Langsung ke konten utama

Bayang - Bayang Masa Lalu jangan sampai Terlalu :-)

"Kenapa Allah ijinkan anaknya hidup sedangkan anakku nggak"
"Kenapa Allah gak menukar satuuuu saja nyawa anak - anak atau bayi - bayi yang tidak diinginkan oleh orang tuanya dengan nyawa anakku?"

Dan sembari diiringi buliran airmata saya sambungkan kenapa - kenapa diatas dengan rangkaian kenapa - kenapa lainnya..., saat memori kanggeeenn banget dengan Zano datang. Secara teori saya tau apa yang saya lakukan #meratapi Takdir adalah hal yang sungguh keliru. Tapi seorang hamba sering banget Tahu bukan Paham, dan itulah saya. Bila sedang ingat dengan Alm. anak saya, Zano, seharian itu bisa jadi hari paling deres air mata, pun kejadian yang lumrah kok ya tetep aja membuat saya mewek wek wek...

Saya paling nggak bisa kontrol saat mendengar tangisan bayi yang baru lahir, gak tau langsung aja mata ini "ngembeng" berkaca - kaca, dan akhirnya tumpahlah airmata yang sedianya dicoba ditahan - tahanin supaya gak jatuh atau rembes #eh?. Bila bersinggungan soal per-bayi-an yang lainnya masih bisa saya kontrol walau sering juga akhirnya saya menangis dan kadang sesenggukan sendiri, tapi kalau yang saya dengar adalah tangisan bayi yang belum lama lahir saya pasti langsung teringat Zano dan gak bisa gak menahan air mata ini. Kenapa? karena tangisan Zano adalah yang tidak pernah saya dengar seumur hidup saya, yang langsung hilang dan saya gak punya-i saat saya melahirkan dia. Zano lahir sudah diam, tanpa ekspresi apapun. Itulah kenapa bila ada bayi menangis atau pokoknya tangisannya itu seperti baby newborn saya pasti mewek karena saya gak pernah miliki suara tangisannya Zano...

Tak ada yang terjadi tanpa ijin Allah, bahkan debu yang bisa bikin mata kita kelilipan. Bila sekecil itu saja Allah urus, apalagi makhluk atau ciptaan-Nya yang lebih besar dari itu to? pasti gak mungkin luput atau absen dari pengetahuan-Nya.

"Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu" - At Taghabun ayat 11

Bila mengikuti "logika" kita sebagai manusia sungguh gak ada nyambung - nyambungnya dengan Kuasa Allah. Allah maunya begini tapi seringnya kita begitu, dan bila sudah terjadi begitu kita doyan "berandai - andai" lupa ada Allah yang sudah berkehendak demikian. Benarlah, bahwa hanya yang bener - bener beriman yang Allah beri petunjuk berupa perasaan "menerima" bahwa ini dunia dan ada punah-nya loh, apapun itu. Pernak - pernik dunia salah satunya dengan musibah, dan itulah salah satu jalan mendapatkan selamat sampai akhirat!.

Jadi paham deh, kenapa mereka - mereka yang berilmu "Allah tinggikan beberapa derajat". Saya memahaminya adalah agar kita "berpikir" tentang bagaimana menyikapi hidup ini dengan iman, dengan Ilmu kita terus memperbarui Iman. Belibet yah bahasanya?. Masalah yang manusia hadapi dan Allah ijinkan terjadi itu dinamis. Dinamis disini adalah ragamnya banyak namun selalu ada kesamaan sebagai pembanding. Duuuhhh saya juga bingung njelasinnya #lebay. Saat kita dihadapkan dengan masalah orang tua yang gak se-ideal yang kita mau misalnya, justru Nabi Ibrahim sudah lebih dulu Allah beri ujian lewat bapaknya yang tidak beriman kepada Allah. Kalau kita diuji dengan pasangan yang misalnya "kurang tekun" dan khusyu' dalam ibadah kepada Allah, bukankah Siti Asiyah justru lebih dulu Allah beri suami yang super duper galak #Fir'aun yang gak ada tandingannya dibanding suami kita - kita ini? #kita-kita?. Dan itu pula yang membuat saya menoleh kedepan lagi saat mengingat yang lalu, utamanya kini saat mengingat Zano. Bukankah Rasulullah juga pernah kehilangan semua anak laki - lakinya? bukan satu tapi tiga. Kalau dipikir - pikir kurang khusyu' apa Rasululullah itu dalam ibadah? bukankah Rasulullah lebih utama dalam hal beriman kepada Allah, bukankah beliau adalah pembuka pintu syurga? namun semua yang Rasulullah miliki dengan Tauhid beliau yang sempurna tidak menjadikan beliau lenggang kangkung hidup tanpa ujian.

Well, sedianya masa lalu yang tiap - tiap kita punya bukanlah perkara yang kita terus ratapi, sekali dua kali, sehari dua hari bolehlah sebagai pribadi yang hanya seorang manusia biasa (jiiiaahhh... saya enak bangets ngomongnya...), namun kalau akhirnya jadi celah berbuat negatif selanjutnya inlah yang harus segera di-setop-i #ditebas #dibuang #dibabat #dibantai sikap jelek itu.

Masa lalu, entah baik atau buruk, manis atau pahit, asem atau asin dan rasa - rasa kehidupan lainnya adalah salah satu Sunnatullah. Dulu, bahkan sekarang saya sendiri masih suka kecantol balik lagi ke masa lalu itu. Ironisnya bukan menjadikan sebagai salah satu pelajaran tapi justru menjadi ajang berandai - andai (coba dulu begini dan begitu dst...) dan membuat hal yang malah bikin sedihnya berulang. Ujung - ujungnya balik kepada Allah tetapi dalam rangka menyalahi Takdir yang sudah Allah tetapkan, bukan panen hikmah dan wujud baik sangka pada-Nya dalam segala kondisi. Sehingga airmata yang keluar bukan bentuk "say sorry" atau ber-istighfar kepada Allah tapi bentuk dari sedih "kenapa ini menimpa saya sih?". Hah? siapa saya? saya rasa saya-lah yang tidak sehat!, imannya tipis, dosanya banyak, tapi maunya ujiannya dikit dan jangan berat2. Kalo Bapak.nya para Nabi aja ujiannya sampai dicoba dibakar... duuuh plis deh ngapain nanya saya kok berat banget ujiannya... situ waraskah? (ini maksudnya saya😊)

Disinilah syaithan bermain, coba mengutak - atik iman kita melalui masa lalu, yang enak apalagi yang gak enak. Bila diperhatikan dengan seksama yang gak perlu tempo lama, ada loh deretan manusia yang cuman soal masa lalu jadi tidak hidup hari ini, sayang yah?. Tak usahlah jauh - jauh, bila sudah teringat Alm. Zano, anak saya itu, maka seketika semua yang Allah masih beri untuk saya menjadi hingga detik ini jadi nol gede, Astagfirullah... Saya lantas jadi lupa bahwa Allah masih beri saya suami yang hidup lagi sehat, Mama saya yang masih kuat, saudara - saudara saya yang masih perduli, tetangga, dan rekan kerja yang masih enak buat diajak ngobrol atau ditemani, dan seterusnya yang bila Allah kesel lantas Dia ambil sesukanya atau satuuuu aja ni'matnya itu, saya pun sedih bertubi - tubi. Bahkan hingga hal terkecil jadi lupa kita syukuri, misalnya masih bisa nyuci piring dan baju dengan air yang lancar mengalir dibanding mereka - mereka yang masih satu NKRI tapi sulit banget mendapatkan air bersih.

Lain kasus, ada seorang rekan yang sering melihat ke belakang atau meng-compare masa lalu dengan yang saat ini sedang ia hadapi, akhirnya belum menikah karena terlambat bangun membenahi diri. Ya memang..., jodoh adalah mutlak Allah yang menetapkan, tapi harus selalu ingat Sunatullah yang lain bahwa Allah juga menghendaki kita berupaya.

Saya suka aneh terhadap diri sendiri dan semakin mengerti kenapa manusia itu bersifat keluh kesah (termasuk saya loh yah), ya karena selalu saja ada celah kita "mengomentari" apa yang kita terima dengan "rasa yang gak enak". Saat lagi puasa ngeliat air putih tuh kaya'nya udah eennnaaakk banget..., tapi begitu sedang tidak puasa..., hah? air putih? kok kurang greget yah?. Kepergian Zano dalam kehidupan kami membuat saya berpikir... mungkin ini cara Allah supaya saya sadar diri dan next tidak mengeluh lagi capek-nya menjadi seorang ibu dan seharusnya ada bangga disana karena saya wanita sempurna, Alhamdulillah. Heeiii bukankah gak hanya ibu - ibu saja yang capek? bukankah Allah sudah mengatakan memang manusia itu diciptakan dalam kondisi kepayahan, gak semuanya senang tapi gak melulu sedih?

Melihat apa yang terjadi dengan saudara - saudara muslim Rohingya misalnya..., masa' mensyukuri betapa freedom-nya kita dalam beriman saat sudah melihat tayangan dan berita tentang Rohingya yah?. Btw, suuueebbbeeell banget melihat mereka - mereka yang muslim menjadi korban tetapi pelakunya kok ya gak dicap perusak kemanusiaan sih? namun begitu pelakunya muslim? jangan dikata deh... langsung semenit dua menit jadi timeline all over the wolrd that muslim or islam's terrorist, kalau seperti Rohingnya itu namanya apa coba?. Memang saya baru sebatas caci maki, tak ada upaya lain selain doa untuk saudara - saudara kita yang masih Allah belum lapangkan kebebasannya menegakkan agama Allah. Di lain sisi, muslim lain yang freedom menjalankan iman dan ibadah kepada Allah masih belum memaksimalkan ni'mat-Nya, bahkan perkara penerimaan takdir buruk saja masih belum legowo diterima (ngomongin saya lagi nih...)

Moga Allah segerakan pertolongan bagi saudara - saudara kita semua yang belum seberuntung kita dalam menikmati kemerdekaan dalam beriman kepada Allah, dan kita yang sudah Allah ijinkan dalam Iman yang tidak dikekang sekitar, mampu memberdayakan iman agar terus naik dan naik lagi serta menjadi penolong sesama, juga gak lagi pusing memikirkan "kenapanya" masa lalu yang begini begitu tetapi tetap menjadikannya pelajaran bahwa Allah itu selalu menginginkan Yang Terbaik bagi hamba - hambaNya, bahkan yang masih dalam lilitan dosa agar kembali ke jalan lurus-Nya, Aamiin Yaa Mujibas Saailliin

Mohon maaf atas ke-lebay-an atau ke-alay-an yang mungkin saja tertulis diatas :-)

Wassalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh

Sumber Gambar : https://www.pinterest.com/pin/422212533787593850/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Persiapan Persalinan - Estimasi Biaya Bersalin @RSIA Budi Kemuliaan

Alhamdulillah ala kulli hal, sambil menunggu debay launching, kali ini saya mau share sedikit soal estimasi biaya persalinan yang saya dapat dari RSIA Budi Kemuliaan, RS yang selama ini saya jadikan tempat pemeriksaan anak kedua saya dan Insya Allah tempat bersalin debay nanti. Ini penampakan price list-nya...
Dulu saya bingung kok gak ada keterangan kelas - kelasnya yah...? ternyata langsung dengan namanya dan dalam lembar info harga itu pake acara disingkat - singkat lagi nama kamarnya #EtaTerangkanlah. Berhubung saya gak enak kan nanya - nanya banyak, jadi saya langsung aja tanya kelas I itu yang mana karena jatah dari kantor misua lewat asuransi Mandiri In Health saya dapat kelas I. Awalnya saya tanya kelas dua yang mana daftar harganya, karena saya gak ngeh kalau kartu Mandiri In Health saya ternyata adalah Kelas I (Haduuuhhh.... kartu yang saban hari mengisi dompet aja gak apal kelas kamar-nya... qiqiqiqi....) Informan mbak suster bilang kalo kelas II yang ini (sambil menunjuk …

Periksa Kehamilan di RSIA Budi Kemuliaan (Bulan Kedua)

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh..., Alhamdulillah baik saya maupun anda masih Allah perkenankan usia yang mudah2an tetap dalam berkah dari-Nya, Aamiin Yaa Fattaah. Sholawat dan salam terus kita panjatkan kepada manusia terbaik yang sudah pasti masuk Jannah-Nya, Rasululullah Shallallahu’alaihi Wasallam beserta keluarga, kerabatnya, para sahabat, dan siapapun yang mengkuti sunnah beliau hingga akhir massa nanti, Aamiin Yaa 'Azhiim.

Minggu ini Insya Allah, Sabtu 20 Mei 2017 saya akan bertolak (#weeeekkk...) ke RSIA Budi Kemuliaan (BK) karena jadwal cek rutin bulanan kehamilan saya yang memasuki bulan ke 3, buuutttt... saat ini saya gak lagi mau ngomongin bulan ke-3-nya (ya iyalah cuy ini aja baru tanggal 17 Mei.... begimana ente?!) akan tetapi mau orat - oret menulis soal cek kehamilan saya bulan ke-2 lalu hehehe #telat mposting-nya :-D.
Bulan kedua saya cek pada tanggal 22 April 2017. Tiba di BK sudah mendekati pukul 2 alias injury time karena dr. Flora jadwal yang siang…

Periksa Kehamilan di RSIA Budi Kemuliaan (Bulan Pertama)

Assalamualaikum sobat, Alhamdulillah Allah masih saja menumpahkan kasih sayang-Nya yang hingga kini baik saya maupun anda dalam ukuran terbaik menurut-Nya :-)

Kali ini mau sharing tentang biaya periksa kehamilan di RSIA Budi Kemuliaan, barangkali aja informasi ini turut membantu para moms yang saat ini mencari - cari referensi RSIA atau menjadikan RSIA Budi Kemuliaan sebagai pilihan untuk periksa kehamilan hingga persalinan nanti.

Tanggal 25 Maret 2017 lalu Alhamdulillah saya dipastikan positif hamil oleh dr. Spog bernama Dokter Flora yang bertugas di RSIA Budi Kemuliaan, walau seminggu lebih sebelumnya saya pun sudah mengetahui bahwa "mungkin" saya hamil karena testpack menunjukkan garis 2 merah, tapi berhubung saya berpedoman kalo belum ada bukti otentik lewat USG masih belum PD bilang "Yes I Am, Alhamdulillah I'm pregnant", meski saya yakin banget, karena pengalaman di kehamilan yang pertama dan selama ini siklus saya tidak pernah mundur/lambat kecuali hami…