ikutan nangis..)
Yaaaahh... ma2 bilang gitu saya makin sesenggukan nangis, beruntunglah suami masih di kamar atas sehingga insiden ini cuman kami berdua yang tahu hehehe... (ya meskipun ide minta maaf sama mama ini misua dululah yang menyuruh saya qiqiqi...)

Entahlah mungkin saya yang lebay atau cengeng, namun pelajaran berharga saat hamil apalagi kandungan tua seperti sekarang ini adalah saya makin menyadari perjuangan sesungguhnya seorang ibu (walaupun belum selesai sampai disini...), serta kucuran Rahmat-Nya yang hingga detik ini saya menulis masih Dia berikan meski banyak pula dosa yang tiap hari saya sumbangkan. Moga Allah berkenan memberi saya kekuatan, ketabahan, dan kesehatan (dan utamanya ampunan... karena melahirkan perjuangan nyawa juga...) dalam salah satu proses hidup yang hebat ini, Aamiinn...

Untuk para bumil tua yang lain, semanggaaatt yyaaa, Insya Allah Dia hibahi kekuatan agar kita mampu menjalani ini semua, karena Dia adalah Haq yang tidak mungkin ingkar dari Firman-Nya bahwa Dia tidak mungkin membebani hamba-Nya kecuali hamba-Nya sanggup!, Aamiin Yaa Mujiib...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Imunisasi Guin : MR @RSBK

Bismillah, Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh Alhamdulillah, Sabtu 04 Agustus 2018 lalu, Guin di usia 9 bulan (kurang bebera...