Allah sayang kami ... :-)

Rabu, 28 September 2016, mulai jam 8 pagi perut saya mulai mules teratur..,

"mungkin ini saatnya lahiran, atau jangan2 nih saya yang mo BAB...?"

Perdana mau melahirkan saya sama sekali gak tau mulesnya perempuan yang mau lahiran tuh gimana sih? Alhasil saya bolak - balik kamar mandi buat nongkrong barangkali emang mau pup. Tapi beberapa kali itu pula rasa mules saya yang saya akhiri nongkrong di kloset tak ada satu pun yang berakhir dengan pup.

Lalu saya mulai melihat jam, menghitung waktu rasa mules saya yang sudah mulai sering hilang, muncul lagi, hilang lagi terus muncul lagi begitu setiap 10 s.d 15 menit sekali, kini tak ragu lagi dalam hati bahwa saya bukan mau BAB atau sembelit tapi inilah saatnya baby saya launching, diantara meringis menahan sakit yang saya tahan2in terselip hepi banget karena gak lama lagi, Zano, panggilan si baby nanti, akan lahir....

Baru pukul 11 siang saya mengabari suami kalau saya sudah mules sejak jam 8 pagi tadi. Tapi saya pun belum bilang padanya untuk segera pulang karena saya berpikir dan teringat statement ma2 kalau belum mules banget biasanya masih lama, dan karena saya merasa mulesnya yang saya rasakan walau sudah sering durasi dan tingkatan sakitnya tapi masih bisa saya tahan maka saya keukeuh di rumah menahan sakit daripada ke bidan. Namun suami, yang selama ini tanggap tak menggubris bbm saya yang bilang nanti saja pulangnya kalau saya sudah gak tahan banget, toh kantor suami gak jauh2 amat.

Nyatanya, menuju Zuhur, sekitar jam 12 siang saya mulai tak sanggup. Keringat dingin keluar, basah sudah baju saya. Alhamdulillah pas azan Zuhur suami saya sudah pulang, dia bertanya

"mau sholat disini atau disono?"

Saya bilang padanya agar dia sholat dulu di rumah, juga makan. Tetapi ia hanya sholat dan setelah itu langsung mengajak saya ke bidan (barangkali dia sudah melihat ekspresi muka saya yang bergumam menahan sakit).

Alhamdulillah ibu bidan ada, langsung dia cek dan didapat hasil sudah pembukaan 2. Lantas ia meminta saya menunggu hingga pukul 5 sore untuk mengetahui sekitar jam 5 sore itu sudah pembukaan berapa. Duuuuhhh... jam 5 soreee??? Lamaa banget bagi saya yang mulesnya sudah mulai gak karu-karuan.
Saya diminta jangan pulang, lalu dipersilahkan mau duduk, buat jalan2, atau tidur2an. Semua opsi saya gunakan, ya duduk, berdiri, jalan2, terus tidur2an yang kesemuanya itu gak ada rasa nyaman. Semua rasa lebur jadi satu, ada hepi, bingung, takut banget, sakit, dll...

Lambat laun saya merasakan PD meter saya turun, rasanya tak kuat lagi menahan sakit. Beberapa kali saya minta suami untuk memanggil ibu bidan saat datang mulesnya tak tertahankan tapi akhirnya gak jadi. Lantas saya paksakan berjalan, saat ketemu bu bidan saya sampaikan apakah benar begini rasanya.... semakin sakit dan keringat becucuran?, dan Bu bidan bilang sambil tersenyum menenangkan "Iya memang begitu rasanya". Kenapa saya rasa tak percaya dan lantas tanya begitu ke bu bidan padahal banyak referensi yang saya dapatkan menyatakan hal yang sama seperti yang bu bidan katakan?, karena ini pertama kali saya merasakan sakit yang sebegitunya..., dan sebelumnya rasa takut sakit yang teramat sangat saat proses persalinan terus menghinggapi saya, hampir semua rekan wanita yang saya kenal dan sudah pernah melahirkan saya tanya ;

"Gimana sih rasanya lahiran normal?"

Memang semua jawaban mereka mayoritas sama, intinya mulesnya campur aduk tapi tetep lebih enakan dibanding operasi sesar. Apalagi semua bilang kalau si bocah udah lahir sih gak bakalan inget lagi yang tadinya sakit, ditambah pula kenyataan mereka yang bilang sudah punya anak lebih dari satu. Namun rasa takut karena belum pernah mengalami ditambah saat mules kala itu membuat saya lunglai yang menjadikan rasa takut saya berubah pada pesimisme "kok sakitnya begini banget, apakah ini wajar? Jangan2 sakit yang saya rasa ini diluar kewajaran, tidak sama seperti mereka2 pada umumnya melahirkan dan sudah seharusnya saya laporan karena ini bisa jadi salah satu sakit yg menimbulkan bahaya fatal!, begitu terus pikiran saya. Tetapi kini saya sudah paham bahwa yang saya rasakan ya memang begitulah ibu yang akan melahirkan, tinggal kitanya aja yang harus PD sambil bertahan menahan sakit bahwa kita bisa lewati proses ini, Insyaa Allah.

Sekitar pukul 2 siang sambil terus menahan sakit yang makin sering, perut saya gerak2, dan dalam hati berkata "Zano mo keluar ya de'... buruan ya nak...". Masih terus wara - wiri, duduk, berdiri, ke kamar mandi, lalu duduk lagi terus tiduran kembali mules yang tak tertahankan menyerang sambil menggigit sapu tangan diselingi mendesah untuk meringankan. 

Rasa mau bab dan barangkali memang bab membuat saya beberapa kali mondar mandir ke toilet tapi ternyata saat saya jongkok bukan pup yang mau keluar (padahal di rumah tadi juga sudah begitu...). Akhirnya saya menghampiri ibu bidan ...
"Bu saya udah gak kuat..."
"Ya sudah masuk kesitu saja" jawab bu bidan sambil senyum dan menunjuk ruangan bersalin

Saya lantas secepatnya ke ruangan itu, saya turunkan sendiri bangku dan tanjakan kaki yang masih rapi diatas kasur, berharap lekas melahirkan Zano. Diiringi suami yang sebelumnya ke masjid untuk sholat ashar dan tak lama bu bidan masuk sembari men-cek sudah bukaan berapa. Alhamdulillah sudah bukaan 8. Termasuk cepat untuk saya yang baru pertama kalinya akan melahirkan, datang selepas zuhur bukaan 2 dan setelah ashar sudah bukaan 8. Pikiran saya sudah tak karuan, sempat terlintas "inikah akhir hidup saya ya Allah?", lalu teringat mama sambil bersuara lemah "Mama, sakit...", tetapi disamping itu ada perasaan hepi karena semangat yang sekali lagi dengan alasan tak lama lagi saya akan melihat my little prince yang selama ini hanya saya rasakan hanya dalam kandungan. Diselingi menyebut asma Allah, dan surat Al-Baqarah ayat terakhir saya beberapa kali mengejan seperlunya untuk meringankan sakit.
"Gak usah ditahan, keluarkan saja" begitu kata bu bidan. 
Alhamdulillah saya sukses tidak teriak2 saat menahan sakit dan mengejan seperlunya karena info yang saya ketahui adalah jangan mengejan kalau belum ada komando atau belum bukaan lengkap #bukaan10

Akhirnya bu bidan memberi aba2 untuk mengejan sembari memecahkan ketuban saya karena saat pembukaan lengkap saya masih belum juga mengeluarkan air ketuban. Beberapa kali mengejan belum juga Zano keluar..., 
"Air ketubannya ijo..." Bu bidan bilang ke suami saya, dan yang saya lihat pun demikian

Kurang lebih selama 10 menitan saya mengejan, berjuang maksimal mengeluarkan Zano. Alhamdulillah sekitar setengah 5 sore Zano lahir. Tetapi Zano sama sekali tidak bergerak juga tak menangis... disitu saya mulai curiga, something's wrong, wasn't it? tapi saya menghibur diri ini bahwa Zano mungkin seperti anaknya mbak neni (rekan satu kantor saya) yang waktu lahir juga gak langsung nangis tapi beberapa menit kemudian.

Bu bidan mengeluarkan alat bantu agar Zano menangis tetapi tidak berhasil, menepuk - nepuk bahu Zano dan tetap tak berhasil..., sebentar lagi Zano pasti gerak, pikir saya lagi. My son's fine well, surely...
Tetapi setelah ditunggu beberapa menit, sambil dipeluk, digendong, dan diberi nafas buatan oleh ayahnya pun Zano tetap diam... Saya masih berpikir bahwa anak saya akan baik2 saja meski feeling saya tidak demikian..., sambil menunggu bu bidan menyelesaikan persalinan saya karena saya mendapat tindakan episiotomi saya memandangi Zano yang dibaringkan tak jauh dari tempat saya tidur yang sedang dielus - elus oleh suami saya, beberapa kali saya melihat suami saya menghapus air matanya melalui sapu tangan sambil berceloteh memanggil - manggil Zano karena Zano masih saja tetap tak bergerak..., dan nyatanya memang Zano sudah dalam "pangkuan"Nya dengan tenang.

Bu bidan sambil berkaca - kaca menenangkan saya, saya hanya mengangguk dan sama sekali tak menangis karena masih berharap Zano hidup, barulah saat suami dan mbak saya yang belum lama datang meyakinkan bahwa Zano sudah gak ada tangis saya meledak
"Bu', Ikhlasin yah..." Suami saya memandang saya dengan raut sedih sekali
"Neng, ini udah takdir, ikhlasin ya neng, kita semua kan juga nanti sama kaya' gini..."
Dua kalimat itulah yang merobohkan PD saya, dan untuk pertama kalinya saya menangisi Zano..., bahwa benar Zano sudah Allah panggil dengan Rahmat-Nya

Perjalanan Ikhlas
Kini, saat menyelesaikan tulisan ini, Senin 07 Nopember 2016 rasanya waktu itu cepat sekali... rasanya baru kemarin saya mules lalu melahirkan Zano, sekarang sudah lebih dari 40 hari Zano berpulang. Terkadang mampir rasa tak terima, kecewa, dll mengapa anak yang saya kandung harus dan hanya hidup dalam rahim saya? Allah hanya ijinkan saya melihatnya dalam keadaan hidup saat USG dan menciumnya sebentar dalam keadaan sudah meninggal... hingga menuliskan ini bahkan hari2 selanjutnya setelah hari dimana Zano lahir dan tiada lebih saya lalui tangisan mengingat Zano... It's very hard for me Yaa Rahmaan...

Alhamdulillah saya masih Allah beri suami yang menguatkan meski ia juga sakit atas kepergian Zano, dan mama serta saudara juga tetangga yang support.
Bagaimanapun Zano sudah tiada, dan betapa sedihnya saya tak mungkin bagi Allah menarik ketetapan-Nya, walau tak terima sebegitunya tetaplah Allah Pencipta Zano bebas sesukanya mengambil apa yang sudah Ia titipkan bukan?

Kini, saya mulai menata kembali, merapihkan hati yang sebelumnya bahkan hingga saat ini masih saja belum baik. Kepergian Zano sungguh menampar saya dalam banyak hal. Dalam hal kesyukuran faktanya saya masih minim karena saya sering berkeluh kesah saat hamil atau mengomel atas hal2 yang diluar sana masih banyak orang lain inginkan tetapi hingga detik saya mengomel masih saya rasakan ni'mat-Nya itu. Saya pun sangat menyadari pasti ada dalam diri saya yang salah dan salah satunya adalah karena masih sering membanggakan diri #sombong menganggap semua baik2 saja dalam arti bahwa saya lupa ini adalah ni'mat Allah yang seharusnya saya jaga dan bukan untuk pamer - pameran dalam bentuk apapun atau saya banding2kan dengan apa yang saya dapat dan orang lain tidak dapat atau sebaliknya. Sebelumnya saya PD banget Zano pasti bakalan sehat dan kuat karena pemeriksaan rutin sejak kehamilan pertama dan bulan ke -8 akhir selalu di dr. SPOG, dan hasilnya selalu positif baik segalanya. Itu pula pertimbangan saya untuk lahiran di bidan saja dekat rumah dan di bulan ke-9 sama sekali tak kontrol di RS yang biasa saya rutin kunjungi itu. Bukan ingin membanding - bandingkan karena ini sudah jalan-Nya, namun sikap "jumawa" saya yang akhirnya membuat saya kurang hati - hatilah menjadi salah satu sebab demikian, meski sekali lagi ini memang sudah suratan Allah tetapi di poin upaya, saya tidak teliti alias lalai.

Zano diduga tertelan air ketuban yang sudah hijau itu (keracunan air ketuban), mengenai sebabnya memang bermacam - macam kenapa air ketuban bisa hijau (saya googling beberapa artikel mengenai ini, juga cerita dari moms yang sharing di dunmay) salah satunya adalah bisa jadi karena saya stres sehingga Zano stres, atau karena Zano lama mencari jalan lahir sehingga dia stres. Dan karena stres itulah Zano pup didalam yang lantas mengotori air ketuban, besar kemungkinan Zano meminum air ketuban yang sudah tidak sehat itu.

Yang saya sesali adalah ketidakcermatan juga ketidaktanggapan saya saat perut saya sudah merasa gak nyaman kira - kira seminggu sebelum melahirkan (ada rasa nyeri yang amat sangat terjadi tapi hanya sekali dan saya tak terpikir itu hal diluar kewajaran apalagi banyak yang bilang memang begitulah kalo bayi sedang cari2 jalan lahir, walau demikian setidaknya saya harus waspadai). Saya abaikan untuk tidak lagi ke dokter karena saya berpikir selama ini Zano baik2 saja bahkan saat usia 7 bulanpun saat saya mengalami pendarahan Zano tetap sehat2 saja (bahkan saat di USG sedang menguap), serta saya berpikir memang begitulah rasanya gak nyaman hamil tua ditambah denyut jantung Zano yang selalu normal baiknya saat cek di bu bidan, bahkan tanggal 27 September sehari sebelum Zano lahir jantungnya masih berdetak normal. Wajar memang saya belum paham ini itu, tetapi sikap saya yang kurang bersyukur, kurang waspada, ditambah lagi takut akan rezeki yang Allah beri kurang sehingga saya sering memikirkan yang bukan2 itulah yang saya yakini turut andil mengapa Allah beri ujian berat ini.

Dan kini pula saya berharap saya dan suami mampu berupaya lebih baik dalam segala hal, baik itu pikiran positif, perilaku yang apik, juga syukur yang bertambah, juga menjaga iman khususnya iman pada Takdir Allah baik itu yang suka atau sebaliknya, yang bahagia atau yang sedih karena sudah menjadi kewajiban bagi mereka yang trust kepada Allah untuk tetap berbaik sangka pada-Nya entah saat ini sedang mendapat ujian yang membuat tawa atau lelehan air mata.

Kesemuanya itu Rahmat dan tak mungkin sia - sia karena Allah yang perkenankan terjadi, kesemuanya pasti baik karena Allah Maha Baik dan Maha Sayang

Lanang Latahzano Althafandra..., Insya Allah ayah dan ibu diijinkan Allah bertemu Zano dalam Jannah ya nak, Aamiin Yaa Samii'... :-)

Komentar

  1. i feel you mba..
    semoga jadi tabungan akhirat untuk mba dan suami :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin Yaa Kariim..., makasih banyak ya Mbak Lintang untuk doa baiknya dan pastinya atas kunjungannya :-)

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer