Periksa Kehamilan di RSIA Budi Kemuliaan (Bulan Kedua)

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh..., Alhamdulillah baik saya maupun anda masih Allah perkenankan usia yang mudah2an tetap dalam berkah dari-Nya, Aamiin Yaa Fattaah. Sholawat dan salam terus kita panjatkan kepada manusia terbaik yang sudah pasti masuk Jannah-Nya, Rasululullah Shallallahu’alaihi Wasallam beserta keluarga, kerabatnya, para sahabat, dan siapapun yang mengkuti sunnah beliau hingga akhir massa nanti, Aamiin Yaa 'Azhiim.

Minggu ini Insya Allah, Sabtu 20 Mei 2017 saya akan bertolak (#weeeekkk...) ke RSIA Budi Kemuliaan (BK) karena jadwal cek rutin bulanan kehamilan saya yang memasuki bulan ke 3, buuutttt... saat ini saya gak lagi mau ngomongin bulan ke-3-nya (ya iyalah cuy ini aja baru tanggal 17 Mei.... begimana ente?!) akan tetapi mau orat - oret menulis soal cek kehamilan saya bulan ke-2 lalu hehehe #telat mposting-nya :-D.

Bulan kedua saya cek pada tanggal 22 April 2017. Tiba di BK sudah mendekati pukul 2 alias injury time karena dr. Flora jadwal yang siang menjelang sorenya cuman dari jam 2 sampai jam 4 sore saja, daaannn seharusnya saya mendaftar at least minimal setengah 2, karena bulan lalunya aja jam sebelum setengah 2 saya dapat antriannya sudah hampir nomor buncit.

Dan tarraaaaaa, finally... saat saya duduk manis di depan mbak perawat untuk daftar saya harus menerima kenyataan gondok bahwa untuk pendaftaran ke dr. Flora sudah ditutup karena sudah full... yaaaaahhhh #ngelusdada... dan mbak perawat yang saya tidak ketahui nama depan, nama tengah, dan nama akhirnya itu merekomendasikan dr. lain atau bila ingin dr. Flora maka datang lagi di lain hari. Datang di lain hari alias sabtu depan adalah suatu hal yang tidak mungkin saya dan suami lakukan (ya karena maleslah udah sampai RS masa' pulang lagi, kan rumah sama RS gak adep2an atau pantat - pantatan!), ya ya ya ya akhirnya saya terima deh karena kesalahan saya juga nungguin abang2 rujak apalagi sebelumnya pake acara pup dulu, jadi waktunya memang mepet yang ending-nya harus legowo dengan dr. yang ada saat itu.

Dan tau kan.. saya itu gak mau dr. cowok apalagi usia kandungan masih beberapa weeks jadi pasti periksa dalam, #aduuuhhh saya itu risih.., tapi buat boleh apa... #ApaBolehBuat resiko saya juga datang telat kan?. Pilihan saya jatuh pada dr. Mariyono, seorang Pak Dokter senior di BK. Saya meneruskan prosedur selanjutnya, memberi map kuning ke bagian setelahnya supaya perawat memanggil untuk memeriksa tensi dan berat badan saya.

Alhamdulillah, tensi normal (dan selama ini baik kehamilan saya yang pertama atau kali ini memang tensi saya berkisar 110/70 atau 120/70, dominan itu). Tapi saya terkejut manakala melihat timbangan berat badan saya... angka timbangan gak lebih dari 57 Kg, padahal bulan lalu 58 Kg... saya sampai minta mbak suster melihat lagi... dan eh si mbak e malah bilang :

"Ibu makannya dikit kali"

Hahaha... si mbak' e ini  lutcu dan tau aja kalo saya makannya dikit... dikit - dikit makan maksudnya...
Kenapa eh kenapa saya gak percaya dengan timbangan saya dan meminta mbak-nya melihat lagi karena saya memang minta ditimbang lagi? karena eh karena minggu lalu saya menimbang di salah satu rumah praktek bidan karena seorang tetangga saya sedang melahirkan dan disitu ada seonggok timbangan yang lagi nganggur, daripada tuh timbangan nge-jogrok aja gak kerja kan lebih baik saya injek to? qiqiqiqi...., dan tau gak hasilnya adalah 60 Kg sodara - sodara, Ibu saya yang juga ikut menjenguk tetangga saya itu dan melihat angka timbangan itu malah nambahin :

"Salah itu, harusnya 65 Kg kamu, tuh awak e koyo' ngono" (badannya sampai kaya' gitu) saking ndut-nya (ini gendutnya menurut ibu saya loh yaaaa, jadi alangkah baiknya anda semua abaikan) sampai si mamake keluar deh pake mother tounge-nya :-D

"Yeee ma2..., gak segitunya kelleeesss..., nambah2in aja, aku emang gendutan tapi gak gendut2 amat mama!" qiqiqiqiqi....

Antara senang karena masih "merasa" langsing atau khawatir kok malah 57 Kg saya sampaikan lagi ke si mbak perawat yang ayu itu ....

"Mbak tapi belom lama ini saya nimbang dan 60 Kg loh, masa' ini 57 mba?"
"Ya tiap timbangan beda - beda bu, kalo sudah pakai yang ini ya patokannya yang ini bu karena timbangan lain bisa beda"
"O gitu...."

Baliklah saya ke tempat duduk tunggu dimana suami saya yang gak pernah perduli mau istrinya langsing, kurus, apa gendut sedang duduk :

"Tuh kan yah... ibu itu gak sebegitunya gendutnya... 57 Kg lo yah, belum ada 60 Kg..."

... Dan senyum manis cenderung "ngeledek"- lah yang saya dapat dari misua... Heran deh emang saya gemuk - gemuk amat apa? wkwkwkwk... Saat saya pulang ke rumah pun mamake tetap tak percaya dan menyalahkan timbangan di RS karena dia perpendapat saat itu bahwa timbangan yang di rumah bidan itulah yang benar lantas menyarankan saya untuk menimbang di rumah kakak saya besoknya #YaAmpyuuunnn...
Ini pas HUT Pegadaian tanggal 30 April lalu, setuju kan kalo saya masih okeh body-nya? wkwkwkwk...
(Kalo bukan kita sendiri yang muji terus siapa lagi? weeekkkk)
"Ya udah, besok kan hari minggu, pas ke rumah mbak Erni kamu timbanglah. Tapi gak tau timbangannya dimana, kan kamu tau anak - anak dulu suka mainin, jadi masih bener apa enggak ya coba tanya aja mbak Erni"

Esoknya.... didapatlah fakta bahwa timbangannya kakak saya itu tidak berpihak kepada timbangan manapun, baik sama dengan yang di BK ataupun yang di rumah ibu bidan, karena timbangan kakak saya menerbitkan angkanya sendiri yakni 58 Kg, Yiiihhhaaaa.... Saya Belum 60 Kg weeeekkkkk...., tapi ya gitu deeehh mamake tetap pada pendiriannya bahwa timbangan ibu bidan-lah yang bener dalam berhitung, ya elah moms... #SeorangIbuTetepAjaKuduDibenerin!

Maaf ya gak penting bingits intermezzo-nya :-P. Sambil menunggu dr. Mariyono datang karena beliau baru berpraktek mulai jam 4 sore saya menyarankan misua untuk makan dulu, dan sengaja saya membawa makan dari rumah #bekalnasi yang maksud saya agar saya tidak tergoda 'njajan (niat awalnya). Saya mencari dan celangak - celinguk di beberapa tempat duduk ruang tunggu yang nyaman untuk mamam bersama misua tapi semua terisi. Ada sih yang kosong tapi kami lebih suka yang satu baris kosong belum terisi sama sekali biar gak risih saja meski kalau yang berdekatan melihat tentu kami tawarkan senyum sambil :

"Makan mbak/mas/pak/buk... :-)"

Akhirnya misua punya ide, gimana kalo di taman sebelum pintu masuk RS? Ahhhaaaa, so sweeeettt... #apahubungannya?, baiklah akhirnya kami menuju tkp dan memilih tempak duduk yang nyaman dari segala arah (sebenernya bukan tempat duduk sih, tepatnya pinggiran2nya pepohonan), lantas saya membuka bekal nasi dari rumah yang padahal saya juga sudah makan tadi sebelum berangkat qiqiqi.... Sebenarnya pula misua meski belum maksi dia praktis orangnya, gak usah bawa, jadi maksudnya beli aja sih di kantin RS. Akan tetapi karena saya sudah bawa dengan dalih uangnya disimpen aja (sok - sok irit). Beginilah penampakan suami tercinta saat melahap bekal yang saya masak sebelum berangkat :-D, I Lop yu pull ayyaaahhh.... :-D.


Hanya Mie telor goreng plus sambal goreng kentang dan nasi yang buaaanyyaaakk karena saya kan ikut makan juga... kalo istilah kekiniannya itu sekotak nasi berdua #maksa. Alhamdulillah karena ditemenin sang kekasih dunia akhirat jadi berasa makan olahan chef internasional gitu deh #halah lebay... padahal karena doku nge-pas juga wkwkwkwk, Alhamdulillah Allah selalu saja cukupkan #MakasihYaaRazzaaq :-). Setelah itu kami menuju masjid #lupanamanya yang satu area dengan gedung BI yang tempel - tempelan sama BK karena perkiraan kami gak lama lagi adzan Ashar. Benar saja, sesaat saya sudah menggunakan mukena, Adzan berkumandang. By the way, interior masjid-nya suejuk, adeeeemmm dehh... dan loas sepanjang mata memandang, pokoknya bikin hati tambah khusyu' (Maaf ya saya norak :-P)

Setelah sholat ya balik lagi dong ke RS, menunggu si bpk Dokter Maryono. Sebelum sampai pelataran RS, kami melewati tukang Siomay, daaaannn ... yaaaaa anda bennnnaaaar... saya menggondolnya 1 Plastik untuk nanti saya makan (lagi) sambil nunggu giliran di panggil oleh Pak Dokter :-D. Nah kan benar... bahwa uang yang untuk makan siang idealnya tuh emang lebih baik disimpan.... disimpan untuk dibelikan jajanan maksudnya wkwkwk... yaaah paling nggak kan bisa meminimalis pengeluaran yang keluar, kalo gak bawa bekal pasti uangnya buat makan nasi + lauk pauk dan jajan, tapi karena sudah bawa bekal maka uangnya cukup untuk jajan aja, bener kan yah? #Horeeeee :-P
....
"Erlinaaaa..."
"Ya Allah... Niaaaa"
....
Saat sudah di pelataran area BK gak nyangka binggo ketemu teman satu smk dulu yang sedang nenteng anaknya #menggendong, baru 3 bulan usiannya. Biasa deh, cipika - cipika bentar, ngobrol seru2an tapi karena waktu minim dan kami berdua juga mengerti bahwa suami kami tentu tidak suka lama - lama ikutan obrolan emak - emak, jadilah kami tanya sekedarnya lantas berjalan sesuai tujuan masing - masing, saya ke antrian dr. Spog dan teman saya itu ke Dokter Anak di lantai 2 (ya waallaaauu saat di ruang tunggu masih sempat "nyuri2" waktu buat ngobrol sebelum dia naik ke lantai 2 dan dilanjut via WA hehehehe...)

Jam sudah mendekati pukul 4 sore, ruangan dokter Mariyono juga sudah dibuka... eh tapi si dokter kok belum terlihat berkelebat yah?, wah jangan - jangan kaya' Dokter Flora bulan lalu nih, sedang melakukan tindakan medis serius.... #PersalinanSpontanAtauSectio. Jam 4 lewat seorang perawat maju ke depan dan meminta perhatian bagi pasien Dokter Maryono, hhhmmmm ... kaya'nya telah terjadi sesuatu deh..., dan si mbak suster (maaf ya kalo manggil sesukanya, ya mbak suster, ya mbak perawat :-P) mengumumkan bahwa Dokter Mariyono mendadak berhalangan hadir meski beliau sudah sampai di RS. Dokter Maryono harus segera pulang kampung saat itu juga untuk urusan keluarga. Yaaahhh apa boleh buat, Qadarullah... Langsung inget, nah lo terus bakal di oper ke dokter siapa lagi nih?, membayangkan menjadi pasien Dokter Maryono yang baru mulai prakteknya jam 4 sore sebelumnya saja pasti akan pulang malem, apalagi ini? di oper ke dokter lain yang dokter itu pasti sudah ada antrian juga sebelumnya kan?, Pulang? wah bukan solusi juga karena kecewa juga sudah dari siang masa' pulang tanpa hasil melihat debay sih?, akhirnya kami sepakat ya sudahlah dokter yang di-recommend aja, dan dr. Rifky adalah dokter yang kami tuju. Oiya... di saat jenuh - jenuhnya menunggu di sesi ini saya sempatkan rileks dengan sebungkah Siomay yang tadi dibeli ...#HellowwwSiapaJugaYaYangNanya? :-D

Sudah terbayang di pelupuk mata pasti bakalan dipanggil di penghujung praktek si Bpk Dokter nih, tapi Alhamdulillah meski antrian padat merayap dr. Rifky pengertian, kaya'nya do'i tau deh kondisi yang sedang terjadi #SokTau :-D, karena tiap pasien tidak cukup lama diperiksanya (atau mungkin ya memang begitu adanya kondisi para bumil kala itu, gak begitu ada keluhan jadi ya pasti gak lama periksanya), sekitar pukul 5 lewat banyak saya dipanggil, Alhamdulillah...

Overall dokternya baik (ya iyalah kalo dokternya sakit gak praktek kellesss), maksudnya cukup mendengarkan pasien, cuman saya kurang nyaman karena si Pak Dokter terkesan buru - buru walau ia tak lupa sematkan senyum dan berupaya ramah - tamah, sinyal bahwa ia memaksimalkan respect pada tiap pasiennya meski mungkin aja di atas kepalanya ada tanya "kapan nih pasien abisnya" qiqiqiqi...

Alhamdulillah debay sudah 8 weeks (mau 9 kaya'nya...) gak tau persis karena saya lupa dan hasilnya gak di print pemirsa #AkuKuciwaaaa..., dan deg - degannya juga sirna karena gak jadi risih soale periksanya sudah gak USG Transvaginal lagi alias sudah USG luar (yang di perut itu lo bu ibu) karena debay sudah mulai keliatan nambah gedenya, sehat terus ya nak.... Aamiin Yaa Muhaimin, kalau seingat saya sih dulu usia segitu saya masih diperiksa dalam (mungkin saya juga yang lupa kali yah hehehe...) we're happy coz the baby's fine, Alhamdulillah Yaa Khaliq.

Dan inilah rincian biaya periksa kehamilan saya bulan kedua :
  1. Pendaftaran                  Rp.    40.000,-
  2. Konsultasi Dokter      Rp.  175.000,- 
  3. Vitamin - Prolacta      Rp.  185.000,-
  4. Vitamin - Obimin       Rp     35.000,-
Total Biaya Rp 435.000,-

Khusus Prolacta alias minyak ikan tidak di - cover oleh asuransi Mandiri In Health, tapi kan bisa saya rembes ke kantor :-P. Sehingga pengeluaran periksa bulan kedua ini hanya mamam siomay, bensin, dan parkir, Alhamdulillah :-)

Begitulah kawan, mudah - mudahan bisa menjadi referensi bu ibu dan para mak emak yah. Sampai jumpa di kisah selanjutnya yah, dan mohon maklum serta dimaafkan bila banyak selingan kalimat dalam kisah nyata ini yang jauh dari penting :-D.

Wassalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh

Komentar

  1. Usg nya berapa mba e byr nya it real pake uang pribadi apa ada bpjs?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    2. Duh Bund maaf ya baru membalas, baru tau soalnya ada juga yang komen hehehe. Nah itu dia... saya juga sempet bingung kenapa gak di Charge ya waktu itu padahal USG loh. Karena periksa yang lainnya konsul 175ribu, dan USG 175ribu. Selama kehamilan saya sama sekali tidak menggunakan BPJS karena kalau menggunakan BPJS pasti dirujuknya ke Bidan bund oleh faskes pertama (jadi harus ganti faskes dulu yang dia tidak bekerja sama dengan bidan sehingga bisa langsung ke RS), saya menggunakan asuransi pendamping dr tmp kerja suami yakni Mandiri In Health. Dan di Budi Kemuliaan saat saya menggunakan Mandiri In Health untuk pendaftarannya (40Ribu), Konsul (175Ribu), dan USG (175rb) langsung di cover, untuk vitamin2nya ada yg di-cover ada yg tidak. Barulah saat bersalin lalu (06 Nopember 2017, sesar) saya menggunakan BPJS, biaya bersalin saya (kelas 1) 16 Jutaan, di cover BPJS 12jutaan dan sisanya yg 4 jutaan kami reimbursement ke Mandiri In Health.

      Makasih ya mom sudah berkunjung di mari, sehat terus mom dan keluarga :-)

      Hapus
    3. Mba waktu sebelum lahiran kan ga pake bpjs , pas sesar pakai bpjs itu pakai rujukan faskes 1 lagi ga ? Atau gmna ya

      Hapus
    4. iya benar, saat periksa kehamilan dr 0 bulan sampe masuk bln 9 saya menggunakan Asuransi pendamping misua bekerja, Mandiri In Health, dan Alhamdulillah saat lahiran sesar saya bisa menggunakan BPJS, karena sebelumnya saya memang punya riwayat obstetri buruk (anak pertama meninggal) dan saat lahiran ini sudah pecah ketuban dulu, mungkin pihak rs menilai ini urgent, dan Alhamdulillah saya tidak ke faskes 1, tapi memang harus naik kelas bila menggunakan bpjs di rsbk (pengalaman saya ya). Makasih banyak sudah berkunjung dan maaf telat merespon :-)

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer